Festival literasi: ruang publik yang menyalakan kembali budaya baca
Festival literasi anak adalah kegiatan kolaboratif di ruang publik yang menghadirkan buku, aktivitas edukatif, dan pertemuan berbagai komunitas, dirancang untuk menumbuhkan minat baca masyarakat, menguatkan kecakapan literasi, serta membangun budaya membaca yang berkelanjutan di luar ruang kelas melalui keterlibatan keluarga, sekolah, dan warga dari beragam latar sosial. Di tengah skor membaca Programme for International Student Assessment (PISA) yang baru mencapai 365 poin dan hanya 27 persen siswa usia 15 tahun berada di Level 2 ke atas dalam kecakapan membaca, festival literasi bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah pernyataan sikap bahwa hak baca dan akses buku layak diperjuangkan sebagai hak dasar warga. Kalau kita masih berharap lahir generasi yang kritis dan kreatif, maka festival literasi harus dipandang sebagai infrastruktur sosial, bukan hiburan musiman.
CIA Fest: memaknai hak baca anak dan solidaritas terhadap wilayah terdampak bencana
CIA Fest 2026 menunjukkan bahwa festival literasi anak bisa menjadi gerakan solidaritas yang konkret, bukan hanya panggung hiburan. Diselenggarakan pada 2–4 Oktober 2026 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, CIA Fest tahun ini mengangkat tema “SUMATRA: Dari Anak untuk Anak” dengan fokus Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara yang terdampak bencana pada akhir 2025. Tema tersebut membuat isu akses belajar anak korban bencana hadir dalam ruang partisipasi anak sendiri, bukan sekadar dibahas orang dewasa. Melalui gerakan Hak Baca Anak dan Buku Untuk Semua, CIA dan ISO mendorong orang tua serta guru memenuhi hak dasar anak atas bahan bacaan dan menghadirkan majalah ke wilayah dengan akses terbatas, termasuk daerah 3T. Ketika dana festival diarahkan untuk menghadirkan Majalah CIA dan ISO bagi anak-anak di wilayah terdampak, festival literasi anak berubah menjadi jembatan empati: anak-anak pembaca di kota ikut memulihkan hak baca teman-teman mereka yang hidup di situasi krisis.
Pekalongan: festival literasi sebagai ekosistem belajar, berkarya, dan berpikir kritis
Berbeda konteks, Festival Literasi Kota Pekalongan 2026 memperlihatkan bagaimana sebuah kota menjadikan literasi sebagai proyek membangun kualitas sumber daya manusia, bukan tugas perpustakaan semata. Selama tujuh hari, 5–11 Oktober 2026, halaman perpustakaan daerah diubah menjadi ruang bersama untuk belajar, berkarya, bertukar inspirasi, sekaligus membangun kembali budaya literasi masyarakat. Di sana, minat baca masyarakat digerakkan lewat pameran buku, lomba, pelatihan, hingga aktivitas edukatif yang bersanding dengan stan kuliner dan UMKM. Ini penting: literasi tidak ditempatkan dalam ruang elitis, tetapi menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Walikota menegaskan bahwa literasi saat ini bukan sekadar membaca buku, melainkan kecakapan literasi untuk memahami informasi digital secara utuh dan menyikapinya dengan bijak. Ketika pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan warga umum dipertemukan dalam satu festival, pesan yang lahir jelas: budaya baca tidak akan tumbuh kalau perpustakaan berdiri sendirian tanpa dukungan ekosistem sosial di sekelilingnya.
Menguatkan minat baca dan kecakapan literasi di luar kelas, bersama keluarga dan komunitas
Pelajaran utama dari CIA Fest dan Festival Literasi Pekalongan adalah bahwa minat baca masyarakat dan kecakapan literasi tidak akan meningkat hanya dengan menambah jam pelajaran. Keduanya menghadirkan bacaan dan aktivitas edukatif yang melibatkan anak, guru, sekolah, dan orang tua secara langsung, menjadikan festival literasi anak sebagai ruang berkumpul keluarga, bukan hanya agenda sekolah. Di Pekalongan, pemilihan perpustakaan daerah sebagai lokasi festival membuat warga yang sebelumnya tidak akrab dengan layanan perpustakaan akhirnya datang, mengenal, dan memanfaatkannya. Upaya pemberdayaan perpustakaan di kelurahan, sekolah, masyarakat hingga masjid sebagai bagian ekosistem literasi kota menunjukkan bahwa kebiasaan membaca harus menembus batas institusi formal. Di rumah, orang tua bisa melanjutkan dorongan festival dengan menyediakan ruang baca; di komunitas, aktivitas literasi bisa menjadi bagian rutin pertemuan warga. Tanpa keterlibatan keluarga dan komunitas, festival akan berakhir sebagai perayaan sesaat.
Kesimpulan: dari festival ke budaya, dari acara ke kebiasaan
Kenaikan skor membaca yang belum signifikan secara statistik menunjukkan bahwa penguatan literasi membutuhkan proses jangka panjang, bukan solusi instan. Di titik ini, festival literasi anak seperti CIA Fest dan Festival Literasi Pekalongan menawarkan model yang menarik: literasi dibangun sebagai gerakan sosial yang melibatkan pemerintah, sekolah, komunitas, keluarga, dan anak-anak sendiri. Meski salah satunya digelar di tengah efisiensi anggaran, kedua festival membuktikan bahwa ide, jejaring, dan komitmen jauh lebih menentukan daripada kemegahan acara. Jika kota-kota lain ingin menjadikan festival literasi sebagai katalis lahirnya masyarakat gemar membaca dan kritis, maka ada dua syarat yang tidak bisa ditawar: pemenuhan hak baca bagi kelompok rentan, serta keberlanjutan aktivitas literasi setelah panggung festival dibongkar. Tanpa keduanya, festival literasi akan berhenti sebagai kalender acara; dengan keduanya, ia bisa menjadi titik balik lahirnya budaya baca yang hidup di seluruh lapisan masyarakat.






