Belajar kopi dari cangkir sampai kebun
Pelatihan kopi adalah kegiatan belajar yang mengembangkan keterampilan pada berbagai tahap ekosistem kopi, mulai dari mengolah dan menyajikan minuman hingga merawat tanaman di kebun. Dua program yang berlangsung di Semarang dan Tangse memperlihatkan bahwa kebutuhan belajar berbeda sesuai peran pesertanya. Up Peak Hotel Simpang Lima Semarang dan Project Ruang Rasa menyiapkan Basic Latte Art Course Batch 3 pada Sabtu, 31 Oktober 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Sementara itu, Pusat Riset Kopi dan Kakao Aceh Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar pelatihan teknik budidaya kopi bagi petani Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, pada 24–25 Oktober 2026. Perbedaan sasaran ini bukan sekadar variasi acara: kelas penyajian memberi ruang untuk mengasah keterampilan barista, sedangkan pendampingan kebun menyentuh tantangan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Kursus latte art menitikberatkan praktik
Basic Latte Art Course Batch 3 dirancang bagi peserta yang ingin mempelajari seni menghias kopi. Materinya mencakup pengenalan latte art, praktik langsung menuang susu, serta eksplorasi beragam pola. Format seperti ini tepat untuk mereka yang ingin mengubah pengetahuan menjadi kemampuan tangan; memahami teori saja tidak cukup untuk menghasilkan tuangan yang terampil. Peserta juga memperoleh sertifikat dan makan siang.
Kelas tersebut melanjutkan rangkaian belajar yang sebelumnya mencakup Manual Brewing Course Vol. 4 pada 18 Oktober 2026. Pada kelas manual brewing, peserta mempelajari dasar penyeduhan dan mencoba meracik kopi secara mandiri. Rangkaian ini memberi pencinta kopi maupun calon barista kesempatan belajar dalam suasana komunitas. Namun, keterampilan menyajikan minuman tidak menjawab kebutuhan petani di hulu—dan di situlah pelatihan Tangse mengambil peran berbeda.

Pendampingan Robusta berangkat dari kebutuhan petani
Di Tangse, pelatihan budidaya kopi Robusta diikuti petani dari tiga gampong dan berlangsung selama dua hari, 24–25 Oktober 2026. Program Pusat Riset Kopi dan Kakao Aceh USK memadukan materi di kelas dengan praktik lapangan, sehingga teori dapat diuji dalam konteks kebun. Fokus ini penting karena produktivitas bukan perkara menyediakan bibit saja: pengetahuan tentang teknik budidaya dan pemeliharaan berkelanjutan ikut menentukan hasil.
Kepala pusat riset, Prof. Dr. Ir. Abubakar Karim, MS, menyebut pelatihan tersebut sebagai kegiatan rutin tahunan untuk mendukung perkebunan kopi Aceh. Pandangan itu menggarisbawahi kebutuhan pendampingan yang konsisten, bukan pelatihan sekali lalu ditinggalkan. Penerapan teknologi tepat guna di lapangan diharapkan membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas kopi Robusta. Kolaborasi perguruan tinggi, petani, dan pemerintah daerah juga berpotensi membuat hasil riset lebih dekat dengan persoalan nyata kebun.

Ekosistem kopi perlu jalur belajar yang saling melengkapi
Kursus latte art dan pendampingan petani tidak seharusnya diperlakukan sebagai program yang bersaing. Keduanya melayani kebutuhan berbeda: satu mengasah keterampilan menyajikan kopi, satu lagi memperkuat produksi dari kebun. Nilai pelatihan akan lebih besar ketika setiap jalur terhubung dengan tantangan pesertanya—praktik menuang bagi calon peracik, serta metode budidaya dan pemeliharaan berkelanjutan bagi petani.
Ke depan, Pusat Riset Kopi dan Kakao Aceh USK menyatakan siap memperluas pendampingan bagi petani Robusta dan komoditas lain, termasuk kakao, sesuai kebutuhan Tangse dan wilayah lain di Pidie. Di sisi penyajian, kelas latte art Batch 3 dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober 2026. Kesimpulannya, ekosistem kopi membutuhkan pembelajaran yang tidak berhenti di cangkir atau kebun saja: keterampilan penyajian dan penguatan produksi sama-sama penting, dengan manfaat yang paling terasa ketika pelatihan berlanjut menjadi praktik.






