Animasi Masuk Kelas: Pen Tablet Jadi Senjata Baru

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kembali turun langsung mendekatkan dunia kreatif digital ke sekolah kejuruan.
Melalui Tim Abdimas, mereka mengadakan pelatihan bertema “Animasi dengan Pen Tablet” yang menyasar para guru dan siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di SMK Muhammadiyah 2 Taman, Sidoarjo.
Kegiatan ini digelar di Auditorium sekolah dan diikuti oleh guru DKV serta 30 siswa. Fokusnya jelas: membekali peserta dengan keterampilan animasi 2D berbasis pen tablet, sebuah perangkat yang kini jadi andalan di dunia desain dan industri kreatif.
Pelatihan ini tidak hanya sekadar mengajarkan software, tetapi juga membantu guru menghadirkan materi pembelajaran yang lebih interaktif, sekaligus mendorong siswa untuk mengasah kemampuan animasi digital sejak dini.
Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa: Belajar Serasa Satu Tim

Pelatihan ini digerakkan oleh tim dosen lintas program studi dari Informatika dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Tim pengabdian terdiri dari:
Dosen lintas prodi yang merancang materi dan alur pelatihan
Narasumber utama yang membimbing sesi teknis animasi
Dosen pendamping yang ikut mengawal proses belajar peserta
Lima mahasiswa Umsida yang terjun langsung sebagai tim pelaksana sekaligus mentor lapangan
Keterlibatan mahasiswa menjadi nilai tambah besar. Mereka:
Membantu aspek teknis selama pelatihan
Mendampingi peserta saat praktik langkah demi langkah
Menjadi teman diskusi bagi guru dan siswa ketika mengalami kendala
Hasilnya, suasana pelatihan terasa lebih cair, akrab, dan kolaboratif. Alih-alih kaku seperti seminar formal, kelas berubah menjadi ruang eksplorasi kreatif yang menyenangkan.
Dari Nol Sampai Gerak: Teknik Animasi Dipecah Jadi Mudah
Sesi pelatihan dimulai dari yang paling dasar: bagaimana memaksimalkan pen tablet.
Peserta diajak mengenal:
Pengaturan awal dan kalibrasi pen tablet
Pengaturan sensitivitas tekanan agar goresan terasa natural
Teknik dasar menggambar: sketsa, inking (penegasan garis), dan pewarnaan
Penggunaan layer supaya proses desain lebih rapi dan terstruktur
Setelah nyaman dengan alat, materi naik tingkat ke animasi 2D menggunakan aplikasi open-source Pencil2D.
Di tahap ini peserta belajar:
Menyusun storyboard sebagai kerangka cerita
Mendesain karakter sederhana yang siap dianimasikan
Melakukan compositing dasar untuk menyusun elemen visual
Mereka kemudian praktik langsung:
Menambah dan mengatur frame animasi
Menggandakan gerakan untuk menciptakan ilusi gerak yang halus
Memanfaatkan fitur onion skin untuk melihat pergerakan frame sebelumnya dan setelahnya
Mengatur frame per second (FPS) agar ritme gerak sesuai kebutuhan
Selama praktik, peserta aktif mencoba, bereksperimen, dan bertanya, dengan bimbingan intensif dari dosen dan mahasiswa pendamping.
Tak Hanya Frame-by-Frame: Kenalan dengan Bone Animation
Pelatihan tidak berhenti di teknik tradisional frame-by-frame. Peserta juga diperkenalkan pada metode animasi tulang (bone animation) yang lebih cepat dan praktis.
Dengan memanfaatkan platform seperti Canva dan Toons.ai, mereka diajak melihat cara lain membuat animasi untuk kebutuhan:
Presentasi visual yang lebih hidup
Konten pembelajaran digital yang menarik perhatian
Materi multimedia yang siap pakai tanpa proses menggambar rumit di setiap frame
Pendekatan ini membuka wawasan baru bagi guru dan siswa bahwa animasi tidak selalu harus rumit. Ada banyak metode yang bisa disesuaikan dengan tujuan, waktu, dan kemampuan teknis.
Bukan Satu Hari Selesai: Ada Tugas, Ada Lanjutan
Pelatihan ini memang dikemas intensif, tetapi bukan program sekali datang lalu selesai.
Sebagai tindak lanjut, di akhir sesi peserta mendapatkan tugas mandiri:
Membuat animasi pendek dengan tema bebas
Mengumpulkan karya untuk dievaluasi pada pertemuan berikutnya
Tujuannya:
Mengukur sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi
Mendorong mereka lebih konsisten berlatih di luar sesi tatap muka
Melatih kemandirian dan kreativitas dalam menyelesaikan proyek animasi dari awal hingga akhir
Selama kegiatan, suasana kelas tampak hidup. Peserta aktif:
Bertanya ketika menemukan kendala teknis
Berdiskusi soal ide karakter dan cerita
Menunjukkan minat tinggi pada proses produksi animasi digital
Tim Abdimas Umsida pun memberikan pendampingan intensif untuk memastikan tidak ada peserta yang tertinggal.
Menyambungkan Sekolah dengan Industri Kreatif
Pelatihan ini menjadi contoh konkret bagaimana kampus dapat menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan industri kreatif.
Melalui animasi berbasis pen tablet, peserta tidak hanya mendapatkan skill teknis, tetapi juga:
Terasah semangat eksplorasi dan keberanian mencoba hal baru
Terbiasa berinovasi dalam menyajikan ide secara visual
Lebih siap beradaptasi dengan perkembangan teknologi kreatif
Umsida berharap, program pengabdian seperti ini dapat terus diperluas agar semakin banyak sekolah yang merasakan manfaatnya.
Ke depan, pelatihan serupa direncanakan menjangkau lebih banyak sekolah sebagai bentuk sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan dunia pendidikan, sekaligus menyiapkan generasi muda yang lebih percaya diri memasuki ekosistem industri kreatif digital.






