Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kawasan Tematik Jakarta: Antara Demam Jepang-Korea dan Identitas Kota

Kawasan Tematik Jakarta: Antara Demam Jepang-Korea dan Identitas Kota
Minat|Jepang & Korea

Jakarta Menuju Kota Tema: Ambisi Global, Taruhan Identitas

Kawasan tematik Jakarta adalah konsep penataan empat kawasan ikonik—Blok M, Pasar Baru, Glodok, dan Kota Tua—dengan tema Jepang, Korea, Pecinan, dan Eropa yang terintegrasi transportasi publik, ruang pejalan kaki, serta fungsi komersial untuk mengerek pariwisata dan ekonomi lokal menjadi kelas internasional.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terang-terangan membidik status kota global dengan mengubah empat kawasan ini menjadi magnet wisata dan ruang publik yang lebih tertata. Blok M akan menjadi Blok M Jepang, Pasar Baru disulap ala Myeongdong Korea, Glodok dipertegas sebagai Pecinan, dan Kota Tua diberi nuansa Eropa. Ini bukan sekadar proyek estetika; ini strategi politik ruang: menjual citra kota modern yang ramah wisatawan, terutama generasi muda dan turis mancanegara, sambil menjanjikan perputaran ekonomi bagi pedagang lokal. Pertanyaannya: apakah demam Jepang-Korea ini akan memperkaya karakter Jakarta, atau justru mengaburkan wajah kota yang sudah penuh lapisan sejarah?

Blok M Jepang dan Pasar Baru Korea: Magnet Gen-Z atau Gentrifikasi Baru?

Blok M menjadi laboratorium pertama eksperimen kawasan tematik Jakarta. Melalui proyek Blok M Fase Ultimate, kawasan ini akan ditata dengan sentuhan ala Jepang dan konsep Transit-Oriented Development (TOD). Terminal dimodernisasi, kawasan Blok M–Sisingamangaraja dibenahi, akses pejalan kaki diperbaiki, dan ruang komersial serta ruang terbuka publik diperluas. Pemerintah berharap nuansa Jepang ini mendongkrak omzet pedagang dan menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Seorang pedagang, Mila, melihat peluang jelas: generasi Gen-Z yang gandrung budaya jejepangan dan kuliner tematik bisa menjadi pasar baru yang besar.

Pasar Baru menyusul dengan ambisi lebih besar: menjadi Pasar Baru Korea ala Myeongdong, pusat belanja dan kuliner 24 jam yang ramai anak muda. Gubernur Pramono Anung membayangkan lorong-lorong tua Pasar Baru berubah menjadi koridor kuliner malam yang tak pernah tidur. Di atas kertas, ini resep ampuh untuk pariwisata Jakarta: kombinasi nostalgia pasar lama dan sensasi K-pop street. Namun di lapangan, risiko gentrifikasi mengintai. Jika sewa melonjak dan pola usaha berubah, pedagang lama bisa tersingkir, dan kawasan yang tadinya hidup karena ekonomi rakyat berubah menjadi etalase konsumsi kelas menengah atas.

TOD, MRT, dan Logika Kota: Wisata Tanpa Mobil Pribadi

Kekuatan utama strategi kawasan tematik Jakarta bukan pada temanya, melainkan pada TOD—Transit-Oriented Development. Pramono Anung menegaskan pengembangan kawasan akan mengandalkan integrasi transportasi publik, ruang publik, dan kawasan komersial. Blok M dirancang sebagai kawasan berorientasi transit, dengan terminal yang dimodernisasi dan koneksi lebih baik ke moda lain. Di sisi lain, proyek MRT Jakarta Fase 2A sepanjang 5,8 kilometer dari Bundaran HI ke Kota, dengan tujuh stasiun bawah tanah—Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota—sudah mencapai 65,10 persen per 25 September 2026.

