Mengapa Pengasuhan Harus Dimulai dari Mendengarkan
Mendengarkan aspirasi anak adalah pendekatan pengasuhan ketika orang tua memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan keinginan, pendapat, dan alasannya sebelum memutuskan aturan atau cara mendidik, sehingga tercipta komunikasi dua arah anak yang lebih jujur, hangat, dan penuh rasa saling percaya. Dalam pola asuh mendengarkan, orang tua tidak buru-buru menilai atau menghakimi, tetapi berusaha memahami dulu sudut pandang anak. Komika Boris Bokir mencontohkan sikap ini dengan memilih mendengarkan aspirasi anak terlebih dahulu sebelum menentukan cara untuk mengarahkan mereka. Menurutnya, anak kerap dicap nakal bukan karena mereka semata-mata bermasalah, melainkan karena orang tua belum sepenuhnya memahami keinginan dan alasan di balik perilaku mereka. Di sinilah kunci perubahan pengasuhan dari satu arah menjadi dialog yang bermakna.

Dampak Pola Asuh Konservatif yang Terlalu Otoriter
Pola asuh konservatif sering dibela dengan alasan “membentuk prinsip yang kuat”. Namun, contoh karakter Yeon Su dalam sebuah drama menunjukkan sisi lain: pola asuh konservatif membuatnya tumbuh dengan prinsip yang kuat, tetapi juga membatasi pengalamannya dalam memahami hal-hal yang selama ini dianggap tabu. Ketika anak dibesarkan dalam sistem yang top-down, mereka belajar patuh, tetapi tidak belajar bertanya. Mereka takut salah bicara, sehingga ekspresi dan inisiatif tertekan. Akibatnya, saat berhadapan dengan pandangan berbeda, seperti Yeon Su yang kesulitan menerima sudut pandang lain terkait isu sensitif, anak menjadi kaku dan defensif. Pengasuhan yang hanya menekankan ketaatan tanpa ruang dialog mungkin tampak rapi di permukaan, tetapi di dalamnya menyimpan kebingungan, rasa bersalah, dan ketidakmampuan mengelola perbedaan.
Komunikasi Dua Arah: Dari Kontrol Menjadi Kesepakatan
Jika pola konservatif menempatkan orang tua sebagai satu-satunya sumber kebenaran, komunikasi dua arah anak mengubah hubungan menjadi kerja sama. Boris Bokir menilai komunikasi dua arah menjadi hal penting dalam membangun hubungan antara orang tua dan anak. Ia menekankan perlunya mendengar aspirasi anak lebih dulu, baru orang tua mencari formula agar ada “deal” atau kesepakatan bersama. Sikap ini menggeser pengasuhan dari model top-down menjadi kolaboratif: aturan lahir dari diskusi, bukan sekadar perintah. Anak merasa dihargai karena pendapatnya ikut membentuk keputusan keluarga, sementara orang tua tetap memegang peran sebagai penentu batas yang aman. Hasilnya, kepercayaan tumbuh, konflik berkurang, dan anak lebih mau terbuka ketika menghadapi masalah, karena mereka tahu rumah adalah tempat didengar, bukan dihakimi.
Praktik Pola Asuh Mendengarkan di Rumah
Pola asuh mendengarkan bukan teori abstrak; ia dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten. Boris merumuskannya sederhana: “Mulai dengan mendengar aspirasinya dia bagaimana, maunya apa, maunya bagaimana”. Artinya, sebelum menegur, bertanyalah; sebelum memberi hukuman, gali dulu cerita lengkapnya. Orang tua bisa memulai dengan menyediakan waktu khusus mengobrol tanpa gawai, mengajukan pertanyaan terbuka, dan menahan diri untuk tidak langsung menyela. Ketika anak melakukan perilaku yang dianggap “nakal”, alih-alih memberi label, ikuti pendekatan seperti yang ia lakukan dalam perannya membina remaja yang kerap mendapat cap nakal: membantu mereka memahami perilaku, membangun empati, dan memperbaiki komunikasi dengan keluarga. Dari situ, orang tua dan anak dapat menyusun aturan sebagai kesepakatan, bukan ancaman.
Menutup Siklus Satu Arah, Membuka Ruang Tumbuh Bersama
Banyak orang tua masa kini membawa pengalaman dididik secara satu arah di masa kecil, seperti yang diakui Boris Bokir tentang pola didikan yang ia terima. Pengalaman itu bisa berakhir sebagai siklus yang diulang, atau titik balik untuk memilih cara baru. Dengan mendengarkan aspirasi anak sebelum menentukan cara mendidik, orang tua mengirim pesan kuat: suara anak penting, tetapi tanggung jawab tetap dijaga. Komunikasi dua arah anak membantu membangun kepercayaan dan kesepakatan, bukan sekadar kepatuhan kosong. Sebaliknya, pola asuh konservatif yang terlalu otoriter berisiko membatasi ekspresi dan inisiatif anak, seperti yang tampak pada keterbatasan Yeon Su memahami isu yang dianggap tabu. Saat orang tua berani beralih ke pendekatan mendengarkan, pengasuhan berubah dari medan perintah menjadi ruang tumbuh bersama.






