Ledakan CCTV Berbasis AI: Kemajuan Cepat dengan Fondasi Rapuh
Ekspansi CCTV berbasis AI di kota-kota besar adalah tren pengawasan kota pintar yang menambah ribuan titik kamera dengan kemampuan analitik otomatis, mulai dari pengenalan plat nomor hingga integrasi data biometrik, namun sering kali tanpa diimbangi kesiapan integrasi pusat kendali dan manajemen data real-time yang memadai sehingga manfaat keamanan dan ketertiban di lapangan belum maksimal dirasakan warga. Makassar, Palembang, dan Balikpapan menampilkan pola yang mirip: investasi agresif pada hardware, ketertinggalan pada sistem. Di atas kertas, ini terlihat futuristik, tetapi di praktik harian risiko “kamera banyak, aksi sedikit” sangat nyata. Tanpa arsitektur infrastruktur keamanan terintegrasi yang jelas, kota pintar hanya menjadi kota penuh sensor yang bingung mengolah informasi.
Makassar: Jaringan Besar Tanpa Integrasi Penuh
Makassar mengklaim memiliki ribuan titik CCTV untuk pengawasan kota, namun pemerintah kota mengakui jaringan itu belum sepenuhnya terintegrasi ke satu pusat kendali terpadu. Konsekuensinya, potensi pengawasan kota pintar berubah menjadi mosaik layar yang bekerja terpisah, menyulitkan analisis cepat ketika insiden terjadi. Munafri menegaskan, sistem pengawasan berbasis CCTV diharapkan membantu kepolisian memantau keamanan dan merespons kejadian yang butuh penanganan cepat. Pernyataan ini justru menyoroti gap: harapan operasional sudah tinggi, tetapi fondasi teknis belum bulat. Upaya menambal kekurangan dilakukan dengan mendorong kolaborasi antara pemerintah kota, Polri, TNI, Satpol PP, penegak hukum, dan masyarakat sebagai mata serta telinga tambahan. Namun, tanpa integrasi pusat kendali yang kuat, kolaborasi sosial akan terus menutupi kelemahan teknis, bukan menggantikannya.
Palembang: AI dan Biometrik Ambisius, Sistem Belum Matang
Palembang mengambil langkah maju dengan mengalokasikan sekitar 70 titik CCTV berbasis AI untuk memantau titik rawan pencurian aset Penerangan Jalan Umum (PJU). Secara konsep, ini tepat: teknologi diarahkan ke problem konkret, yakni maraknya pencurian lampu jalan. Namun, fakta bahwa dari sekitar 31 titik CCTV yang dikelola Dinas Kominfo, 20 titik dihentikan sementara per 1 September 2026 untuk pemeliharaan dan upgrade sistem menunjukkan bahwa fondasi teknologi lama belum stabil ketika kota berlari ke arah AI. Dalam beberapa bulan ke depan, sistem akan ditingkatkan menggunakan AI dan diintegrasikan dengan data biometrik Disdukcapil untuk menganalisis wajah pelaku dan mengaitkannya dengan data alamat. Ini adalah lompatan besar menuju infrastruktur keamanan terintegrasi, tetapi juga membawa beban baru: kebutuhan standar privasi, pengamanan data, serta command center yang aktif 24 jam dengan trigger otomatis agar rekaman berubah menjadi tindakan nyata, bukan sekadar arsip digital.
Balikpapan: Contoh Integrasi Pusat Kendali yang Mulai Nyata
Balikpapan menawarkan kontras penting: sekitar 300 kamera CCTV aktif kini terintegrasi dengan pusat kendali B-Connect, dengan 167 kamera baru berbasis AI yang mengawasi pengendara. Ini bukan sekadar jaringan kamera; B-Connect sudah dipakai mengendalikan lalu lintas melalui integrasi dengan pengaturan lampu, sehingga siklus lampu dapat disesuaikan secara real-time ketika terjadi penumpukan kendaraan. Dinas Perhubungan memasang jenis kamera berbeda, dari Automatic Number Plate Recognition hingga kamera khusus deteksi parkir ilegal, di koridor dan persimpangan rawan pelanggaran. Di sini pengawasan kota pintar mulai terasa oleh warga: tayangan sejumlah CCTV bisa diakses melalui aplikasi B-Connect di ponsel untuk memeriksa kondisi lalu lintas sebelum perjalanan. Namun, bahkan kota yang relatif maju integrasinya ini masih terhambat: rekaman pelanggaran belum otomatis berujung tilang karena sistem harus terlebih dahulu terhubung dengan penegakan ETLE oleh kepolisian.
Hardware Melesat, Integrasi Tertatih: Apa yang Harus Dibenahi?
Melihat pola Makassar, Palembang, dan Balikpapan, satu kesimpulan muncul: ekspansi hardware CCTV berbasis AI melesat lebih cepat daripada kemampuan integrasi pusat kendali dan manajemen data real-time. Palembang menambah sekitar 70 CCTV AI di saat 20 dari 31 titik lama harus dimatikan sementara untuk diperbaiki. Balikpapan menargetkan jaringan berkembang menjadi 400–500 kamera, sementara kerja sama integrasi dengan sistem tilang ETLE masih berada di tahap persiapan. Jika tren ini dibiarkan, kota-kota akan menumpuk sensor mahal yang sekadar merekam masa lalu, alih-alih mengarahkan tindakan di lapangan seperti yang diharapkan warga dan diakui Dishub Balikpapan. Solusinya bukan mengerem teknologi, melainkan mengubah prioritas: setiap penambahan CCTV AI harus diikuti rencana jelas integrasi pusat kendali, SOP lintas instansi, serta perlindungan data. Kota pintar yang sehat adalah kota di mana kamera, command center, penegak hukum, dan warga terhubung dalam satu ekosistem keputusan, bukan dalam tumpukan kabel yang bekerja sendiri-sendiri.






