KuybeliKuybeli

Dari Hutan ke Kulit: Kisah Butter Tengkawang & Skincare Lokal yang Bikin Kamu Cantik Tanpa Merusak Bumi

Dari Hutan ke Kulit: Kisah Butter Tengkawang & Skincare Lokal yang Bikin Kamu Cantik Tanpa Merusak Bumi
Minat|Ulasan Produk Perawatan Kulit

Cantik Nggak Harus Bikin Bumi Lelah

Selain fast fashion, ada satu industri lain yang diam-diam ikut memperparah kerusakan lingkungan: fast beauty.

Kalau fast fashion identik dengan tren baju yang berganti super cepat sampai bikin gunungan sampah tekstil, fast beauty terasa lewat banjirnya brand skincare baru dan produk-produk yang rilis tanpa henti dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak dari kita, termasuk saya dulu, pernah terjebak di arus ini. Tahun 2017–2021, saya juga ikut dalam pusaran fast beauty itu, gonta-ganti produk, selalu tergoda launch baru, seolah kulit nggak akan pernah cukup glowing kalau tidak coba skincare terbaru.

Jiwas sebagai perempuan makin goyah kalau sudah lihat:

  • Info flash sale bertebaran

  • Kemasan cantik yang memanjakan mata

  • Janji kulit lebih putih, lebih glowing, lebih mulus

Pelan-pelan, muncul rasa tidak pernah puas dengan kondisi kulit sendiri.

Sampai akhirnya pandemi datang. Hidup melambat, dan saya jadi lebih banyak merenung. Dari situ saya mulai belajar tentang sustainability, dari cara mengelola sampah sampai merombak mindset soal skincare.

Apa Sih Sustainable Beauty Itu?

Secara sederhana, sustainable beauty adalah konsep kecantikan yang:

  • Memperhatikan dampak lingkungan dari bahan-bahan yang dipakai

  • Tetap efektif untuk merawat kulit

  • Mengusung bahan baku agrikultur lokal

  • Ikut menguatkan ekonomi petani di daerah asal

Artinya, sebuah produk kecantikan yang mengklaim diri sustainable seharusnya bukan cuma aman di kulit, tapi juga baik untuk bumi dan berpihak pada masyarakat lokal.

Salah satu contoh nyata adalah brand Arcia. Mereka menggunakan minyak biji tengkawang sebagai bahan utama skincare sekaligus memberdayakan petani tengkawang di Kalimantan Barat.

Minyak biji tengkawang ini punya kelas yang setara dengan shea butter dan cocoa butter. Dalam dunia internasional, ia dikenal dengan nama illipie butter.

Perbedaannya:

  • Illipie butter dan cocoa butter termasuk hard oil (teksturnya lebih padat)

  • Shea butter digolongkan sebagai soft oil (lebih lembut dan mudah lumer)

Illipie butter alias mentega biji tengkawang.

Tengkawang: Kearifan Lokal yang (Nyaris) Terlupakan

Tengkawang adalah biji dari pohon yang mirip pohon Meranti dan banyak tumbuh di Kalimantan Barat.

Sejak dulu, masyarakat lokal sudah memakai tengkawang sebagai minyak masak dan menggoreng, jauh sebelum kelapa sawit merajalela.

Keunggulannya:

  • Tengkawang adalah wujud kearifan lokal yang perlu dijaga

  • Untuk mengambil minyaknya, masyarakat tidak perlu membabat hutan seperti pola di kebun sawit

Jadi ketika kamu pakai produk berbahan tengkawang, sebenarnya kamu sedang ikut menjaga:

  • Kelestarian hutan adat

  • Tradisi lokal yang ramah lingkungan

Pohon-pohon tengkawang di hutan adat Dayak, penopang ekosistem dan mata pencaharian warga.

Lebih kerennya lagi, Arcia tidak berhenti di bahan baku saja. Ampas biji tengkawang yang sudah diperas minyaknya tidak dibuang begitu saja.

Ampas itu diolah ulang menjadi:

  • Pakan ternak

  • Bahan kompos

Dan semuanya dikembalikan ke masyarakat sekitar yang membutuhkan.

Ampas tengkawang yang dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak atau kompos.

Bukan Cuma Isi, Kemasan Juga Penting

Sustainable beauty tidak berhenti di formula produk. Kemasan punya peran besar dalam jejak ekologis.

Arcia memilih menggunakan beberapa kemasan berbentuk jar yang bisa:

  • Dipakai ulang untuk tempat sabun batang saat traveling

  • Menyimpan peniti, aksesoris kecil, atau barang-barang mungil lainnya

Dengan begitu, kemasan produk tidak langsung berakhir di TPS atau hanyut ke laut.

Sampah skincare yang menumpuk bisa dikurangi kalau kita lebih bijak memilih dan memakai produk.

Arcia: Skincare Sustainable dari Kalimantan Barat

Di balik Arcia, ada sosok ibu rumah tangga yang perhatiannya bukan cuma ke kulit, tapi juga ke anak-anak pedalaman suku Dayak di Kalimantan Barat.

Bersama suaminya, ia mendirikan Arcia dengan misi:

  • Kulit tetap terawat

  • Ekonomi masyarakat sekitar terangkat

  • Alam tetap terjaga

Tiga hal inilah yang menjadi pilar utama Arcia sejak berdiri pada Januari 2019.

