Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Posyandu Meluas: Enam Layanan Dasar dalam Satu Pintu

Posyandu Meluas: Enam Layanan Dasar dalam Satu Pintu
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Dari layanan ibu dan anak menjadi pintu layanan dasar

Posyandu adalah wadah pelayanan masyarakat di tingkat lokal yang menghubungkan warga dengan layanan dasar, dari kesehatan hingga kebutuhan sosial, melalui dukungan kader dan pemerintah. Perubahan cakupan ini penting karena kebutuhan keluarga tidak berhenti pada penimbangan bayi atau pemeriksaan ibu hamil. Di Kota Tangerang, pemerintah memperluas layanan 1.106 posyandu di 13 kecamatan dengan mengintegrasikan enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM). Bidangnya meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan sosial. Artinya, posyandu berpotensi menjadi pintu awal bagi warga untuk menemukan bantuan yang sesuai, bukan sekadar tempat datang pada jadwal layanan kesehatan. Namun, manfaat itu bergantung pada apakah kebutuhan yang ditemukan benar-benar ditindaklanjuti oleh instansi terkait.

Perluasan juga mengubah siapa yang dilayani. Posyandu dapat menjangkau bayi dan balita, ibu hamil, hingga lansia. Dalam bidang kesehatan, pemantauan rutin membantu menemukan lebih dini persoalan seperti gangguan pertumbuhan, risiko stunting, masalah gizi, dan penyakit tidak menular. Nilai tambahnya bukan berarti posyandu menggantikan layanan khusus, melainkan membuat warga lebih mudah memperoleh arahan dan akses awal. Dengan satu titik yang dekat dengan lingkungan, keluarga dapat menyampaikan kebutuhan sebelum masalah berkembang. Agar janji “satu pintu” terasa nyata, jalur rujukan dan respons lintas perangkat daerah harus sama jelasnya dengan jadwal kegiatan posyandu.

Kader harus siap menjadi penghubung, bukan sekadar pelaksana

Cakupan yang bertambah akan membebani kader bila pelatihan, panduan, dan dukungan pemerintah tidak ikut berkembang. Tugas mereka kini bukan hanya membantu pelayanan kesehatan rutin, tetapi juga mencatat kebutuhan warga dan menghubungkannya dengan perangkat daerah yang tepat. Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, menegaskan bahwa kader perlu berperan sebagai edukator, motivator, sekaligus fasilitator masyarakat. Itu tuntutan kompetensi yang lebih luas daripada pengalaman di meja layanan kesehatan.

Penguatan kemampuan kader karena itu harus menjadi bagian inti penerapan enam bidang SPM, bukan pelengkap setelah program diluncurkan. Pada 27 Oktober 2026, Putri membuka bimbingan teknis di Denpasar yang diikuti 111 kader dari Kabupaten Buleleng. Pelatihan tiga hari, hingga 29 Oktober, dirancang untuk menambah pengetahuan teknis mengenai enam bidang dan memperbaiki koordinasi dengan pemerintah desa. Di Kota Tangerang, Dinas Kesehatan dan Tim Pembina Posyandu juga mendorong pembinaan, pemantauan penerapan, serta evaluasi kesiapan posyandu. Langkah ini tepat, tetapi ukuran keberhasilan seharusnya bukan jumlah kader yang mengikuti pelatihan saja. Kader perlu memiliki batas tugas yang jelas, saluran eskalasi yang berfungsi, dan dukungan agar pendataan kebutuhan warga tidak berubah menjadi beban administrasi tanpa hasil.

Maros mulai bergerak, ujian sesungguhnya ada pada pelaksanaan

Perubahan fungsi ini mulai diterapkan pula di Maros. Pemerintah kabupaten menargetkan 29 posyandu menjalankan konsep baru pada tahun ini, dengan dasar kebijakan Permendagri Nomor 13 Tahun 2024. Dalam kegiatan penguatan kelembagaan di Maros pada 29 Oktober 2026, anggota DPR RI Taufan Pawe menyebut posyandu era baru perlu mengambil bagian dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Cakupannya meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, sosial, ketenteraman dan ketertiban umum, serta perumahan rakyat; kader diharapkan menyampaikan persoalan warga kepada pemerintah desa atau organisasi perangkat daerah.

Posyandu Maros menunjukkan bahwa transformasi ini bukan hanya rencana di Tangerang atau materi pelatihan di Bali. Namun, jumlah sasaran dan peluncuran konsep belum membuktikan layanan sudah bekerja. Pemerintah daerah perlu memastikan setiap temuan warga memiliki tujuan tindak lanjut, sementara kader mendapat pembekalan sesuai tugas dan tidak diminta menggantikan tenaga ahli. Warga pun perlu mengetahui layanan apa yang tersedia dan ke mana harus mengajukan kebutuhan. Jika koordinasi dan evaluasi berjalan, enam bidang SPM dapat membuat pelayanan dasar lebih dekat dan tanggap. Jika tidak, posyandu berisiko menanggung daftar fungsi panjang tanpa kuasa untuk menyelesaikannya. Perluasan layak didukung, tetapi keberhasilannya harus dinilai dari persoalan warga yang benar-benar ditangani.

Posyandu Meluas: Enam Layanan Dasar dalam Satu Pintu

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!