Latte Art: Bukan Sekadar Pola Cantik di Atas Kopi
Latte art adalah praktik menciptakan pola visual di permukaan minuman berbasis espresso dengan menggabungkan tekstur susu yang dikukus dan teknik menuang susu yang terkontrol, sehingga menghasilkan perpaduan rasa, aroma, dan tampilan yang konsisten sekaligus estetis. Di Glowstick Coffee & Eatery, definisi ini diuji langsung oleh 70 peserta yang mengikuti Brew & Craft: Latte Art Workshop, hasil kolaborasi Hotel Santika Premiere Gubeng Surabaya dan Javabica. Sejak awal, terasa jelas bahwa fokus utama bukan sekadar “menggambar” di atas kopi, melainkan memahami bagaimana setiap gerakan tangan memengaruhi hasil akhir. Workshop ini menegaskan satu hal: tanpa teknik menuang yang disiplin, pola secantik apa pun hanya akan menjadi kebetulan, bukan keterampilan yang bisa diulang.

70 Peserta, Satu Ruang: Belajar Teknik Latte Art dari Nol
Brew & Craft: Latte Art Workshop mengumpulkan 70 peserta dari berbagai kalangan—barista pemula, komunitas pecinta kopi, pelajar, hingga masyarakat umum yang penasaran dengan teknik latte art. Komposisi peserta yang beragam ini membuat suasana belajar terasa hidup: ada yang baru pertama kali memegang pitcher, ada pula yang sudah terbiasa di balik mesin espresso. Namun, semua dipertemukan oleh satu tujuan: menguasai seni menuang susu. Dengan instruktur dari Javabica, sesi dimulai dari pengenalan dasar-dasar espresso, lalu berlanjut ke pengukusan susu dan pengenalan bentuk-bentuk klasik seperti hati dan tulip. Pendekatan ini lebih dari sekadar workshop kopi profesional; ini adalah ruang latihan intensif di mana setiap peserta dipaksa keluar dari zona nyaman, mengulang gerakan yang sama sampai pola pertama mereka muncul dengan jelas di cangkir.
Seni Menuang Susu: Dari Steaming hingga Goresan Pertama
Bagian paling krusial dari sesi ini adalah latihan seni menuang susu. Peserta belajar mengukus (steaming) susu hingga mencapai tekstur microfoam yang tepat, lalu mempraktikkan cara menuangkannya untuk membentuk pola di permukaan kopi. Di sinilah banyak barista pemula menyadari bahwa kesalahan kecil—sudut pitcher, jarak dari permukaan, atau kecepatan tuang—langsung terlihat pada hasil latte art mereka. Pendekatan hands-on membuat teori berubah menjadi pengalaman nyata: setiap cangkir menjadi cermin kualitas teknik latte art yang baru mereka pelajari. Satu kalimat yang layak dikutip dari sesi ini adalah: “Peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga mendapat kesempatan mempraktikkan teknik dasar latte art secara langsung.” Tanpa latihan berulang, seni menuang susu hanya akan berhenti pada tataran konsep, bukan keterampilan.
Dari Estetika ke Pengalaman: Workshop sebagai Ruang Komunitas
Glowstick Coffee & Eatery bukan sekadar lokasi; ia menjadi panggung tempat kopi, komunitas, dan kreativitas bertemu. Suasana coffee shop yang nyaman membuat peserta bisa belajar sambil menikmati lingkungan yang akrab dengan keseharian mereka. Salah satu peserta, Devan Afriansyah, menyebut bahwa acara ini menarik karena bisa belajar latte art secara langsung dalam suasana santai dan bertemu sesama pecinta kopi. Dari sisi penyelenggara, tujuan utamanya jelas: membangun kedekatan dengan masyarakat melalui aktivitas gaya hidup yang relevan, tanpa membatasi hanya untuk barista profesional. Workshop ini membuktikan bahwa dunia kopi bukan ranah eksklusif; siapa pun yang ingin mencoba sesuatu yang baru berhak duduk di depan mesin espresso dan menuang susu ke cangkir pertama mereka.
Latte Art sebagai Perjalanan: Kesimpulan dari Brew & Craft
Brew & Craft: Latte Art Workshop menunjukkan bahwa perjalanan dari goresan pertama hingga latte art yang rapi bukan proses instan, melainkan hasil latihan terarah dan pengalaman bersama. Dengan 70 peserta yang belajar berdampingan, jelas terlihat bahwa teknik latte art tidak bisa dipisahkan dari kedisiplinan dan rasa ingin tahu. Workshop ini menegaskan bahwa seni menuang susu adalah pintu masuk ideal bagi barista pemula maupun penikmat kopi yang ingin memahami cangkir mereka lebih dalam. Pada akhirnya, nilai terbesar dari kegiatan ini bukan hanya pola yang terbentuk di permukaan latte, tetapi kepercayaan diri yang tumbuh di tangan-tangan yang memegang pitcher. Setiap cangkir menjadi bukti bahwa ketika komunitas diberi ruang untuk belajar, kopi berubah dari sekadar minuman menjadi pengalaman yang layak dibagikan.