Arcia juga sudah mengantongi:

  • Sertifikat BPOM

  • COA (Certificate of Analysis)

  • Sertifikat halal MUI

Brand ini juga pernah bekerja sama dengan maskapai nasional dan menorehkan prestasi di kompetisi Kementerian Koperasi dan UKM RI tahun 2021.

Brand lokal yang membuktikan kalau kosmetik natural bisa bersaing dan tetap berpihak pada alam.

Cerita di Balik Layar: Menjaga Pasokan, Menjaga Masyarakat

Hal lain yang bikin saya makin hormat, Arcia tidak hanya fokus pada:

  • Bahan natural yang aman untuk kulit

  • Kemasan yang bisa dipakai ulang

  • Pengolahan residu bahan baku

Mereka juga sangat serius memperhatikan kesejahteraan petani tengkawang.

Lima persen dari hasil penjualan Arcia dialokasikan untuk beasiswa anak petani.

Ini penting, karena:

  • Pendidikan adalah salah satu cara paling elegan untuk memperbaiki kualitas hidup suatu masyarakat

  • Yang diberdayakan adalah masyarakat adat, yang secara kultural punya jiwa menghormati alam

Bayangkan jika generasi muda dari masyarakat adat ini mendapatkan pendidikan tinggi, tapi masih memegang nilai cinta alam. Mereka bisa menjadi garda depan yang memastikan setiap produk modern tidak merusak bumi dalam diam.

Saya pun merasa sedikit menyesal baru sekarang kenal mentega lokal ini.

Selama ini saya berkali-kali membeli shea butter dan cocoa butter impor, padahal:

  • Indonesia punya tengkawang butter yang kualitasnya tidak kalah

  • Jejak karbonnya jauh lebih pendek dibanding butter impor karena diproduksi lokal

Saya benar-benar merasa bersyukur bisa ikut sebuah online gathering yang akhirnya mempertemukan saya dengan butter lokal istimewa ini.

From tree to skin.

Kalimat ini sangat pas untuk menggambarkan produk-produk Arcia: menjaga kelangsungan pohon tengkawang, merawat kulit secara natural, sekaligus menjaga masa depan bumi melalui pelestarian hutan adat.

Kami Cantik, Kami Berharga, Kami Tidak Merusak Lingkungan

DIY: Bikin Lip Balm Mentega Tengkawang di Rumah

Salah satu pengalaman paling seru adalah membuat lip balm sendiri menggunakan mentega tengkawang bersama tim Arcia.

Sebelum sesi online gathering, peserta mendapatkan kit spesial yang berisi:

  • Natural soap

  • Bahan pembuatan lip balm: minyak kelapa, beeswax, mentega tengkawang, geranium essential oil, dan vitamin E

3 Komponen Utama Lip Balm

Dari proses belajar ini, ada satu formula dasar yang penting:

  • Wax – memberikan tekstur keras dan bentuk

  • Butter – memberi tekstur lembut sekaligus melembapkan

  • Oil – menutrisi bibir

Botanical oil yang bisa digunakan cukup fleksibel, misalnya:

  • Coconut oil

  • Jojoba oil

  • Castor oil

  • Sweet almond oil

Dalam sesi ini, yang dipakai hanya minyak kelapa, dan hasilnya tetap nyaman di bibir. Minyak kelapa sendiri sudah dikenal sejak zaman nenek moyang sebagai pelembap alami untuk perawatan tubuh.

Cara Membuat Lip Balm Mentega Tengkawang

Berikut langkah-langkahnya:

  1. Panaskan panci berisi sedikit air.

  2. Masukkan beaker glass ke dalam panci (jangan sampai air masuk). Di dalam beaker glass, campurkan beeswax, mentega tengkawang, dan minyak kelapa.

  3. Aduk pelan sambil dipanaskan sampai semua bahan meleleh. Pastikan tidak ada air yang tercampur karena bahan harus murni minyak.

  4. Setelah semua leleh, angkat beaker glass dari panci. Masukkan vitamin E sebagai pengawet alami dan geranium essential oil sebagai pewangi natural.

  5. Tuang campuran ke dalam tube lip balm. Biarkan membeku dan jangan langsung ditutup supaya tidak terbentuk kondensasi di dalamnya.

  6. Setelah mengeras sempurna, lip balm siap dipakai.

Ini hasil lip balm buatan sendiri, bahkan bisa dikreasikan dengan tambahan pewarna natural seperti biji annatto untuk memberi sedikit warna.

Kenapa Skincare Natural Lokal Patut Kamu Coba?

Dari seluruh pengalaman ini, ada beberapa hal yang terasa banget:

  • Skincare natural yang memanfaatkan bahan lokal bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

  • Bahan-bahan seperti mentega tengkawang punya potensi besar dan kualitas yang tidak kalah dengan bahan impor.

  • Dipakai jangka panjang, skincare natural cenderung lebih aman, karena kulit kita kadang kesulitan menerima bahan sintetis tertentu.

Intinya:

Kita bisa kok tampil cantik, merasa berharga, dan merawat diri setiap hari tanpa harus merusak lingkungan.

Mungkin sudah waktunya memberi kesempatan lebih besar untuk produk-produk natural lokal yang berpihak pada bumi dan manusia sekaligus.

Yuk, pelan-pelan geser rak skincare kamu ke arah yang lebih hijau dan lebih bermakna.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!