KuybeliKuybeli

Susur Waduk Jatiluhur: Dari Sadang Sampai Makadam, Surga Event Marathon & Gowes Jarak Jauh

Susur Waduk Jatiluhur: Dari Sadang Sampai Makadam, Surga Event Marathon & Gowes Jarak Jauh
Minat|Lari Marathon

Jatiluhur, Legenda Air Raksasa yang Bikin Penasaran

Nama Jatiluhur sudah lama hidup di kepala banyak orang, bukan cuma di peta. Waduk raksasa ini menyimpan air sekitar 2,4 miliar meter kubik dengan genangan seluas 82 kilometer persegi, plus pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 187,5 megawatt (MW).

Kombinasi kekuatan air, daya listrik, dan bentang alam yang megah membuat Jatiluhur selalu memicu rasa penasaran. Banyak orang sudah mengenalnya sejak di bangku sekolah, tapi baru bisa benar-benar menyentuh atmosfernya belakangan.

Rasa penasaran itulah yang akhirnya terbayar lewat event Susur Jatiluhur, Sabtu 22 Februari 2025. Jelajah Bike sebagai penyelenggara meramu rute sepanjang 34 kilometer—hanya secuil dari lingkar waduk—namun cukup untuk melintasi titik-titik strategis bendungan, termasuk pusat PLTA Djuanda.

Rute Pendek, Sensasi Panjang

Awalnya, panitia menggoda diri sendiri dengan ide ambisius: mengitari seluruh area waduk dengan sepeda. Di peta digital, seolah semua jalur tampak terhubung dengan manis.

Begitu disurvei langsung, kenyataan berbicara: banyak ruas jalan masih berupa makadam, jalan batu pecah dan kerikil padat yang menantang mental dan material.

Akhirnya, diputuskan rute lebih pendek: sekitar 55 kilometer, lalu dipangkas lagi menjadi 34 kilometer agar tetap realistis dan tetap menyentuh titik-titik ikonik Jatiluhur. Meski begitu, sejumlah segmen jalan makadam tetap tak terhindarkan—seperti bonus tantangan yang diselipkan alam.

Rutenya bukan sekadar soal jarak, tapi pengalaman: dari jalan aspal halus, cor beton, tanjakan curam, sampai jalur di pinggir waduk yang penuh kelokan.

Daya Tarik Jatiluhur: Sekali Buka Pendaftaran, Langsung Diserbu

Pertengahan Januari 2025, ketika Jelajah Bike membuka pendaftaran Susur Jatiluhur, respon komunitas pesepeda langsung terasa. Informasi tidak disiarkan masif, hanya dibagikan ke jaringan pesepeda yang pernah ikut touring Jelajah Bike.

Tapi Jatiluhur sudah cukup kuat jadi magnet.

  • Peserta satu per satu menghubungi panitia.

  • Ada yang langsung mengunci slot.

  • Ada yang baru berani memesan sambil cek jadwal kantor dan keluarga.

Antusiasmenya sama: ingin merasakan sensasi mengayuh di kawasan waduk legendaris ini.

Kuota dibatasi hanya 60 orang. Alasan utamanya realistis:

  • Banyak segmen jalan makadam.

  • Kelokan pendek di pinggir waduk cukup padat.

  • Pengawasan dan pengendalian di lapangan wajib rapih.

Slot langsung penuh. Bahkan menjelang hari H, masih banyak yang ingin mendaftar, tapi terpaksa gigit jari.

Beberapa peserta memilih datang sehari sebelumnya, Jumat 21 Februari 2025. Mereka ingin meresapi suasana malam dan pagi di sekitar waduk: udara bersih, panorama luas, dan suasana yang jauh dari riuh kota.

Ada yang sengaja menginap demi “reset” pikiran, mencari udara baru, sekaligus memanaskan mood sebelum gowes panjang.

