Bali Fashion Trend 2025: Ubud Jadi Episentrum Mode
Penutupan Bali Fashion Trend (BFT) 2025 di Onyx Park Resort, Ubud, menjadi klimaks perayaan mode bertaraf internasional yang digelar selama 18—21 Desember 2025.
Rangkaian show ini mempertegas posisi Bali sebagai salah satu episentrum fashion kreatif Indonesia, tempat di mana karya desainer nasional dan internasional bertemu di satu panggung.
Diversity of Indonesia: Interpretasi Baru dari ISI Bali
Salah satu sorotan utama datang dari mahasiswa Program Studi Desain Mode ISI Bali yang membawakan koleksi Ready to Wear Deluxe bertajuk 12.03.12 dengan tema besar Diversity of Indonesia.
Koleksi ini tidak sekadar parade busana, tetapi juga penanda perjalanan Program Studi Desain Mode ISI Bali yang berdiri pada 12 Maret 2012. Di balik tanggal itu, tersimpan pesan kesinambungan antara tradisi dan inovasi.
Sebanyak 16 tampilan womenswear dan menswear diperagakan dengan sentuhan desain urban kontemporer.
Siluet modern dan fungsional
Spirit street style yang tetap elegan
Detail yang terasa muda namun matang secara konsep
Menariknya, unsur budaya Nusantara tidak ditampilkan secara literal. Motif, struktur, dan filosofi tradisi justru direinterpretasi menjadi visual baru yang lebih modern. Pesannya jelas: keberagaman adalah kekuatan utama bangsa, dan selalu relevan untuk dibaca ulang mengikuti perkembangan zaman.
Unhouse: Ketika Fashion Bicara Krisis Lingkungan
Isu lingkungan juga mendapat porsi kuat lewat koleksi De Irma bertajuk Unhouse.
Koleksi ini mengulas realitas pahit perampasan ruang hidup satwa akibat deforestasi, terinspirasi dari kerusakan hutan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Sumatra.
Lewat busana ready-to-wear bernuansa streetwear, Unhouse menghadirkan:
Siluet tidak simetris yang memberi kesan gelisah
Detail unfinished yang seolah menggambarkan luka dan kerusakan
Atmosfer emosional tentang kehilangan dan perlawanan terhadap kehancuran alam
Palet warna forest tone dan nuansa gajah Sumatra dipadukan dengan Tenun Kubang dari Sumatra Barat sebagai bentuk penghormatan pada kearifan lokal. Di sini, fashion bukan hanya soal gaya, tetapi juga medium untuk menyuarakan luka ekologis dan ajakan untuk peduli.
Fashion Show sebagai Ruang Dialog
Fashion show di BFT 2025 berfungsi sebagai ruang dialog yang menggugah empati publik terhadap krisis lingkungan yang masih berlangsung.
Pada hari terakhir, panggung diisi oleh Student Presentation ISI Bali dan sejumlah parade yang menghadirkan puluhan desainer.
Beberapa nama yang tampil antara lain:
De Irma
Kamaku
Fomalhaut Zamel
Desainer Fomalhaut Zamel mengungkapkan kebanggaannya bisa terlibat di BFT 2025. Ia menilai ajang ini memiliki peran strategis dan pengaruh besar dalam pembentukan tren fashion Indonesia.
Bali Fashion Trend 2025 sendiri digelar oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) Denpasar Chapter bekerja sama dengan Onyx Park Resort, mengusung tema besar Beyond Beauty.
Beyond Beauty: Lebih dari Sekadar Busana
BFT 2025 tidak hanya menyajikan estetika mode, tetapi juga merayakan:
Nilai budaya
Isu keberlanjutan
Kolaborasi lintas sektor
Lebih dari 105 desainer nasional dan internasional ambil bagian, termasuk dari Malaysia, Italia, dan Iran. Keikutsertaan para desainer mancanegara ini makin mengukuhkan BFT sebagai panggung yang berwawasan global namun tetap berakar pada identitas lokal.
Ketua Panitia BFT 2025, Neli Gunawan, menegaskan bahwa BFT bukan sekadar fashion show. Ia adalah ekosistem yang mempertemukan kreativitas, budaya, dan industri dalam satu ruang.
Bali di Peta Fashion Global
Dengan berakhirnya BFT 2025, Bali kembali menegaskan diri sebagai ruang temu strategis bagi karya mode Indonesia untuk melangkah ke pasar global.
Di Ubud, mode tidak hanya tampil indah di runway, tetapi juga membawa narasi tentang keberagaman, lingkungan, dan masa depan industri fashion yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Bali Fashion Trend 2025 pun meninggalkan jejak: bahwa tren fashion masa kini bukan lagi sekadar soal gaya, melainkan cerita, sikap, dan keberanian untuk mengubah dunia lewat kain dan potongan.






