Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kolintang dan Arca Singosari: Budaya sebagai Duta Perdamaian

Kolintang dan Arca Singosari: Budaya sebagai Duta Perdamaian
Minat|Destinasi Luar Negeri

Budaya sebagai bahasa diplomasi dan perdamaian

Diplomasi budaya Indonesia adalah penggunaan seni, tradisi, dan warisan budaya sebagai bahasa komunikasi lintas negara untuk membangun kepercayaan, memperkuat citra, serta menyampaikan pesan perdamaian di panggung internasional, ketika diplomasi politik dan ekonomi sering kali berhadapan dengan batasan kepentingan sempit dan rivalitas geopolitik.

Jika selama ini soft power Indonesia kerap dipahami sebatas kuliner, pariwisata, atau batik, perkembangan terbaru menunjukkan gambaran yang lebih tajam dan strategis. Musik kolintang Minahasa yang tampil di markas besar UNESCO di Paris dan kepulangan artefak Candi Singosari ke Museum Nasional bukan sekadar peristiwa budaya; keduanya adalah pernyataan politik yang tenang namun tegas: identitas budaya Indonesia bukan hiasan, melainkan duta perdamaian sekaligus klaim atas posisi di percaturan warisan budaya dunia.

Kolintang Minahasa di UNESCO: Nada yang menjahit perbedaan

Musik kolintang dari Minahasa, Sulawesi Utara, tampil memukau di Paris dalam acara “Celebrating Kolintang” di Markas Besar UNESCO pada Kamis 1 Oktober. Di panggung itu, kolintang berpadu dengan balafon Afrika Barat, menciptakan dialog sonik antara Asia dan Afrika yang jauh lebih kuat daripada pidato diplomatik panjang lebar. Duta Besar RI untuk Prancis, Monako, dan Andorra sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, menegaskan bahwa pertunjukan kolintang bukan hanya tontonan seni, melainkan pembawa pesan perdamaian melalui pengalaman bersama atas bunyi dan ritme.

Pernyataan Dubes, bahwa perbedaan seharusnya membuka ruang dialog yang membangun kepercayaan dan pada akhirnya membantu membangun perdamaian, menjelaskan mengapa kolintang Minahasa UNESCO menjadi simbol penting diplomasi budaya Indonesia. Pengakuan UNESCO terhadap kolintang sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda bersama tradisi balafon setelah nominasi dari Mali, Burkina Faso, dan Côte d’Ivoire pada 2024, menunjukkan bahwa identitas lokal bisa memperoleh dimensi global tanpa kehilangan akarnya. Kolintang dan balafon kini berdiri sebagai shared cultural heritage, bukti bahwa warisan budaya dunia dapat lahir dari kerja sama lintas komunitas, bukan dari klaim sepihak atas kepemilikan.

Repatriasi arca Singosari: Memulihkan ingatan, bukan sekadar koleksi

Di Jakarta, narasi diplomasi budaya bergerak lewat jalur berbeda namun sama pentingnya: repatriasi artefak Candi Singosari. Museum Nasional Indonesia kembali dibuka sebagai tujuan wisata sejarah setelah penutupan dan perbaikan pascakebakaran. Di ruang pamer yang kini lebih modern dan interaktif, dua arca Candi Singosari yang pulang dari Belanda menjadi magnet kunjungan baru, bergabung dengan arca-arca Singosari lain yang telah lebih dulu menghuni Gedung Arca.

Kembalinya artefak Candi Singosari bukan isu teknis kuratorial, melainkan langkah politis yang mengembalikan fragmen memori kolektif ke rumah asalnya. Museum Nasional, dengan koleksi sekitar 190 ribu benda dan berdiri di atas lahan sekitar 26.500 meter persegi, berperan bukan hanya sebagai gudang benda kuno, tetapi sebagai institusi yang merawat, mengamankan, dan memperkenalkan peninggalan budaya kepada masyarakat. Repatriasi ini memperkaya koleksi nasional dan memperdalam identitas budaya, karena masyarakat dapat membaca sejarah kerajaan, kepercayaan, dan estetika masa lalu secara lebih utuh, bukan melalui narasi yang terpotong dan tersebar di luar negeri.

Soft power Indonesia: Dari panggung UNESCO ke ruang pamer Museum Nasional

Yang mengikat dua peristiwa ini adalah kenyataan bahwa diplomasi budaya Indonesia sedang bergerak dari level simbolik ke level strategis. Di UNESCO, kegiatan yang diinisiasi KBRI dan Delegasi Tetap RI mengusung pesan budaya sebagai ruang dialog dan kerja sama antarbangsa. Di Museum Nasional, repatriasi artefak dan pembaruan ruang pamer mengubah kunjungan publik menjadi pengalaman bernegosiasi dengan identitas sejarah sendiri. Soft power Indonesia bekerja lewat seniman kolintang yang berkolaborasi dengan pemain balafon membawakan “La Vie en Rose” sebagai simbol perjumpaan budaya Asia-Afrika, sekaligus lewat kurator museum yang menata ulang arca Singosari sebagai pusat perhatian baru.

Diplomasi budaya melalui seni tradisional memperkuat posisi Indonesia di forum internasional, karena ia menawarkan narasi damai yang konkret: pertemuan musik lintas benua, warisan budaya dunia yang dibagi, dan artefak bersejarah yang kembali ke pangkuan publik. Bagi warga biasa, dampaknya terasa lewat akses yang lebih luas ke ruang pamer modern, kesempatan menyaksikan langsung arca Singosari yang pulang, dan kebanggaan bahwa instrumen tradisional seperti kolintang kini diakui di panggung dunia. Soft power semacam ini tidak mengandalkan kekuatan militer atau ekonomi, tetapi kemampuan mengajak orang lain merasakan dan memahami dunia melalui lensa budaya.

Kesimpulan: Menjaga warisan, merawat perdamaian

Dari Paris hingga Jakarta, satu pesan menjadi jelas: diplomasi budaya Indonesia bukan pelengkap, melainkan salah satu wajah utama politik luar negeri dan pembentukan identitas nasional. Kolintang Minahasa di UNESCO menunjukkan bahwa perbedaan bunyi dan tradisi bisa bertemu dalam harmoni, sementara artefak Candi Singosari yang kembali dari Belanda menegaskan hak atas memori sejarah dan ruang untuk merangkai narasi sendiri.

Tantangannya sekarang adalah konsistensi. Pertunjukan seni di forum global dan repatriasi benda budaya tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial, tetapi harus diikuti penguatan komunitas penjaga tradisi, riset kritis di museum, serta kebijakan yang menempatkan diplomasi budaya sebagai prioritas, bukan bonus. Jika itu dilakukan, soft power Indonesia akan tumbuh bukan karena slogan, melainkan karena dunia melihat, mendengar, dan mengakui bahwa budaya di sini hidup, berani berdialog, dan berpihak pada perdamaian.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!