Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kampus Turun Gunung: Tim Psikososial dan Kesehatan Lapangan untuk Korban Gempa

Kampus Turun Gunung: Tim Psikososial dan Kesehatan Lapangan untuk Korban Gempa
Minat|Kesehatan Mental

Pendampingan Psikososial Bencana: Bukan Tambahan, Tapi Kebutuhan Pokok

Pendampingan psikososial bencana adalah serangkaian layanan dukungan emosional, sosial, dan mental yang terstruktur untuk membantu korban mengelola stres, trauma, dan perubahan drastis dalam hidup setelah bencana, sekaligus menghubungkan mereka dengan layanan kesehatan lapangan, pendidikan darurat, serta jejaring komunitas agar proses pemulihan tidak hanya menyentuh luka fisik, tetapi juga luka psikologis yang tidak terlihat. Di tengah maraknya bencana, peran kampus dalam pendampingan psikososial bencana sering diremehkan, padahal mereka memiliki kombinasi pengetahuan, tenaga muda, dan jaringan yang sulit disaingi. Universitas Negeri Malang (UM) mengirim tim relawan kemanusiaan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan misi pendampingan psikososial, pelayanan kesehatan, dan pendataan tingkat kerusakan di wilayah terdampak. Inisiatif ini menandai perubahan penting: kampus tidak lagi sebatas ruang akademik, tetapi aktor langsung dalam dukungan psikologis pasca-bencana dan layanan kesehatan lapangan.

Kampus Turun Gunung: Tim Psikososial dan Kesehatan Lapangan untuk Korban Gempa

UM: Sepuluh Relawan, Tiga Misi, Satu Pesan Kemanusiaan

UM memberangkatkan tim tahap pertama yang terdiri dari 10 relawan—sembilan mahasiswa dari berbagai fakultas dan seorang dokter—disertai tiga pengemudi ke NTT. Ini bukan angka kecil jika melihat tugas yang mereka emban: pendampingan psikososial bencana, layanan kesehatan lapangan, dan rapid assessment damage atau pendataan cepat tingkat kerusakan. Rektor menegaskan bahwa pengerahan relawan adalah bentuk respons kemanusiaan kampus terhadap kondisi warga terdampak gempa. Kutipan penting dari pihak universitas menyatakan bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti pada logistik; pemulihan psikologis dan kesehatan adalah bagian yang harus segera ditangani. UM bahkan menyiapkan tim lanjutan yang diberangkatkan dua hari kemudian untuk memperkuat layanan kesehatan dan pendampingan warga. Pesannya jelas: pendekatan parsial tidak cukup, korban berhak atas pemulihan yang menyeluruh—fisik, mental, dan sosial.

Kampus Turun Gunung: Tim Psikososial dan Kesehatan Lapangan untuk Korban Gempa

Jalur Longsor ke Manggarai Timur: Ketika Empati Menempuh 10 Jam Perjalanan

Di atas kertas, pendampingan psikososial bencana terdengar konseptual; di lapangan, ia berarti menembus jalur longsor untuk sampai ke korban. Tim Relawan UM menuju Kabupaten Manggarai Timur dengan perjalanan darat sekitar 10 jam dari Ende, melewati sejumlah jalan yang terdampak longsor dan tertutup material tanah sehingga kendaraan harus bergerak perlahan dan sangat hati-hati. Perjalanan dilakukan hingga malam dengan medan berat, namun semangat relawan tidak surut karena setiap kilometer mendekatkan mereka pada warga yang menunggu dukungan kesehatan dan psikososial. Setibanya di Manggarai Timur, mereka berkordinasi dengan Health Emergency Operation Center (HEOC) dan melanjutkan tugas di Posko Kolaborasi dekat Puskesmas Watunggong. Di sana, layanan kesehatan lapangan dijalankan berdampingan dengan dukungan psikologis pasca-bencana, menghadirkan ruang aman bagi warga untuk bercerita dan memulai proses bangkit dari pengalaman traumatis.

Unesa: Layanan Kesehatan, Dukungan Psikososial, dan Sekolah Darurat

Tidak berhenti pada UM, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) juga mengirim tim khusus untuk membantu korban gempa di NTT, dengan pos utama di Kabupaten Manggarai. Mereka membawa empat fokus program: layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, dukungan psikososial untuk pemulihan mental, penyelenggaraan sekolah darurat bencana, serta dukungan logistik dan bantuan kemanusiaan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa trauma healing korban gempa tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan pendidikan dan kesehatan dasar. Tim Unesa merupakan kolaborasi lintas unsur—Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, unit mitigasi krisis, dan lembaga pengabdian masyarakat—serta bermitra dengan perguruan tinggi setempat agar bantuan sesuai kebutuhan di lapangan. Selama di lokasi, mereka melatih guru agar mampu melakukan pendampingan berkelanjutan pada anak-anak selama masa pemulihan dan berjanji memonitor sekolah darurat secara daring setelah tim kembali. Sekolah tidak boleh berhenti; itu pesan tegas yang sekaligus menempatkan pendidikan sebagai bagian inti dukungan psikologis pasca-bencana.

Kampus Turun Gunung: Tim Psikososial dan Kesehatan Lapangan untuk Korban Gempa

Pendekatan Holistik: Dari Luka Fisik hingga Luka yang Tak Terlihat

Jika dulu respons bencana identik dengan tenda dan paket sembako, kini kita menyaksikan pergeseran penting: layanan kesehatan lapangan dan dukungan psikososial berjalan beriringan. Relawan UM menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak berhenti saat kondisi fisik pulih, karena bencana meninggalkan luka yang tidak terlihat dalam bentuk ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian. Karena itu, dukungan psikososial menjadi bagian penting misi mereka, bukan pelengkap, dengan menghadirkan ruang aman bagi warga untuk bercerita dan mendapatkan pendampingan sambil menerima layanan kesehatan. Di sisi lain, Unesa menempatkan layanan kesehatan dan dukungan psikososial sebagai dua fokus utama, didukung sekolah darurat bencana yang menjamin anak tetap belajar meski di pengungsian. Ini adalah contoh pendekatan holistik: trauma healing korban gempa tidak bisa dipisahkan dari relawan kesehatan mental, dokter lapangan, dan guru yang bekerja bersama sebagai satu ekosistem pemulihan.

Saat Kampus Menjadi Garda Depan: Apa yang Harus Terjadi Setelahnya?

Keberangkatan tim UM dan Unesa ke NTT bukan sekadar respons sesaat terhadap gempa; ini sinyal bahwa kampus siap mengambil peran struktur dalam manajemen bencana. UM sudah merencanakan pengiriman tim lanjutan untuk memperkuat layanan kesehatan dan pendampingan di wilayah terdampak, sementara Unesa menegaskan bahwa program sekolah darurat dan pendampingan guru akan terus dimonitor secara daring setelah tim pulang. Artinya, dukungan psikologis pasca-bencana dipandang sebagai proses jangka panjang, bukan proyek singkat. Pertanyaannya sekarang: apakah model ini akan diadopsi lebih luas? Ketika universitas menunjukkan bahwa mereka mampu menggabungkan pendampingan psikososial bencana, layanan kesehatan lapangan, dan edukasi dalam satu paket terintegrasi, pemerintah daerah dan lembaga lain seharusnya tidak lagi melihat kampus sebagai mitra cadangan, tetapi sebagai pilar utama dalam sistem penanggulangan bencana modern.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!