Membuat buku lebih dekat dengan siswa
Gerobak literasi adalah sarana bergerak yang membawa buku lebih dekat ke siswa, sehingga membaca terasa mudah dijangkau dan pilihan bacaan dapat ditemukan di lingkungan sekolah. Pendekatan ini menjadi inti upaya SMP Negeri 1 Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, yang menghadirkan gerobak buku tahun ini untuk meningkatkan minat baca siswa. Inisiatif tersebut menjadi bagian dari sosialisasi penguatan literasi dan numerasi bagi siswa kelas VII dan VIII. Nilainya bukan pada bentuk gerobaknya semata, melainkan pada perubahan kecil yang dibuatnya: siswa tidak harus lebih dulu mencari perpustakaan atau menunggu tugas untuk bertemu buku. Buku datang ke ruang keseharian mereka, memberi kesempatan untuk memilih bacaan sesuai minat.
Kepala sekolah Bambang Kuseno menyebut buku fiksi karya penulis yang populer di kalangan remaja banyak menarik perhatian siswa. Itu petunjuk penting bagi sekolah lain: bacaan yang disukai bukan pesaing materi pelajaran, tetapi pintu masuk menuju kebiasaan membaca. Setelah rasa ingin tahu tumbuh, siswa dapat didorong untuk memahami, mengolah, dan menyampaikan kembali informasi. Penguatan bertahap sejak kelas VII dan VIII juga diharapkan mendukung pembelajaran serta kesiapan mereka menghadapi Tes Kemampuan Akademik saat duduk di kelas IX.
Rutinitas membuat budaya membaca bertahan
Jika gerobak mengutamakan kedekatan, SMPN 25 Kota Tangerang menekankan kesinambungan. Sekolah itu menjalankan program literasi terjadwal, baik per kelas maupun untuk seluruh siswa, sebagai upaya menanamkan budaya gemar membaca. Kepala sekolah Marsum menjelaskan bahwa dorongannya adalah meningkatkan minat baca yang dinilai masih rendah di tingkat nasional serta memperluas pengetahuan siswa. Sekolah menyediakan pojok baca di setiap ruang kelas, koleksi di perpustakaan, dan taman-taman yang dapat digunakan untuk membaca. Siswa pun bebas memilih buku fiksi maupun nonfiksi.
Program yang terjadwal memberi membaca tempat tetap dalam hari sekolah, bukan menjadikannya kegiatan sesekali. Peran guru juga menentukan: bacaan dapat dihubungkan dengan mata pelajaran lain agar siswa melihat membaca sebagai bagian dari belajar, bukan pekerjaan tambahan. SMPN 25 mengirimkan siswa ke ajang Duta Literasi tingkat kota dan meraih posisi lima besar. Prestasi itu bukan ukuran tunggal keberhasilan, tetapi dapat membantu memberi pengakuan pada usaha literasi. Marsum berharap pembiasaan membaca terus diperluas agar minat siswa tumbuh.

Akses dan kebiasaan perlu berjalan bersama
Kedua pendekatan ini bukan pilihan yang saling meniadakan. Gerobak literasi menjawab soal akses: buku hadir lebih dekat, dan pilihan yang menarik dapat mengundang siswa mencoba. Program literasi sekolah menjawab soal konsistensi: jadwal, pojok baca, ruang luar, serta dukungan guru memberi kesempatan untuk mengulang kebiasaan. Tanpa akses, ajakan membaca mudah terasa abstrak; tanpa rutinitas, antusiasme awal bisa cepat surut. Karena itu, budaya membaca sekolah lebih mungkin tumbuh ketika siswa dapat menemukan buku yang disukai sekaligus memperoleh waktu dan ruang untuk membacanya.
Sekolah tidak harus memilih antara inovasi yang terlihat dan sistem yang terencana. Gerobak bisa menjadi pemantik, sementara jadwal membaca dan integrasi bacaan ke pelajaran menjaga nyalanya. Sebaliknya, program yang teratur akan lebih kuat jika koleksinya beragam dan dekat dengan minat siswa. Ukuran keberhasilan akhirnya bukan banyaknya kegiatan, melainkan apakah membaca menjadi pilihan yang berulang dan apakah siswa makin mampu memahami informasi. Akses membuka pintu; kebiasaan membuat siswa terus melangkah.






