Kepercayaan menjadi prasyarat pemanfaatan AI
Project NUSA adalah inisiatif Indonesia–Singapura untuk membangun fondasi AI yang aman dan tepercaya melalui tata kelola bersama serta pengetahuan lokal yang dapat digunakan sistem AI. KORIKA dan AI Singapore meluncurkannya dalam AI Impact Summit di Denpasar pada 21 Oktober 2026.
Peluncuran ini menjawab masalah yang kerap tertutup oleh antusiasme terhadap AI generatif: kemampuan menghasilkan konten berkembang cepat, tetapi aturan penggunaan dan keandalan data belum selalu mengimbanginya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa kepercayaan diperlukan agar pemanfaatan AI meluas, seraya mengingatkan bahwa perhatian pada kemampuan teknologi dapat mengabaikan tata kelola dan orisinalitas data.
Karena itu, nilai proyek ini tidak semestinya diukur dari banyaknya alat AI yang dipakai. Ukurannya adalah apakah organisasi bisa memahami batas penggunaan, menentukan siapa yang bertanggung jawab, dan memperoleh pengetahuan yang layak menjadi dasar keputusan. Tanpa kejelasan itu, adopsi berisiko berhenti sebagai percobaan terbatas, bukan perubahan yang berguna bagi pekerja maupun pengguna layanan.

Dua fondasi: aturan dan pengetahuan
Project NUSA menyiapkan dua fondasi yang saling melengkapi: Open-Source AI Governance serta Open Data and AI-Ready Knowledge. Yang pertama berfokus pada tata kelola AI yang aman dan bertanggung jawab, termasuk pengaturan akses, pengawasan aktivitas agen AI, dan akuntabilitas penggunaannya. Pertanyaan praktisnya sederhana tetapi penting: siapa yang berwenang memberi tugas kepada agen, tindakan apa yang perlu diawasi, dan siapa yang bertanggung jawab jika sistem bertindak keliru?
Fondasi kedua mengolah data yang secara hukum boleh dibagikan menjadi pengetahuan tepercaya agar AI lebih memahami bahasa, regulasi, dan konteks lokal. Istilah data terbuka AI di sini tidak berarti seluruh data perusahaan atau pelanggan otomatis diumumkan. Batas izin, keamanan, dan tujuan penggunaan harus jelas sebelum pengetahuan bersama dapat dipakai.
Pemisahan antara aturan dan bahan pengetahuan ini tepat: AI yang memahami konteks tetap memerlukan batas tindakan, sementara tata kelola yang baik tidak banyak membantu jika sistem bekerja dengan informasi yang tidak relevan atau tidak dapat dipercaya. Namun, rincian teknis, ketentuan akses, dan jadwal hasil belum diumumkan. Manfaatnya masih berupa tujuan yang harus dibuktikan, bukan capaian yang sudah terukur.
Dua puluh lembaga, satu pekerjaan bersama
Ekosistem awal Project NUSA melibatkan 20 lembaga. Komposisinya mempertemukan KORIKA dan AI Singapore dengan perguruan tinggi, lembaga keselamatan AI, bank, serta perusahaan teknologi dan industri. Daftar peserta mencakup BINUS, ITB, UGM, UI, AI Safety Institute Indonesia, BCA, Sinarmas Financial, AWS, Datasaur, EY Indonesia, ParagonCorp, dan sejumlah organisasi lainnya.
Keragaman ini adalah modal, bukan jaminan keberhasilan. Kampus dapat menyumbang riset dan talenta, sementara perusahaan membawa kebutuhan operasional dan pengalaman penerapan. Namun, keanggotaan dalam ekosistem tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa suatu lembaga telah berbagi data, menguji perangkat, atau menerapkan hasil proyek. Pembagian tugas dan cara pihak di luar kelompok awal dapat bergabung juga masih perlu diperjelas.
Bagi organisasi pengguna, komponen bersama yang kelak tersedia berpotensi menjadi titik awal: mereka tidak perlu merancang seluruh aturan dan sumber pengetahuan dari nol. Kepastian tentang akses data dan tanggung jawab penggunaan akan menentukan apakah penerapan bisa diperluas atau terus tertahan di tahap uji coba.

Kedaulatan AI harus dibuktikan lewat pemakaian
Kontribusi paling menjanjikan Project NUSA terhadap kedaulatan AI bukanlah menutup diri dari teknologi luar, melainkan memperkuat kemampuan lokal untuk menentukan aturan, membangun pengetahuan yang relevan, dan mengembangkan solusi sesuai kebutuhan. Kolaborasi lintas negara dapat mempercepat pekerjaan itu, selama kepentingan lokal dan hak atas data tetap menjadi bagian dari rancangan.
Fondasi bersama juga dapat membuka ruang ekonomi di luar lisensi teknologi: penyedia data tepercaya, audit, kepatuhan, integrasi sistem, dan pelatihan berpotensi menjadi bagian penting dari ekosistem. Dampak bagi masyarakat akan terasa jika AI yang digunakan di layanan dan tempat kerja lebih memahami bahasa serta aturan setempat, dan jika keputusan yang dibantu AI dapat diawasi serta dipertanggungjawabkan.
Tahap berikutnya perlu menjawab pertanyaan yang menentukan: kapan hasil pertama tersedia, siapa yang boleh mengaksesnya, dan bagaimana keberhasilan dinilai. Pengumuman peluncuran belum menetapkan jadwal rilis, ketentuan akses, keluaran pertama, maupun indikator keberhasilan. Solusi yang menunjukkan hasil positif disebut berpeluang diperluas ke pasar lain. Sampai bukti penerapan muncul, Project NUSA layak dipandang sebagai fondasi yang menjanjikan—bukan bukti bahwa kedaulatan AI telah tercapai.