Grup WhatsApp yang Pelan-Pelan Jadi Ruang Pemanasan

Begitu Jumat sore, grup WhatsApp Susur Jatiluhur mulai berdenyut. Foto-foto persiapan, pengiriman lokasi, dan cerita perjalanan masuk satu per satu.

  • Ada yang kirim foto baru turun dari kereta di Stasiun Purwakarta.

  • Ada yang kirim foto sepeda sudah rapi masuk bagasi mobil.

  • Marshal membagikan rute event, lengkap dengan jarak dan elevasi.

Sabtu dinihari, sekitar pukul 03.00 WIB, grup makin hidup. Peserta saling menyapa, update posisi, dan berbagi kabar bangun tidur.

Peserta datang dari berbagai kota penyangga: Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang, Bandung. Waktu tempuh ke Jatiluhur sekitar 1,5–2 jam dengan mobil pribadi—mirip perjalanan pesepeda Jabodetabek ke Bogor saat akhir pekan.

Sekitar pukul 06.30 WIB, mayoritas peserta sudah berkumpul di Restoran Sambel Hejo Sambel Dadak (SHSD) Ciganea. Banyak yang sudah saling kenal, namun lama tak bertemu. Susur Jatiluhur pun otomatis berubah menjadi ajang reuni kecil-kecilan.

Cerita-cerita lawas bermunculan: dari Jelajah lima danau hingga rute-rute yang penuh tanjakan, udara dingin, sampai kebun teh yang membentang. Ada yang langsung melempar wacana: “Jelajah Lima Danau diulang lagi, tapi kali ini pas musim durian.” Dukungan langsung bermunculan.

Start Pagi: Menyusuri Kota, Tol, dan Jalan Kecil

Sekitar pukul 07.00 WIB, semua peserta sudah siap di garis start. Briefing singkat, doa, lalu rombongan bergerak keluar gerbang SHSD Ciganea.

Arah pertama: utara, menuju kota Purwakarta. Pagi itu lalu lintas sudah mulai ramai, karena jalur yang dipakai adalah akses utama menuju pintu tol Jatiluhur dan lintasan karyawan menuju tempat kerja.

Meski padat, ritme kayuhan tetap terjaga. Lalu lintas yang bergerak justru memberi sensasi real: ini bukan sekadar lintasan event, ini jalan hidup sehari-hari warga.

Setelah sekitar dua kilometer, rute membelok ke timur, lalu kembali ke utara menuju area Sadang. Di sini kombinasi permukaan jalan mulai muncul: aspal mulus, cor beton, plus beberapa bagian yang mulai rusak.

Di kilometer 10, tak jauh dari pintu tol Sadang, rombongan berbelok ke kiri ke arah barat, memasuki jalan yang lebih kecil namun mulus. Di jalur ini:

  • Kendaraan umum jauh berkurang.

  • Rumah-rumah warga mulai rapat di kiri-kanan jalan.

  • Kontur jalan cenderung datar, dengan beberapa titik yang sedikit rusak tapi tetap nyaman dilibas sepeda lipat dan sepeda balap.

Kilometer 18 jadi titik transisi penting: rombongan belok ke arah selatan, mendekat ke Waduk Jatiluhur. Di kilometer 20, mereka tiba di salah satu pintu PLTA Djuanda.

Pohon-pohon rindang di halaman membuat suasana sejuk, meski di dalam gedung para karyawan tengah berkutat dengan urusan listrik. Waktu sejenak terhenti untuk sesi foto—momen wajib di depan landmark energi.

Usai dari sana, kayuhan bertemu tanjakan dengan kemiringan sekitar 10 derajat sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer. Udara sejuk jadi penyelamat. Di kejauhan, salah satu titik bendungan Jatiluhur tampak menjulang, dengan hamparan tanah hijau seperti bukit di sisi lainnya.

PLTA Djuanda dan Sejarah Air yang Diubah Jadi Listrik

Air yang berkumpul di bendungan tak hanya jadi panorama, tapi juga sumber energi.

