KuybeliKuybeli

YSL Turun ke TikTok Live: Akankah Kemewahan Tetap Terjaga di Ruang Live Commerce?

YSL Turun ke TikTok Live: Akankah Kemewahan Tetap Terjaga di Ruang Live Commerce?
Minat|Tren Makeup

YSL Masuk TikTok Live: Kemewahan Turun ke Lapak Rakyat?

● YSL sempat bikin heboh pada Juli lalu setelah ikut berjualan lewat sesi livestream.

● Publik kaget karena selama ini TikTok Live identik dengan produk murah dan diskon kilat.

● Langkah berani ini justru menunjukkan strategi inovatif YSL agar tetap relevan dengan pembeli masa kini.

Pernah kepikiran nggak, suatu hari ada brand mewah yang biasa tampil super eksklusif dan mahal tiba-tiba muncul di TikTok, jualan lewat livestream seperti pedagang harian?

Itulah yang baru saja dilakukan Yves Saint Laurent Beauty Indonesia. Brand fesyen dan kecantikan asal Prancis ini memilih turun langsung ke arena live commerce yang selama ini lebih dikenal sebagai “lapak produk murah”.

Tak heran, langkah ini langsung jadi bahan obrolan. Komentar receh khas netizen memenuhi kolom chat saat siaran berlangsung, mulai dari candaan soal harga sampai meme soal kemewahan yang “turun kasta”.

Pertanyaannya kemudian muncul: apakah strategi ini bakal menguatkan citra mewah YSL, atau justru menggerus auranya karena tampil di TikTok Live yang lekat dengan diskon dan produk mass market?

Paradoks Live Commerce untuk Brand Mewah

Produk mewah seperti YSL dibangun di atas citra eksklusif, prestise, dan pengalaman yang beda dari yang lain. Kemewahan bukan cuma soal harga, tapi juga tentang rasa “tidak semua orang bisa punya”.

Lalu apa jadinya ketika lipstik jutaan rupiah dijual di kanal yang sama dengan deterjen, fast fashion, panci anti lengket, hingga cilok dan jajanan pasar lain?

Fenomena ini bermula dari masa pandemi Covid-19 yang memaksa banyak brand mempercepat transformasi digital. Di level global, berbagai label glamor seperti Gucci, Louis Vuitton, dan Dior sudah lebih dulu menguji format livestreaming.

Hasilnya cenderung positif, meski tidak selalu mulus. Di awal, salah satu sesi livestream Dior di Cina pada 2021 sempat dihujani kritik karena dianggap membosankan, canggung, dan kurang profesional.

Menariknya, sebuah studi terbaru tahun 2025 dari Manchester Metropolitan University di Inggris mengungkap bahwa persepsi kemewahan tidak lagi menjadi hambatan utama bagi loyalitas konsumen.

Di dunia live streaming commerce, dikenal metode pendekatan tenang atau stream quiet selling method. Alih-alih agresif menjual, brand fokus pada storytelling, edukasi produk, dan membangun hubungan emosional ketimbang hard selling.

Strategi inilah yang diadopsi YSL di Indonesia. Alih-alih mengikuti gaya jualan teriak-teriak, YSL memilih tampil dengan image tenang, elegan, dan informatif sepanjang sesi live.

Mereka tampak paham bahwa audiens TikTok tetap bisa diberi pengalaman istimewa tanpa mengorbankan nilai dan filosofi brand, selama formatnya dirancang dengan hati-hati.

Dengan kata lain, livestream yang dilakukan YSL bukan sekadar ajang jualan, tapi medium membangun pengalaman melalui storytelling dan pendekatan soft selling yang konsisten dengan identitas luxury brand.

Ledakan Antusiasme Live Commerce di Indonesia

Dalam sepuluh tahun terakhir, peta distribusi produk mewah mengalami pergeseran tajam. Dulu, eksklusivitas nyaris hanya dikaitkan dengan butik berlokasi premium. Sekarang, pengalaman digital ikut membentuk cara konsumen berinteraksi dengan brand.

Live streaming commerce menjadi salah satu cara paling efektif untuk mendekatkan diri dengan pelanggan. Format ini menggabungkan hiburan dan transaksi dalam satu layar: belanja sambil nonton, nonton sambil belanja.

Di Cina, platform e-commerce seperti Taobao dan Douyin sudah lama mempelopori gaya belanja ini. Live streaming di sana bukan lagi sekadar sarana promosi, tetapi telah menjadi kanal distribusi resmi untuk banyak brand global, termasuk yang bersegmen mewah.

Tren serupa pelan-pelan menguat di Indonesia. Laporan Payments and Commerce Market Intelligence (PCMI) menunjukkan bahwa pada 2024, enam dari sepuluh pembeli di Indonesia sudah bertransaksi lewat live shopping.

