Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Seniman Pasifik Jadi Duta Budaya dari Yogyakarta

Seniman Pasifik Jadi Duta Budaya dari Yogyakarta
Minat|Destinasi Luar Negeri

IPCC sebagai Laboratorium Diplomasi Budaya Internasional

Indonesia Pacific Cultural Connect (IPCC) adalah program residensi seni selama sekitar sepuluh hari di Yogyakarta yang mempertemukan puluhan seniman dari kawasan Pasifik dan wilayah timur Nusantara untuk berkolaborasi, bertukar pengetahuan, dan membangun jejaring kreatif yang menjadikan mereka duta budaya informal di panggung internasional. IPCC bukan sekadar agenda pertukaran seni; ia adalah laboratorium diplomasi budaya internasional yang sengaja dirancang untuk mengubah seniman menjadi penghubung antarbangsa. Ketika Menteri Kebudayaan menutup rangkaian program di Museum Benteng Vredeburg, pesan yang ditegaskan jelas: hubungan historis dengan Pasifik harus diterjemahkan menjadi aksi budaya yang konkret dan berkelanjutan. Yogyakarta, sebagai pusat seni dan pengetahuan, dipilih bukan karena romantisme kota budaya semata, tetapi karena kapasitasnya menampung dialog kreatif yang intens antara seniman Pasifik Yogyakarta dan komunitas lokal.

Seniman Pasifik Jadi Duta Budaya dari Yogyakarta

Kekerabatan Historis: Modal Politik Kultural yang Lama Diabaikan

IPCC berangkat dari kesadaran bahwa kekerabatan historis dengan Pasifik adalah modal politik kultural yang terlalu lama diabaikan. Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa wilayah timur, dari Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi bagian utara hingga seluruh Papua, merupakan bagian dari kawasan Pasifik yang membentuk jembatan identitas bersama. Leluhur ras Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia disebut memiliki tautan budaya dan sejarah migrasi yang erat dari kawasan ini, sehingga hubungan budaya menjadi pintu utama kontak antarmasyarakat, bukan sekadar diplomasi tingkat pemerintah. Dalam konteks itu, IPCC 2026 residensi seni adalah koreksi halus terhadap cara lama melihat peta geopolitik: bukan lagi garis batas negara, tetapi alur pelayaran nenek moyang dan kesamaan ritme musik, tarian, serta kerajinan yang menyatukan. Menjadikan seniman sebagai aktor utama berarti mengakui bahwa narasi sejarah paling kuat disampaikan lewat karya, bukan pidato.

Residensi 10 Hari: Seniman sebagai Duta Budaya Informal

Selama sekitar sepuluh hari residensi di Yogyakarta, seniman Pasifik Yogyakarta dan perwakilan dari sembilan provinsi timur berkolaborasi menciptakan musik serta kerajinan berbahan bambu dan kelapa, menjadikan proses kreatif sebagai bahasa diplomasi yang paling jujur. Program ini mempertemukan 20 seniman dari delapan negara Pasifik dan 30 seniman dari provinsi-provinsi di Indonesia bagian timur, menjadikan total 50 pelaku budaya dalam satu ruang dialog intens. Menbud secara terang mendorong agar para peserta membawa pengalaman dan pengetahuan budaya yang mereka peroleh kembali ke negara masing-masing, berperan sebagai duta budaya informal yang menanamkan citra positif di komunitas mereka. "Program ini mempertemukan 20 seniman dari 8 negara Pasifik dan 30 seniman dari provinsi-provinsi di Indonesia bagian timur," ujar Endah T.D. Retnoastuti, menegaskan skala diplomasi budaya internasional yang sedang dibangun.

Kolaborasi Lintas Negara: Dari Networking ke Jejaring Kekerabatan

IPCC 2026 secara sadar menolak menjadikan residensi seni sebagai ajang networking dangkal. Tujuan yang dinyatakan adalah memperkuat kerja sama seni, mendorong pertukaran pengetahuan, dan membangun jejaring budaya lintas negara yang bertahan melampaui tanggal acara. Forum ini diinisiasi oleh yayasan lokal dengan pengawasan Direktorat Jenderal yang mengurusi diplomasi budaya, menjadikannya bagian dari strategi diplomasi budaya internasional yang terstruktur. Menbud berharap kolaborasi tidak berhenti pada residensi, tetapi tumbuh menjadi jaringan seni jangka panjang, sementara rangkaian IPCC dilanjutkan dengan seminar akademis “Beyond Cultural Exchange” untuk merumuskan kerja sama kebudayaan jangka panjang. Di sini, kolaborasi budaya lintas negara tidak diperlakukan sebagai proyek satu kali, melainkan sebagai investasi relasi antarmanusia yang menempatkan seniman sebagai simpul kepercayaan, bukan sekadar penghibur.

Museum Benteng Vredeburg: Menutup Program, Membuka Babak Baru

Penutupan IPCC di Museum Benteng Vredeburg bukan hanya seremoni akhir program, melainkan pernyataan simbolik bahwa diplomasi budaya adalah alat penghubung internasional yang berangkat dari ruang sejarah. Di tempat yang menyimpan memori perjuangan, Menbud menegaskan kembali bahwa negara-negara Pasifik memiliki kekerabatan kuat dengan masyarakat di timur, dan bahwa seniman yang hadir di Yogyakarta diharapkan menjadi duta budaya ketika kembali ke komunitas masing-masing. Menurut Charan Jeath Singh, IPCC memberi kesempatan peserta untuk saling belajar, mempertukarkan pengetahuan tradisional, mengembangkan keterampilan seni baru, dan menciptakan karya yang mencerminkan keberagaman serta kreativitas wilayah mereka. Penutupan di Vredeburg, disusul seminar akademis, menunjukkan satu hal: diplomasi budaya yang efektif tidak berhenti di panggung pertunjukan. Ia harus diteruskan dalam diskusi, kebijakan, dan, yang paling penting, dalam ingatan para seniman yang pulang sebagai pembawa cerita.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!