Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

AI Camp Telkom dan EduMind: Melatih Pintar Sekaligus Peka Digital

AI Camp Telkom dan EduMind: Melatih Pintar Sekaligus Peka Digital
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

AI Camp Telkom: Bukan Sekadar Mengajar Teknologi, Tapi Cara Hidup Digital

EduMind Wellbeing & AI Camp Telkom adalah program literasi AI pelajar yang menggabungkan pelatihan kecerdasan buatan dengan pemantauan wellbeing digital siswa, sehingga sekolah tidak hanya mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga cara tetap sehat secara emosional, kreatif, dan bertanggung jawab di tengah arus teknologi yang semakin intens. Inilah poin pentingnya: Telkom menjadikan AI bukan alat sulap di kelas, melainkan bagian dari ekosistem pendidikan AI bijak yang menyentuh sisi teknis dan sisi manusia sekaligus. Program AI Camp sekolah di Makassar diikuti 350 peserta—300 siswa dan 50 guru dari 10 SMA dan SMK—dengan fokus pada pemanfaatan teknologi AI secara kreatif, produktif, dan bertanggung jawab dalam pembelajaran. Di tengah tingkat adopsi AI nasional yang sudah mencapai 92%, kebutuhan akan pendidikan yang mengajarkan bagaimana dan untuk apa AI digunakan menjadi jauh lebih mendesak daripada sekadar tahu cara memencet tombol.

BISA PandAI: Literasi AI Pelajar yang Menyentuh Kesehatan Mental

Telkom menempatkan EduMind Wellbeing & AI Camp sebagai bagian dari inisiatif program BISA PandAI melalui BISA Vokasi, dan ini bukan detail administratif semata. Pesan yang dikirim ke sekolah jelas: literasi AI pelajar harus lahir bersama literasi tentang diri mereka sendiri. Platform EduMind diperkenalkan kepada guru untuk memantau wellbeing digital siswa lewat fitur weekly mood check-in, pemantauan wellbeing berbasis AI, dan sistem pelaporan yang berkelanjutan. Pendekatan ini berani, karena mengakui bahwa tekanan tugas, ekspektasi, dan gadget dapat menggerus kesehatan mental jika tidak ditangani. Alih-alih memandang AI sebagai ancaman, Telkom memakainya untuk membaca pola psikologis siswa dan membantu sekolah bertindak lebih cepat. Saat AI semakin masuk ke ruang kelas, menyiapkan generasi muda yang “cerdas, adaptif, dan berkarakter” tidak bisa hanya diukur dari nilai ujian, tapi dari apakah mereka sanggup bertahan secara emosional di ekosistem digital yang terus bergerak.

Ruang Eksplorasi: Dari Prompting di Makassar ke Komunitas di Malang

Yang membuat model Telkom menarik adalah konsistensi: pendekatan pembelajarannya di sekolah terhubung dengan apa yang dilakukan di komunitas. Di Makassar, siswa diberi ruang eksplorasi untuk memakai AI secara bijak, kreatif, dan produktif dalam aktivitas belajar. Di Malang, Telkom AI Center menjadi partner program AI for Everyone Batch 27 yang diikuti sekitar 40 peserta, membuka kesempatan masyarakat umum dan peserta magang mengenal fundamental AI, teknik prompting, dan penerapannya untuk produktivitas kerja dan bisnis. Peserta mempraktikkan generative AI menggunakan ChatGPT dan Google Flow untuk mengembangkan ide serta membuat poster dan video bertema Agustus—contoh konkret bahwa AI camp sekolah dan kelas komunitas bisa mengajarkan AI sebagai alat kerja sehari-hari, bukan sekadar proyek tugas. Menariknya, materi di Malang juga menyentuh Responsible AI dan AI Adoption, menegaskan bahwa etika dan tanggung jawab bukan topik tambahan, tetapi bagian dari kurikulum tidak resmi Telkom tentang pendidikan AI bijak.

Mengapa Model EduMind & AI Camp Layak Ditiru Sekolah Lain

Dengan adopsi AI nasional yang sudah mencapai 92%, menunda literasi AI pelajar berarti membiarkan generasi muda belajar dari algoritma dan konten tanpa bimbingan nilai. Telkom, melalui AI Camp sekolah di Makassar dan AI for Everyone di Malang, menunjukkan bahwa pendidikan AI bijak tidak harus rumit: cukup satukan tiga hal—pemahaman teknis, ruang praktik kreatif, dan sistem pendukung wellbeing digital siswa. Menurut Telkom, transformasi digital harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kesehatan mental pelajar agar mereka tumbuh menjadi generasi cerdas, adaptif, dan berkarakter. Pernyataan ini lebih dari slogan; ia menjadi landasan desain program, dari fitur weekly mood check-in di EduMind sampai sesi diskusi interaktif di kelas AI komunitas. Jika sekolah lain hanya mengejar kemampuan teknis tanpa ekosistem yang peduli pada emosi dan etika, maka yang lahir adalah pengguna AI yang pandai memanfaatkan fitur, tetapi miskin kompas moral.

Kesimpulan: Menyiapkan Generasi yang Melek AI, Bukan Diperbudak AI

Telkom tampak mengambil posisi jelas: AI harus menjadi alat bantu, bukan penguasa baru ruang kelas. EduMind Wellbeing & AI Camp dan rangkaian kegiatan seperti AI for Everyone Batch 27 membentuk ekosistem di mana pelajar dan masyarakat diajak memahami AI, mempraktikkannya, lalu mengkritisi cara menggunakannya. Ke depan, Telkom AI Center berkomitmen terus mendukung ruang pembelajaran AI yang relevan, inklusif, dan dapat diakses berbagai lapisan masyarakat, sembari memperluas kolaborasi dengan sekolah, guru, dan pemangku kepentingan untuk menyiapkan generasi muda menghadapi era teknologi. Model ini layak dijadikan rujukan: sekolah dan komunitas bukan sekadar konsumen aplikasi, tetapi laboratorium nilai tempat AI diuji dampaknya terhadap wellbeing digital siswa. Jika semakin banyak institusi menempatkan wellbeing dan tanggung jawab sebagai inti pendidikan AI, kita tidak hanya akan punya tenaga kerja yang produktif, tetapi warga digital yang mampu menjaga dirinya dan orang lain.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!