MedLink Smart: Inovasi Anak Teknik Mesin yang Mencuri Perhatian di Jepang
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali unjuk gigi di panggung internasional.
Tim MedLink-Smart dari Program Studi Teknik Mesin sukses meraih Gold Medal dan Special Award dalam ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2025 yang digelar di Tokyo, Jepang.
Mereka bukan hanya datang sebagai peserta, tapi pulang sebagai juara dengan membawa solusi konkret di dunia teknologi kesehatan.
Apa Itu MedLink Smart?
MedLink Smart adalah sebuah perangkat berbasis Internet of Medical Things (IoMT) yang terhubung secara real-time dengan sistem Electronic Medical Record (EMR).
Lebih dari sekadar alat pemantau, sistem ini menggabungkan:
Integrasi IoMT untuk konektivitas perangkat medis
Keterhubungan langsung dengan EMR agar data pasien tercatat secara rapi dan otomatis
Dukungan machine learning (pembelajaran mesin) untuk mengolah data secara cerdas
Koneksi ke layanan asisten pesan instan yang memudahkan komunikasi dan respons cepat
Semua ini dirangkai untuk menghasilkan diagnosis awal berbasis Artificial Intelligence (AI) yang bisa membantu tenaga medis mengambil keputusan dengan lebih cepat dan akurat.
Kunci Sukses: Melihat yang Tidak Dilihat Orang Lain
Menurut salah satu anggota tim, Marko Refianto, kekuatan utama MedLink Smart justru ada pada hal yang sering luput dari perhatian banyak orang.
Mereka tidak sekadar membuat alat canggih, tapi menyederhanakan proses diagnosis awal dengan cara mengintegrasikan AI ke dalam alur pelayanan medis sehari-hari.
Dengan pendekatan ini, teknologi tidak lagi terasa rumit, melainkan hadir sebagai pendamping praktis bagi tenaga kesehatan.
Susunan Tim: Anak Mesin, Rasa Tech Kesehatan
Tim MedLink-Smart beranggotakan empat mahasiswa Teknik Mesin UMS yang masing-masing punya peran jelas dan saling melengkapi:
Marko Refianto – Manufaktur Hardware
Muhammad Adityo Rivalta – Desain Hardware
Muhammad Akmal Indratma – Pengembang Perangkat Lunak
Yoon Eaindray – Analis Sistem Medis
Meski berasal dari ranah teknik mesin, mereka berani menembus batas disiplin ilmu dan masuk ke ranah teknologi kesehatan yang identik dengan dunia medis dan IT.
Inilah bukti bahwa mahasiswa teknik mesin bukan hanya berkutat pada mesin industri, tapi juga bisa melahirkan solusi cerdas di bidang kesehatan digital.
Dari Kampus ke Panggung Dunia
Sebelum menang di JDIE 2025, MedLink Smart sudah lebih dulu mencatat prestasi dengan meraih Silver Medal di ajang UMS International Innovation Day (UIID) 2025.
Proses pengembangan inovasi ini tidak instan. Di baliknya ada bimbingan intensif dari dosen pembimbing, Ir. Alfatih Hendrawan, S.T., M.T. yang menekankan pentingnya sistem kerja yang rapi.
Setiap sesi konsultasi dituntut untuk:
Menghadirkan alur kerja yang jelas
Menyertakan analisis perkiraan yang terukur
Mengembangkan sistem secara bertahap dari perencanaan hingga manufaktur
Pendekatan terstruktur inilah yang membuat MedLink Smart tidak hanya kuat di ide, tetapi juga matang di implementasi.
Perjalanan Riset: Maraton Sejak 2024
Persiapan menuju JDIE 2025 bukan kerja semalam. Tim mulai fokus menggarap inovasi ini sejak September 2024.
Seluruh rangkaian kegiatan mulai dari:
Riset konsep dan kebutuhan di lapangan
Pengembangan hardware dan software
Uji coba dan simulasi sistem
dilakukan di lingkungan kampus UMS.
Mereka juga mendapatkan dukungan penuh dari civitas academica UMS serta PT. Dynatech Internasional sebagai mitra utama, yang ikut mendorong pengembangan MedLink Smart hingga siap tampil di ajang internasional.
Tim menegaskan bahwa tanpa dukungan ekosistem tersebut, proyek ini tidak akan berkembang sejauh sekarang, apalagi sampai diakui di Jepang.
Tak Disangka, Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Saat pengumuman pemenang, tim mengaku tidak menduga bisa menyabet dua penghargaan sekaligus.
Inovasi yang sebelumnya sempat dianggap biasa saja justru mendapat apresiasi tinggi di level dunia.
Dari ajang ini, mereka juga mulai dilirik untuk melanjutkan riset lebih jauh, membuka peluang kolaborasi dan pengembangan MedLink Smart ke tahap yang lebih serius.
Belajar Disiplin ala Jepang
Mengikuti JDIE 2025 di Tokyo bukan hanya soal kompetisi, tapi juga soal pengalaman hidup.
Tim mengaku sangat terinspirasi oleh kedisiplinan masyarakat Jepang, terutama dalam hal menghargai waktu.
Nilai ini mereka bawa pulang sebagai motivasi tambahan untuk:
Lebih profesional dalam mengelola riset
Menjaga komitmen terhadap jadwal dan target
Mengembangkan inovasi dengan standar kerja yang lebih tinggi
Misi Lebih Besar: Teknik Mesin Harus Berani Lintas Bidang
Bagi tim MedLink-Smart, prestasi ini bukan garis akhir, melainkan titik awal misi yang lebih besar.
Mereka ingin mahasiswa Fakultas Teknik, khususnya Teknik Mesin, berani mendominasi di berbagai bidang, termasuk yang selama ini dianggap di luar zona nyaman.
Bukan hanya di industri manufaktur
Bukan hanya soal mesin dan otomotif
Namun juga di bidang-bidang baru seperti:
Kesehatan berbasis teknologi
Sistem cerdas dan AI
Integrasi IoT dan IoMT dalam kehidupan sehari-hari
Pesan tersiratnya jelas: latar belakang teknik mesin bukan batasan, tapi justru landasan untuk melompat lebih jauh ke dunia inovasi lintas disiplin.