Logika TOD jelas: wisatawan dan warga bisa berpindah dari Blok M Jepang ke Pasar Baru Korea, lanjut ke Glodok dan Kota Tua, tanpa bergantung pada mobil pribadi. Stasiun Harmoni diproyeksikan menjadi penghubung ke Pasar Baru, sementara Kota Tua akan dikembangkan sebagai ruang ketiga dengan konsep placemaking—kombinasi ritel, komunitas, dan cagar budaya. Rencana pembatasan kendaraan pribadi dan kemungkinan kehadiran trem di Kota Tua mempertegas arah kota yang lebih ramah pejalan kaki. Jika TOD ini konsisten, kawasan tematik Jakarta berpotensi mengubah cara warga menikmati kota: bukan lagi sekadar tujuan belanja, tetapi rangkaian pengalaman urban yang terhubung dan lebih manusiawi.

Glodok dan Kota Tua: Antara Heritage, Turis Eropa, dan Ekonomi Lokal

Berbeda dengan Blok M Jepang dan Pasar Baru Korea, Glodok dan Kota Tua diposisikan sebagai jangkar sejarah. Glodok akan mempertahankan identitasnya sebagai Pecinan dengan kekayaan kuliner dan budaya Tionghoa, sementara Kota Tua diberi nuansa Eropa yang selaras dengan bangunan bersejarah di kawasan tersebut. Pemerintah menargetkan Kota Tua sebagai destinasi wisatawan mancanegara kelas menengah atas, terutama dari Eropa. Di sini, strategi pariwisata Jakarta terlihat lebih selektif: heritage bukan hanya dirawat, tetapi dikemas untuk segmen pasar tertentu.

PT MRT Jakarta merancang Kota Tua sebagai ruang ketiga dengan pendekatan placemaking: kualitas ruang publik, keterlibatan komunitas, dan optimalisasi bisnis lokal menjadi fokus. Revitalisasi direncanakan setelah MRT lintas Bundaran HI–Kota selesai, dengan perhatian pada kenyamanan pejalan kaki di permukaan dan bawah tanah. Rencana pembatasan kendaraan pribadi dan kemungkinan trem bolak-balik di dalam kawasan menunjukkan niat menjadikan Kota Tua sebagai laboratorium kota tanpa mobil. Namun keberhasilan konsep ini bergantung pada satu hal: apakah pelaku usaha kecil, komunitas seni, dan warga sekitar diberi ruang nyata, atau sekadar menjadi figuran di panggung wisata heritage yang dikurasi untuk turis berdaya beli tinggi.

Menimbang Masa Depan: Kota Global atau Taman Tema Raksasa?

Pengembangan kawasan tematik Jakarta jelas bukan proyek kecil; ini bagian dari peta jalan untuk masuk 20 besar kota global dunia pada 2045. Pemerintah berharap pariwisata Jakarta terdongkrak, pedagang lokal kecipratan rezeki, dan citra kota naik kelas. Warga seperti Rizky menyambut baik ide ini, selama akses dan kenyamanan pengunjung diperhatikan. Di atas kertas, TOD, MRT, dan penataan ruang publik memberi fondasi yang masuk akal bagi kota yang lebih terhubung dan ramah pejalan kaki.

Namun kota bukan taman tema. Tema Jepang, Korea, Pecinan, dan Eropa bisa menjadi pintu masuk wisata, tetapi tidak boleh mengerdilkan keragaman budaya lokal yang sudah ada. Kunci keberhasilan kawasan tematik Jakarta ada pada tiga hal: konsistensi TOD, perlindungan pedagang dan warga lama, serta keberanian memberi ruang pada identitas lokal, bukan hanya impor estetika luar. Jika tiga hal ini diabaikan, Jakarta berisiko berubah menjadi katalog tema global tanpa jiwa. Jika dijaga, kota ini berpeluang menunjukkan bahwa modernisasi dan pariwisata bisa berjalan seiring dengan ekonomi rakyat dan sejarah yang hidup.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!