  • Air dialirkan melalui saluran khusus untuk memutar baling-baling turbin.

  • Turbin menggerakkan poros generator, mengubah energi mekanik menjadi energi listrik.

  • Di Waduk Jatiluhur, terpasang enam turbin dengan total daya 187,5 MW.

  • Produksi listriknya sekitar 2.700 kilowatt-jam (kWh) per hari.

Waduk ini dikelola oleh Perum Jasa Tirta II dan punya sejarah panjang.

Beberapa catatan penting:

  • Diciptakan dengan membendung Sungai Citarum, dengan daerah aliran sungai sekitar 4.500 km².

  • Perencanaan dimulai sejak masa kolonial Belanda.

  • Peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 1957.

  • Diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967.

  • Biaya pembangunan sekitar 230 juta dolar AS.

Fungsi Jatiluhur tidak berhenti di listrik.

  • Mengairi jaringan irigasi seluas 242.000 hektar.

  • Menyediakan air baku.

  • Mendukung budidaya perikanan.

  • Jadi penyangga penanggulangan banjir.

  • Sekaligus berkembang sebagai kawasan wisata dengan hotel, bungalow, restoran, playground, ruang pertemuan, dan sarana olahraga air.

Sekitar satu kilometer ke depan, gerbang utama PLTA Djuanda berdiri di sisi kanan. Di sebelah kiri, pintu masuk menuju Hotel Jatiluhur Valley & Resort—hotel bintang tiga yang jadi salah satu titik nyaman menginap di kawasan waduk. Jalan raya di sini lebar dan aspalnya halus, ideal untuk kayuhan santai dengan pemandangan hutan.

Keluar dari kawasan PLTA, rute menurun menuju waduk. Di kilometer 23, seluruh peserta berhenti di sebuah warung tepat di pinggir waduk.

Menu yang tersaji:

  • Kelapa muda dingin.

  • Mie rebus.

  • Sate maranggi yang menggoda.

Warung ini hanya sekitar sepuluh meter dari bibir waduk. Di belakangnya, belasan perahu viber terparkir di dermaga mini—disiapkan untuk wisatawan yang ingin menyusuri tengah waduk.

Menyusuri Tepi Waduk: Warung, Bumi Perkemahan, dan Campervan

Dari warung, rombongan mulai menyisir tepi waduk sekitar dua kilometer. Sepanjang Jalan Waduk Jatiluhur, barisan warung dan restoran menyambut dengan aneka menu.

Di jalur ini, bentang kawasan Bumi Perkemahan Jatiluhur ikut mewarnai. Tempat ini jadi pusat aktivitas alam terbuka:

  • Tenda-tenda dan area camping.

  • Kegiatan outbound dan gathering komunitas.

  • Suasana rindang di bawah pepohonan.

Ada pula area khusus parkir mobil campervan. Komunitas campervan di Jabodetabek kabarnya makin berkembang, dan Jatiluhur jadi salah satu tujuan favorit akhir pekan. Siang itu, cukup banyak wisatawan yang datang untuk sekadar menikmati air dan pemandangan.

Memasuki kilometer 26, rute kembali menguji napas dan kaki. Rombongan berbelok ke kiri, memasuki perkampungan dan langsung disambut tanjakan sekitar 75 meter. Pendek, tapi dengan kemiringan mendekati 15 derajat.

Di sinilah istilah “ngehek” terasa relevan.

Setelahnya, segmen jalan makadam mulai sering muncul. Sisa jarak menuju finish di SHSD Ciganea sekitar delapan kilometer, namun sebagian jalannya rusak—terutama di bagian tanjakan dan turunan.

Pada bagian ini, kecepatan bukan lagi prioritas. Fokus dan teknik mengendalikan sepeda jadi kunci. Konsentrasi ekstra wajib, terutama bagi pengguna sepeda lipat dan sepeda balap.