Angka ini menjadi sinyal kuat bagi brand. Konsumen domestik ternyata sangat antusias berinteraksi lewat format belanja yang mengawinkan hiburan dan transaksi, yang sering disebut sebagai shoppertainment.

Masih dari laporan yang sama, omzet e-commerce Indonesia diprediksi tumbuh sekitar 19% per tahun hingga 2027. Kategori fesyen, aksesoris, kesehatan, dan kecantikan menguasai sekitar 30% pangsa pasar e-commerce.

Artinya, panggungnya sudah siap. Tinggal bagaimana brand, termasuk yang berkelas mewah, bermain dengan cerdas di dalamnya.

Adaptif atau Tertinggal: Belajar dari Kisah Tupperware

Langkah YSL bisa jadi bab baru dalam sejarah pemasaran brand luxury di Indonesia. Bila berhasil, mereka akan dikenang sebagai pionir yang berani menjembatani dunia kemewahan dengan budaya digital live commerce.

Kalau gagal, langkah ini berpotensi menjadi peringatan keras bahwa eksklusivitas yang salah kelola bisa runtuh secepat sentuhan tombol like dan share.

Intinya, kecepatan brand beradaptasi dengan perilaku konsumen yang terus berubah akibat zaman dan teknologi adalah kunci.

Kisah Tupperware jadi pengingat menarik. Pada masa jayanya, “Tupperware Party” bukan sekadar ajang jualan, tapi simbol gaya hidup modern dan eksklusif di kalangan ibu rumah tangga.

Namun, mereka terlambat hadir di ruang digital. Tupperware tak cukup cepat menyapa generasi konsumen muda yang lebih sering nongkrong di media sosial dibanding di ruang tamu acara party.

Akibatnya, pada April 2025, Tupperware Indonesia resmi menutup operasi. Bukan karena kualitas produk yang buruk, tetapi karena target pasar barunya hidup di dunia e-commerce, bukan di pertemuan tatap muka.

Sekarang, kita telah memasuki babak baru: era live shopping. Panggung digital ini bukan hanya membuka peluang besar, tapi sekaligus bisa menyingkirkan siapa pun yang tidak siap beradaptasi.

Tiga Pelajaran Penting untuk Brand Lokal

Dari kisah YSL dan dinamika live commerce, ada tiga pelajaran utama yang bisa dijadikan rujukan oleh brand lokal, baik yang sudah mapan maupun pendatang baru.

Pertama: Produk bagus saja tidak cukup.

Kanal distribusi harus lentur, variatif, dan mengikuti perilaku konsumen. Brand yang bersikukuh hanya di jalur lama berisiko ditinggalkan, meski produknya berkualitas.

Kedua: Relevansi lebih penting daripada nostalgia.

Brand yang berani hadir di ruang digital audiens muda, menawarkan pengalaman personal yang sesuai budaya mereka, punya peluang lebih besar untuk bertahan.

Ketiga: Livestreaming adalah panggung storytelling, bukan sekadar etalase diskon.

Brand yang cuma ikut-ikutan perang harga akan tenggelam di antara algoritma dan banjir promo. Di sisi lain, brand yang memanfaatkan live sebagai ruang bercerita—tentang nilai, asal-usul, hingga cara pakai produk—akan lebih menempel di kepala dan hati konsumen.

YSL tampaknya paham betul rumus ini. Mereka tidak mencabut akar identitas sebagai luxury brand. Butik fisik dan runway tetap menjadi panggung utama untuk menegaskan aura eksklusif.

Pada saat yang sama, mereka merangkul kanal livestreaming sebagai jembatan menuju konsumen muda yang tersebar di berbagai kota.

Kemewahan di Genggaman: Masa Depan Pemasaran Produk Mewah

Dalam beberapa waktu terakhir, YSL kembali tampil di panggung global dengan memamerkan koleksi Saint Laurent Spring Summer 2026 di Paris Fashion Week 2025, menghadirkan deretan bintang, termasuk penyanyi Korea Selatan yang berstatus mega bintang.

Secara paralel, mereka juga menyapa audiens lewat TikTok Shop, menjangkau konsumen yang mungkin belum pernah melangkah masuk ke butik eksklusif di kota besar.

Melalui pendekatan ini, YSL menunjukkan bahwa modernisasi distribusi bukan ancaman, melainkan alat untuk memperkuat brand.

Pada lanskap pemasaran mewah di Indonesia, strategi semacam ini berpotensi menjadikan YSL sebagai pionir: kemewahan tidak lagi terbatas pada etalase kaca di mal premium, tetapi hadir berani di layar kecil di genggaman tangan konsumen lintas kota dan wilayah.

Ke depan, pertanyaannya bukan lagi: “Bolehkah brand mewah masuk live commerce?” melainkan: “Siapa yang paling cerdas bikin live commerce terasa tetap mewah?”

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!