Festival yang Menjadikan Maestro Sebagai Pusat Ingatan Kolektif
Festival pembukaan Bulfest 2026 di Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, pada 18 Agustus 2026 adalah peristiwa ketika tiga maestro tari Buleleng, tiga tari klasik warisan, dan satu ruang publik menyatu untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif, menegaskan bahwa pelestarian tari tradisional tidak cukup dengan arsip dan dokumentasi, melainkan membutuhkan tubuh-tubuh yang terus bergerak melintasi generasi. Di sinilah inti acara: bukan sekadar panggung hiburan, melainkan pernyataan politik budaya bahwa maestro tari Buleleng layak ditempatkan di pusat narasi perkembangan seni lokal. Ketika Gubernur Bali Wayan Koster menyerahkan piagam penghargaan kepada Ni Luh Sustiawati, Luh Herawati, dan Ni Luh Menek, yang dihormati bukan hanya nama, melainkan puluhan tahun ketekunan mereka menjaga napas tari Buleleng. Penghormatan di awal festival membuat Bulfest 2026 terasa seperti upacara pembacaan kembali sejarah, bukan sekadar pembukaan perhelatan tahunan.

Sunia Campuhan Parisuda: Ketika Tiga Tari Klasik Berjumpa
Pementasan massal “Sunia Campuhan Parisuda” menjadi titik paling kuat dalam pembukaan Bulfest 2026 karena menjadikan tiga karya tari klasik warisan—Trunajaya, Wiranjaya, dan Palawakya—sebagai satu narasi tentang penyucian dan kejernihan pikir. Ketiganya bukan karya sembarang koreografer: Trunajaya milik Gde Manik, Wiranjaya ciptaan I Ketut Merdana, dan Palawakya karya I Wayan Paraupan alias Pan Wandres. Saat tiga tarian ini dirangkai pada satu panggung, penonton menyaksikan pertemuan masa lalu dan masa kini, di mana gerak-geri tradisi dipengaruhi pengalaman puluhan tahun para maestro dan antusiasme generasi muda yang ikut menari. Praja Mandala Singa Ambara Raja menjadi ruang pertemuan lintas generasi, ketika orang tua mengenali kembali warisan yang akrab, dan anak muda baru pertama kali merasakannya langsung di ruang publik. Bulfest dalam momen ini menolak pandangan bahwa tari klasik sekadar memorabilia; ia ditampilkan sebagai bahasa aktual yang masih relevan untuk membaca batin masyarakat.
Tubuh Tua di Panggung: Pelajaran tentang Ketekunan dan Warisan
Sisi paling menyentuh dari pembukaan Bulfest bukan tata panggung atau gemerlap lampu, melainkan tubuh-tubuh yang tidak lagi muda menari tanpa kehilangan karakter. Ni Luh Sustiawati, maestro Tari Wiranjaya, dan Ni Luh Herawati, maestro Tari Trunajaya, kembali ke panggung bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menunjukkan bahwa usia tidak memutus hubungan dengan tari klasik warisan yang mereka bawa. Kerutan di wajah, gerak yang sedikit melambat, dan tatapan yang tetap tajam membuat setiap lengkung tangan terasa seperti kalimat panjang tentang ketekunan. Di sisi lain panggung, Luh Menek, maestro Tari Palawakya, hadir dalam kondisi sakit sehingga tidak dapat menari, tetapi kehadirannya mengingatkan bahwa pelestarian tari tradisional berlangsung juga di ruang kecil: di rumahnya di Tejakula, ia masih melatih penari, sementara sakit memaksanya menyerahkan latihan kepada murid. Di sini Bulfest memperlihatkan bahwa maestro bukan ikon beku, melainkan guru yang terus mengalirkan pengetahuan meski fisik melemah.
Kegelisahan Luh Menek dan Tanggung Jawab Regenerasi
Di balik suasana perayaan, ada kegelisahan yang tak boleh diabaikan. Luh Menek memuji perkembangan seni tari yang “mungkin hebat sekali”, tetapi ia khawatir banyak karya baru hidup sebentar: diciptakan, dipentaskan, lalu pelan-pelan dilupakan. “Mungkin karena tarian sekarang setelah pentas pertama itu dilupakan. Harusnya kan terus ditarikan,” ucapnya, mengingatkan bahwa pelestarian tari tradisional menuntut keberlanjutan, bukan sekadar produksi karya baru. Kegelisahan ini bergema dengan ajakan Wayan Koster kepada generasi muda Buleleng untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut berkarya dan mengambil bagian menjaga budaya daerah. Regenerasi seniman disebutnya harus terus dilakukan agar seni dan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman. Penghargaan kepada tiga maestro tari Buleleng pada Bulfest 2026 jadi peringatan keras: tanpa kesinambungan penari muda yang mau belajar langsung dari maestro, tari klasik warisan akan kehilangan tubuh untuk tinggal.
Bulfest sebagai Ruang Hidup Budaya dan Ekonomi Kreatif
Bupati I Nyoman Sutjidra menegaskan Bulfest 2026 tidak dirancang sekadar sebagai perhelatan seni tahunan; festival ini adalah ruang menghidupkan ingatan, identitas, dan rasa memiliki masyarakat terhadap kebudayaan Buleleng. Tema “Uriping Rasa” menyiratkan keyakinan bahwa budaya tetap hidup selama rasa hormat kepada leluhur, cinta tanah kelahiran, dan tanggung jawab mewariskan nilai luhur terus dijaga. Selama enam hari hingga 23 Agustus, Bulfest dirancang menjadi ekosistem yang menghubungkan panggung seni, UMKM, kerajinan, kuliner, dan ekonomi kreatif. Menurut Koster, keterlibatan UMKM dalam kegiatan kebudayaan membuat seni dan budaya berjalan seiring penguatan ekonomi kerakyatan. Namun inti kekuatan Bulfest justru pada keberaniannya menjadikan maestro tari Buleleng sebagai wajah festival. Di tengah deretan stan dan pertunjukan, penghormatan dan pementasan tari klasik warisan mengingatkan semua pihak—pemerintah, pelaku UMKM, penonton, seniman muda—bahwa tanpa tubuh para penjaga tradisi, seluruh ekonomi kreatif kehilangan akar.






