Kunjungan ke KBRI Tokyo: Momentum Baru Kerja Sama Makassar–Jepang
Kerja sama Makassar Jepang yang kini dijajaki melalui City-to-City Collaboration Project adalah upaya terstruktur Pemerintah Kota Makassar untuk menggandeng tiga kota di Jepang dalam pembenahan transportasi, pengendalian banjir, energi, dan pengelolaan sampah, sekaligus membuka peluang di sektor ketenagakerjaan, pengembangan UMKM, dan pendidikan demi pembangunan kota yang lebih berkelanjutan. Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, melakukan kunjungan ke KBRI Tokyo dan bertemu Wakil Duta Besar Maria Renata Hutagalung beserta jajaran KBRI sebagai langkah awal memperluas jaringan internasional itu. Kunjungan ini jauh dari sekadar seremoni; ia menandai niat politik yang jelas: Makassar tidak mau tertinggal dalam kompetisi kota-kota besar di Asia yang berlomba mengadopsi praktik kota sirkular dan energi terbarukan Jepang. Di titik ini, sikap proaktif Makassar patut diapresiasi, karena kota yang menunggu bantuan biasanya berakhir terus bergantung—sementara kota yang mencari mitra berpeluang memimpin.
Tiga Kota, Tiga Fokus: Transportasi, Energi, Banjir, dan Sampah
Pilihan Makassar menggandeng Yokohama, Kawasaki, dan Maniwa bukan kebetulan, tetapi strategi yang memetakan kekuatan masing-masing kota terhadap kebutuhan lokal Makassar. Dengan Yokohama, fokus diarahkan pada pengelolaan sampah transportasi dan energi, termasuk peluang belajar dari penerapan energi terbarukan Jepang yang selama ini dikenal disiplin dan terintegrasi dalam sistem perkotaan. Kawasaki diposisikan sebagai mitra untuk manajemen air dan pengendalian banjir—isu klasik Makassar yang jika dibiarkan akan menggerus kepercayaan publik pada pemerintah kota. Sementara Maniwa menjadi pintu masuk pengembangan ekonomi sirkular dan manajemen persampahan, sejalan dengan agenda Makassar memaparkan "Makassar City Waste Management Policy" di Asia-Pacific Circular Cities Forum. Sikap ini menunjukkan kesadaran bahwa solusi kota modern tidak lagi bisa parsial; transportasi, energi, dan sampah adalah satu ekosistem yang harus ditata bersama.
Dari Forum APCC ke Implementasi Lapangan
Agenda Makassar menghadiri Asia-Pacific Circular Cities Forum (APCC) di Yokohama pada 2–4 September 2026 bukan sekadar tampil di podium, tetapi membaca tren dan menegosiasikan posisi kota dalam jejaring kota sirkular Asia. Makassar dijadwalkan menjadi pembicara di Plenary Session 1 pada 3 September 2026, memaparkan kebijakan persampahan sebagai inisiator Asian Circular Cities Declaration (ACCD) yang mewakili kota-kota di Indonesia. Di level lokal, kebijakan seperti pembebasan iuran sampah untuk 3.122 rumah di Ujung Tanah menunjukkan bahwa diskursus kota sirkular sudah mulai diterjemahkan ke kebijakan konkret di kampung dan kompleks perumahan. Namun, forum dan deklarasi hanya berarti jika setelahnya ada pilot project nyata: misalnya integrasi sistem pengangkutan sampah yang lebih efisien dengan jaringan transportasi publik atau penerapan teknologi energi terbarukan Jepang pada fasilitas kota. Tanpa itu, Makassar berisiko hanya menjadi "pembicara hebat" tanpa rekam jejak implementasi.
Melebarkan Manfaat: Ketenagakerjaan, UMKM, dan Pendidikan
Poin menarik dari pernyataan Aliyah Mustika Ilham adalah keengganannya membatasi kerja sama pada sektor teknis kota semata; ia menegaskan pembukaan peluang di bidang ketenagakerjaan, pengembangan UMKM, dan pendidikan. Di sinilah kerja sama Makassar Jepang bisa melampaui wujud proyek fisik menjadi agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia. "Berbagai peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi pembangunan Kota Makassar tentu harus terus dijajaki. Mulai dari lingkungan, transportasi, pengendalian banjir, pengembangan ekonomi hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia," ujarnya. Jika serius, kolaborasi ini dapat menghasilkan program magang di perusahaan Jepang, pendampingan UMKM agar masuk rantai pasok ekonomi sirkular, dan pertukaran pelajar dengan universitas di kota-kota mitra. Tantangannya: memastikan akses merata, bukan hanya dinikmati segelintir elite birokrasi atau pelaku usaha besar. Kerja sama internasional yang sehat adalah yang terasa sampai ke pelajar, pekerja informal, dan pelaku UMKM di lorong-lorong Makassar.
Menakar Peluang dan Risiko: Mengapa Makassar Harus Konsisten
Secara politik, langkah Makassar memperluas kerja sama dengan tiga kota Jepang adalah sinyal bahwa pemerintah kota mulai memandang dirinya sebagai pemain regional, bukan sekadar ibu kota provinsi. Namun, kerja sama internasional sering jatuh pada jebakan seremoni: kunjungan, foto, dan MoU tanpa tindak lanjut. Aliyah sudah mengingatkan bahwa kerja sama tidak boleh berhenti pada pertemuan atau seremoni. Artinya, publik Makassar berhak menagih peta jalan yang jelas: apa indikator keberhasilan pengelolaan sampah transportasi dengan Yokohama, seberapa besar penurunan titik banjir lewat kerja sama dengan Kawasaki, dan target pengurangan timbunan sampah melalui program ekonomi sirkular bersama Maniwa. Tanpa indikator ini, ambisi menjadi kota sirkular hanya akan menambah jargon di spanduk. Kesimpulannya, arah Makassar sudah tepat: menggandeng energi terbarukan Jepang, keahlian manajemen air, dan praktik ekonomi sirkular. Tugas berikutnya adalah disiplin mengubah semua itu menjadi perubahan yang terlihat di jalan, sungai, dan tempat pembuangan sampah.