Di kilometer 30, rombongan melewati kolong jalur kereta cepat. Beberapa kali mereka beruntung menyaksikan kereta Whoosh melintas kencang, hilir mudik Jakarta–Bandung.

Tak jauh dari situ, ada jalur kereta api rute selatan Jawa. Kontras terasa ketika kereta Argo Parahyangan lewat—lajunya jelas beda dibanding Whoosh.

Di sepanjang rute ini, rumah-rumah permanen milik warga berjajar. Jalan yang dipakai pesepeda sejatinya adalah akses utama warga menuju Waduk Jatiluhur dan kota Purwakarta.

Warga mengaku sudah sering menyampaikan keluhan soal kondisi jalan ke pemerintah daerah. Sampai sekarang, jawaban nyata belum juga hadir. Lelah mengeluh, mereka akhirnya lebih banyak diam dan menerima.

Infrastruktur, Kunci Potensi Event Lari & Sepeda

Bagian yang paling membuat tercengang bukan hanya panorama waduk, tapi juga kontras antara status Jatiluhur yang strategis dan kondisi jalan di sekitarnya.

Kawasan ini sudah jelas punya banyak fungsi:

  • Irigasi.

  • PLTA.

  • Budidaya perikanan.

  • Pariwisata.

Namun, pariwisata dan sport tourism tidak akan pernah maksimal tanpa dukungan infrastruktur dasar, terutama kualitas jalan di dalam kawasan dan wilayah penyangga.

Seorang pesepeda dari Jakarta mengakui, ini pertama kalinya ia benar-benar “main” di dalam kawasan Waduk Jatiluhur, dan langsung jatuh hati.

  • Ia kagum melihat banyak area hijau dan suasana sejuk dengan pohon-pohon besar.

  • Tapi ia juga menyoroti jalan makadam yang masih mendominasi di banyak titik.

Pemerintah pusat, Provinsi Jawa Barat, dan Kabupaten Purwakarta sebenarnya memegang kunci. Jika akses jalan—termasuk di wilayah penyangga—dibangun dengan serius, dampaknya bisa berlipat.

Potensi event yang bisa lahir dan tumbuh di Jatiluhur sangat besar:

  • Lari marathon dan half marathon dengan rute memutari waduk.

  • Balap sepeda dan jambore sepeda lintas komunitas.

  • Festival musik jazz dan gelaran musik lainnya di tepi waduk.

  • Event olahraga air dan triathlon.

Letaknya yang hanya selemparan batu dari Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bandung membuat potensi peserta dan penonton bakal membludak.

Dengan sedikit keberpihakan pada infrastruktur, Jatiluhur bisa menjelma jadi etalase event olahraga dan wisata kelas nasional, bahkan internasional.

Menutup Hari dengan Makan Siang dan Kenangan

Sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan terakhir akhirnya masuk garis finish di SHSD Ciganea. Penutup yang sudah dinanti: makan siang dengan hidangan khas Sunda.

Menu itu bukan sekadar makanan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sosok yang pernah aktif bersama Jelajah Bike dan kini telah tiada. Semasa hidup, ia kerap ikut berbagai event touring, dari Jelajah Komodo, Jelajah Rote, hingga Jelajah Tana Toraja.

Usai makan siang dan saling berpamitan, beberapa peserta dan tim Jelajah Bike menyempatkan diri berziarah ke makamnya, sekitar satu kilometer dari SHSD Ciganea.

Di titik itulah perjalanan hari itu terasa lengkap: ada gowes, ada waduk, ada listrik, ada tawa, ada tanjakan makadam, ada keluhan warga soal jalan, ada mimpi soal event marathon dan balap sepeda besar, dan ada kenangan yang sengaja dijaga agar tak hilang begitu saja.

Jatiluhur bukan sekadar waduk di peta pelajaran. Ia adalah lintasan hidup, keringat, dan cita-cita sport tourism yang menunggu disambut dengan infrastruktur yang layak.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!