Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Jakarta Menata 4 Kawasan Tematik ala Jepang, Korea, Pecinan, dan Eropa

Jakarta Menata 4 Kawasan Tematik ala Jepang, Korea, Pecinan, dan Eropa
Minat|Jepang & Korea

Transformasi Koridor MRT: Wisata Tematik atau Krisis Identitas?

Transformasi empat kawasan tematik Jakarta di koridor MRT adalah kebijakan penataan ruang yang menggabungkan konsep transit-oriented development dengan nuansa budaya Jepang, Korea, Pecinan, dan Eropa untuk menghidupkan kembali ruang publik, memperkuat pariwisata budaya Jakarta, serta mendorong ekonomi kreatif lokal melalui destinasi yang saling terhubung dan mudah diakses transportasi publik. Gubernur Pramono Anung mengumumkan rencana ini pada 12 Oktober 2026, menempatkan Blok M bernuansa Jepang, Pasar Baru bergaya Korea, Glodok sebagai Pecinan, dan Kota Tua berkonsep Eropa. Langkah ini jelas bukan sekadar penataan fisik; ini adalah upaya menjadikan koridor MRT selatan–utara sebagai etalase kota global. Namun, di balik ambisi itu, muncul pertanyaan: sejauh mana wajah baru ini masih mencerminkan Jakarta yang berakar pada sejarah Betawi dan Batavia?

Jakarta Menata 4 Kawasan Tematik ala Jepang, Korea, Pecinan, dan Eropa

Blok M Nuansa Jepang dan TOD: Mesin Baru Ekonomi Harian

Blok M nuansa Jepang adalah simbol paling terang dari orientasi baru Jakarta: kota yang ingin tampil modern, rapi, dan terintegrasi dengan TOD transportasi publik. Proyek Blok M Fase Ultimate mencakup modernisasi terminal, integrasi dengan moda lain, pembenahan koridor Blok M–Sisingamangaraja, dan peningkatan akses pejalan kaki. Di atas kertas, ini adalah resep klasik untuk menghidupkan ekonomi lokal: arsitektur yang lebih menarik, ruang terbuka publik, dan area komersial yang mengalir dari stasiun MRT ke kantong usaha kecil. Hingga 25 September 2026, pembangunan MRT Fase 2A sudah mencapai 65,10 persen, dengan jalur 5,8 kilometer dan tujuh stasiun bawah tanah dari Thamrin hingga Kota. Kutipan yang layak dicatat: “Blok M akan dikembangkan dengan sentuhan modern berorientasi Jepang,” kata Pramono Anung, menegaskan bahwa estetika asing dijadikan daya tarik utama, bukan sekadar ornamen.

Jakarta Menata 4 Kawasan Tematik ala Jepang, Korea, Pecinan, dan Eropa

Pasar Baru Bergaya Korea: Kuliner 24 Jam dan Risiko Gentrifikasi

Pasar Baru bergaya Korea dirancang menjadi Myeong-dong versi Jakarta: pusat kuliner 24 jam, ramai, dan terhubung langsung dengan MRT serta moda publik lain. Pramono membayangkan kawasan yang berdiri sejak 1820 itu berubah menjadi destinasi belanja dan jajanan malam yang tak pernah tidur, dengan deretan toko dan gerai makanan yang menarik anak muda. Secara ekonomi, konsep ini menjanjikan: jam operasional yang panjang berarti peluang kerja dan perputaran uang lebih besar, sementara integrasi transportasi publik memudahkan arus pengunjung tanpa bergantung kendaraan pribadi. Namun, ada risiko klasik TOD dan wisata malam: gentrifikasi yang menyingkirkan pedagang lama. Seorang warga, Sari (28), berharap penataan tidak membuat pedagang kehilangan nafkah dan kawasan tetap bersih serta nyaman. Jika Pasar Baru berubah terlalu jauh mengikuti fantasi Myeong-dong, ia bisa kehilangan karakter sejarahnya dan menjadi sekadar replika budaya populer Korea.

Jakarta Menata 4 Kawasan Tematik ala Jepang, Korea, Pecinan, dan Eropa

Glodok dan Kota Tua: Menguatkan Sejarah di Tengah Demam K-Pop dan J-Pop

Berbeda dari Blok M dan Pasar Baru, penataan Glodok dan Kota Tua berangkat dari akar sejarah yang sudah mapan: Pecinan dan Eropa. Glodok akan dipertahankan sebagai kawasan pecinan dengan kekayaan kuliner dan budaya Tionghoa, sementara Kota Tua dipoles menjadi kawasan bernuansa Eropa untuk segmen wisatawan middle-up, terutama dari Eropa. Di sini, konsep placemaking dan TOD transportasi publik digunakan untuk menjadikan Kota Tua sebagai “ruang ketiga”: bukan hanya cagar budaya, tetapi ruang hidup bagi komunitas, ritel, dan interaksi warga. Rencana trem, pembatasan kendaraan pribadi, dan integrasi dengan MRT menunjukkan keseriusan menjadikan pariwisata budaya Jakarta sebagai tulang punggung ekonomi lokal. Ironisnya, budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan justru menganggap penguatan Glodok dan Kota Tua wajar, tetapi mempertanyakan urgensi Jepang dan Korea: “Akar budaya dan sejarahnya sudah ada dan kuat sejak lima abad silam. Tapi Jepang dan Korea?”

Menjelang Lima Abad Jakarta: Antara Kota Global dan Rumah Betawi

Rencana kawasan tematik Jakarta ini muncul menjelang perayaan lima abad kota, sekaligus bagian dari peta jalan menuju 20 besar kota global dunia pada 2045. Ambisi global itu sah, apalagi pariwisata budaya Jakarta dan ekonomi kreatif butuh dorongan baru di tengah kompetisi kota-kota lain. Namun kritik budayawan Betawi menyingkap kegelisahan mendasar: mengapa perayaan lima abad tidak dimulai dari penguatan nuansa Betawi, Batavia, dan Jakarta, melainkan dari sentuhan Jepang dan Korea yang lebih ditopang tren K-Pop dan J-Pop ketimbang sejarah lokal? Rencana ini ditargetkan terwujud hingga 2030, seiring rampungnya MRT Fase 2A pada 2027–2029. Kesimpulannya, transformasi ini hanya akan adil jika TOD transportasi publik dan kawasan tematik tidak sekadar menjual fantasi kota global, tetapi memberi ruang nyata bagi pedagang lama, komunitas Betawi, dan ingatan sejarah yang membuat Jakarta berbeda dari kota mana pun.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!