Literasi Digital Bukan Cuma Teori: AI Masuk ke Ruang Kelas

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PSPBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana (UNDANA) menggelar sebuah lokakarya bertema “Literasi dan Kesadaran Digital: Optimalisasi AI dalam Dunia Pendidikan” pada hari Jumat, 25 Juli 2025.
Bertempat di ruang kelas utama program studi, lokakarya ini mempertemukan dosen, mahasiswa, dan staf akademik untuk bersama-sama mengulik bagaimana kecerdasan buatan (AI) bisa mengubah cara kita mengajar dan belajar.
Fokusnya tidak sekadar mengenalkan tren teknologi, tetapi membekali peserta dengan pemahaman konseptual dan keterampilan praktis dalam menggunakan berbagai perangkat AI untuk kebutuhan pembelajaran.

Lokakarya ini menghadirkan empat narasumber yang membahas manfaat, tantangan, sampai cara menggunakan AI secara bertanggung jawab dalam konteks akademik.
Sesi 1: Mengenal Perangkat AI yang Bisa Kerja Bareng Guru

Sesi pembuka bertajuk “Perangkat AI dan Penggunaannya dalam Pembelajaran” dipandu oleh Bapak Viky G. L. Radja Pono.
Dalam sesi ini, peserta diajak memahami konsep dasar kecerdasan buatan, seperti:
pembelajaran mesin (machine learning)
pemrosesan bahasa alami (natural language processing)
pembelajaran adaptif yang menyesuaikan kebutuhan individu siswa
Tidak berhenti di teori, sesi ini juga menampilkan contoh konkret perangkat AI yang bisa langsung dipakai di kelas:
ChatGPT untuk membantu menyusun rencana pembelajaran dan ide aktivitas kelas
Grammarly dan QuillBot sebagai pendamping menulis dan penyuntingan teks
Canva AI untuk merancang konten visual yang menarik dan relevan dengan materi ajar
Peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga langsung praktik merancang rencana dan materi pembelajaran dengan bantuan berbagai tools AI tersebut.
Viky menegaskan bahwa AI bukan kompetitor guru:
AI tidak hadir untuk menggantikan guru. AI hadir untuk mendukung kita, memberi ruang lebih luas untuk kreativitas, empati, dan berpikir kritis dalam pendidikan.
Sesi 2: Etika, Privasi, dan Keamanan di Balik Teknologi Cerdas

Materi berikutnya dibawakan oleh Ibu Reyneldis B. Fernandez dengan topik “Penggunaan AI yang Bertanggung Jawab dalam Pendidikan: Etika, Privasi, dan Keamanan.”
Di sesi ini, peserta diajak melihat sisi lain dari pemanfaatan AI: risiko dan tanggung jawab.
Beberapa isu penting yang disorot antara lain:
potensi plagiarisme akibat penggunaan AI tanpa kontrol
penyebaran misinformasi jika output AI diterima mentah-mentah
privasi data siswa yang bisa terancam bila menggunakan platform secara sembarangan
Reyneldis mengingatkan bahwa penggunaan platform AI harus selalu diiringi sikap kritis, terutama ketika terkait data pribadi peserta didik.
Ia juga membagikan contoh praktik baik dari institusi yang sudah berhasil mengintegrasikan AI secara bertanggung jawab dalam sistem pendidikan mereka.
Pesannya jelas:
Pendidikan harus merangkul AI, tetapi jangan pernah mengorbankan etika dan privasi. Tanggung jawab kita sebagai pendidik adalah melindungi pengetahuan dan peserta didik.
Sesi 3: AI di Kelas Bahasa Inggris – Sahabat atau Lawan?

Sesi terakhir mengusung tema “Suara dari Kelas Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing: Sahabat atau Lawan?” yang dipaparkan oleh Ibu Santri E. P. Djahimo.
Fokus sesi ini adalah cara pembelajar Bahasa Inggris memandang AI dalam proses belajar mereka.
Dari hasil pengamatan dan pengalaman di kelas, muncul dua sisi yang kontras:
Banyak siswa mengapresiasi AI karena bisa memberi umpan balik instan dan membantu memperkaya kosakata.
Di sisi lain, ada kekhawatiran mengenai keaslian karya dan risiko ketergantungan berlebihan pada bantuan AI.
Untuk menjembatani dua sisi ini, Santri menawarkan beberapa strategi penggunaan AI yang lebih sehat dan terarah, seperti:
menjadikan AI sebagai alat bantu awal dalam menyusun bahan ajar dan merancang instruksi
selalu mengombinasikannya dengan tinjauan sejawat antar siswa
memastikan guru tetap memberi umpan balik manual untuk menjaga orisinalitas dan kualitas pembelajaran
Ia menekankan bahwa:
Kita perlu membantu para siswa memandang AI sebagai mitra belajar dan asisten, bukan penopang utama.
Dengan kata lain, AI boleh membantu, tetapi bukan tempat bersandar sepenuhnya.

Tiga Pilar Utama: Dasar AI, Praktik, dan Literasi Etika
Sepanjang lokakarya, peserta diajak memahami AI melalui tiga pilar utama:
Dasar-Dasar AI
Pemahaman tentang bagaimana pembelajaran mesin dan pemrosesan bahasa alami bekerja dalam konteks pendidikan, sehingga peserta tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mengerti logika di balik teknologi.Aplikasi Praktis
Penggunaan berbagai perangkat AI untuk:merancang rencana pembelajaran
meningkatkan kemampuan menulis
mengembangkan modul dan aktivitas interaktif di kelas
Literasi Etika
Penekanan pada pentingnya privasi, keamanan, dan integritas akademik dalam setiap langkah adopsi AI di lingkungan pendidikan.

AI, Efisiensi, dan Tanggung Jawab di UNDANA
Lokakarya ini menegaskan bahwa AI membawa peluang besar sekaligus tantangan serius bagi dunia pendidikan.
Peserta diajak untuk selalu menyeimbangkan:
efisiensi teknologi dengan pemikiran kritis, dan
kemudahan otomatisasi dengan tanggung jawab etis sebagai pendidik maupun pembelajar.
Mewakili Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, apresiasi yang tinggi disampaikan kepada para pemateri dan seluruh peserta yang aktif terlibat dalam diskusi dan praktik.
Penyelenggaraan lokakarya ini menjadi bukti komitmen UNDANA untuk:
mempersiapkan komunitas akademik menghadapi masa depan digital
memperkaya metodologi pengajaran di PSPBI FKIP UNDANA
meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa, mahasiswi, dan juga alumni yang berkecimpung di dunia pendidikan
Integrasi AI bukan lagi wacana masa depan, tetapi praktik hari ini. Lokakarya ini menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan bahwa pemanfaatan AI di UNDANA berjalan dengan cerdas, kritis, dan tetap menjunjung nilai-nilai etika dalam pendidikan.






