SmartSight: Dari Kampus ke Solusi Nyata
Di Yogyakarta, sekelompok mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadirkan sebuah inovasi yang tidak hanya canggih, tetapi juga sarat empati.
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC), tim gabungan dari Program Studi Pendidikan Vokasional Teknik Elektronika (PVTE) dan Program Studi Informatika mengembangkan SmartSight, sebuah kacamata pintar yang dirancang khusus untuk membantu penyandang tunanetra bergerak lebih aman dan mandiri.
SmartSight memanfaatkan kombinasi kamera, sensor jarak, dan algoritma YOLOv11 untuk mengenali objek di sekitar pengguna. Informasi itu kemudian diterjemahkan menjadi peringatan suara dan getaran, sehingga pengguna bisa menghindari halangan tanpa harus mengandalkan tongkat semata.
Otak di Balik Kacamata Pintar
SmartSight menggunakan Raspberry Pi 5 sebagai otak utama sistem. Perangkat kecil ini bertugas mengolah data dari kamera dan sensor, kemudian mengidentifikasi objek yang ada di depan pengguna.
Begitu perangkat mendeteksi hambatan atau objek tertentu, sistem akan mengirimkan sinyal berupa:
Peringatan suara, sehingga pengguna bisa mendapat informasi secara langsung
Getaran, sebagai feedback tambahan agar peringatan tetap terasa jelas meski di lingkungan bising
Kombinasi keduanya membuat SmartSight berpotensi menjadi pendamping mobilitas yang intuitif dan mudah dipahami oleh penyandang tunanetra.
Menurut ketua tim, ide ini lahir dari kepedulian terhadap keterbatasan mobilitas tunanetra dalam kehidupan sehari-hari. SmartSight didesain bukan sekadar sebagai proyek akademik, tetapi sebagai alat yang diharapkan benar-benar berguna di dunia nyata dan mampu meningkatkan kepercayaan diri penggunanya.
Uji Coba di SLB A Yaketunis
Sebelum melangkah lebih jauh, SmartSight telah melalui tahap pengujian langsung di SLB A Yaketunis Yogyakarta.
Dalam uji coba ini, penyandang tunanetra dilibatkan secara langsung untuk menilai:
Kenyamanan saat menggunakan kacamata dalam aktivitas sehari-hari
Respons sistem ketika mendeteksi halangan di berbagai situasi
Akurasi deteksi objek di lingkungan nyata, bukan hanya di ruang laboratorium
Hasil awal menunjukkan bahwa SmartSight mampu memberikan peringatan secara efektif melalui suara dan getaran. Meski begitu, tim masih terus melakukan penyempurnaan, terutama agar sistem dapat bekerja lebih stabil di berbagai kondisi pencahayaan.
Bimbingan dan Penguatan dari Dosen
Dalam proses pengembangan, tim tidak berjalan sendirian. Mereka mendapatkan arahan teknis dan konseptual dari para dosen yang berpengalaman di bidangnya.
Pendampingan ini tidak hanya fokus pada aspek teknologi, tetapi juga pada bagaimana merancang solusi yang benar-benar menjawab kebutuhan pengguna.
Sang dosen pendamping menegaskan bahwa proyek seperti SmartSight menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa, karena mereka menyadari bahwa teknologi seharusnya hadir sebagai jawaban atas masalah sosial, bukan sekadar unjuk kemampuan teknis.
Teknologi, Empati, dan Inklusivitas dalam Satu Frame
SmartSight bukan hanya kacamata pintar. Di balik perangkat ini ada kombinasi:
Teknologi mutakhir, melalui pemanfaatan kamera, sensor, dan algoritma deteksi objek
Empati sosial, karena lahir dari kepedulian pada keterbatasan mobilitas tunanetra
Semangat inklusif, dengan tujuan memudahkan aktivitas sehari-hari penyandang disabilitas penglihatan
Inovasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu melangkah lebih jauh dari sekadar tugas kuliah. SmartSight menjadi contoh konkret bagaimana ide di kampus bisa bertransformasi menjadi solusi nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Perjalanan SmartSight masih terus berlanjut, dan potensinya untuk dikembangkan ke tahap yang lebih luas sangat terbuka, terutama sebagai bagian dari ekosistem teknologi bantu bagi tunanetra di Indonesia.






