Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

MBG Prasmanan di Mataram Tekan Sisa Makanan, Siswa Bebas Memilih

MBG Prasmanan di Mataram Tekan Sisa Makanan, Siswa Bebas Memilih
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pilihan porsi membuat makanan lebih mungkin dihabiskan

MBG prasmanan adalah cara menyajikan Makan Bergizi Gratis secara terbuka agar siswa dapat memilih hidangan dan mengambil porsi sesuai selera serta kebutuhannya, dengan tetap memenuhi standar gizi. Di SD Al Iqro Mataram, uji coba pada 19–21 Oktober 2026 dinilai mampu menekan sisa makanan sekolah hingga nyaris tidak ada. Hasil ini masuk akal: makanan yang dipilih sendiri lebih mungkin disantap daripada menu yang seluruh porsinya ditentukan sebelumnya. Namun, kebebasan memilih bukan alasan untuk mengabaikan kecukupan gizi. Sistem ini akan bermanfaat jika pilihan tetap seimbang dan siswa dibimbing mengambil secukupnya, lalu menambah bila masih lapar.

Perbedaan utamanya bukan sekadar cara menyajikan makan siang, melainkan siapa yang menentukan isi piring. Dalam prasmanan, siswa ikut membuat keputusan tentang porsi dan hidangan. Ketika keputusan itu sesuai selera tetapi tetap dalam batas kebutuhan nutrisi, kemungkinan makanan habis meningkat. Karena itu, klaim pengurangan food waste punya dasar perilaku yang jelas: makanan yang tidak diambil atau tidak disukai tidak otomatis berakhir di tempat sampah.

Menu yang disukai dan makanan yang tetap hangat

Respons siswa memperlihatkan mengapa pilihan menu makan siswa penting. Ganin mengatakan ia senang bisa mengambil makanan yang disukai dan melewatkan sambal yang tidak ia inginkan. Bagi sekolah, ini bukan sekadar soal kenyamanan: hidangan yang lebih cocok dengan selera anak berpeluang lebih besar untuk dikonsumsi sampai habis. Siswa lain, Pangeran, juga menyebut makanan masih hangat saat disantap.

Guru Nur Hidayati membandingkan penyajian prasmanan dengan makanan yang sebelumnya tiba dalam wadah saat pukul 11.30 Wita dan sudah dingin, sehingga selera makan anak menurun. Suhu sajian dan pilihan pribadi saling menguatkan: makanan hangat lebih menggugah selera, sementara kebebasan memilih mengurangi kemungkinan mengambil hidangan yang tidak disukai. Inilah alasan sistem prasmanan layak dinilai dari lebih dari sekadar jumlah porsi yang dibagikan; yang penting juga adalah berapa banyak yang benar-benar dimakan.

Uji coba kedua menyiapkan 129 porsi

Pada tahap kedua, penyelenggara menyiapkan 129 porsi untuk siswa kelas 5 dan 6 serta guru: 61 siswa dan tiga guru di kelas 5, lalu 62 siswa dan tiga guru di kelas 6. Uji coba ini dijadwalkan berlangsung hingga 6 November 2026, dengan pemantauan, pelaporan harian, dan evaluasi. Angka tersebut memberi skala yang cukup untuk menguji alur penyajian, tetapi keberhasilan awal belum otomatis membuktikan metode ini cocok diterapkan di semua sekolah.

Prasmanan juga menuntut pengelolaan yang tertib. Penyelenggara perlu menjaga kebersihan, keamanan pangan, suhu hidangan, serta kelancaran antrean, sementara siswa perlu belajar mengambil makanan secukupnya. Jika unsur-unsur itu diabaikan, pilihan yang lebih luas dapat menimbulkan masalah baru, mulai dari sajian yang tidak terjaga hingga porsi berlebih. Jadi, penekanan sisa makanan harus berjalan beriringan dengan pengawasan dan disiplin, bukan hanya mengandalkan antusiasme anak.

Pilihan menu perlu ditopang tata kelola

Hasil positif di SD Al Iqro patut menjadi bahan pertimbangan untuk tata kelola dan pola distribusi MBG di Mataram. Evaluasi sebelumnya melibatkan 64 siswa kelas 6 dan tiga guru pendamping, sedangkan tahap kedua memperluas sasaran ke kelas 5 dan 6. Perbedaan cakupan ini membuat pencatatan hasil secara konsisten penting: sekolah perlu melihat bukan hanya apakah makanan tersisa, tetapi juga apakah setiap anak mendapat asupan yang cukup dan apakah hidangan tetap aman disajikan.

Pada akhirnya, prasmanan menawarkan perbaikan yang berangkat dari pengalaman siswa: mereka bisa memilih, makanannya lebih hangat, dan porsi dapat disesuaikan. Kombinasi itu membantu menghubungkan kebutuhan anak dengan upaya mengurangi food waste. Namun, keberhasilan yang dapat dipertahankan bergantung pada pemenuhan gizi, kebersihan, dan evaluasi rutin. Uji coba ini memberi alasan kuat untuk melanjutkan pengamatan, bukan untuk menganggap persoalan sisa makanan sudah selesai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!