Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Badan Pengawas Obat Manfaatkan AI untuk Memangkas Siklus Penemuan Obat

Badan Pengawas Obat Manfaatkan AI untuk Memangkas Siklus Penemuan Obat
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

AI Mengubah Mainan: Dari Regulator Pasif ke Orkestrator Penemuan Obat

Penemuan obat AI adalah penggunaan kecerdasan buatan di seluruh rantai pengembangan obat, mulai dari identifikasi molekul, simulasi dan uji praklinis, hingga uji klinis, registrasi, dan pengawasan distribusi, dengan tujuan mempercepat waktu pengembangan sekaligus meningkatkan ketepatan dan keamanan bagi pasien. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kini tidak lagi sekadar menjadi penjaga gerbang regulasi; lembaga ini mulai memakai artificial intelligence (AI) dalam pengawasan dan regulasi produk kesehatan untuk mempercepat proses penemuan obat yang selama ini terkenal panjang dan ruwet.Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan AI diposisikan sebagai alat bantu yang membuat pekerjaan lebih cepat dan mengurangi human error, bukan sebagai pengganti standar keselamatan yang sudah ada.

Badan Pengawas Obat Manfaatkan AI untuk Memangkas Siklus Penemuan Obat

Memangkas Tahapan Investigational New Drug: Dari Hit Molecule ke Uji Klinis

Di jantung pengembangan farmasi AI, masalah klasiknya jelas: tahapan Investigational New Drug (IND) terlalu panjang dan boros sumber daya. Taruna Ikrar menjelaskan bahwa proses dimulai dari identifikasi molekul yang berinteraksi dengan sasaran biologis, atau molecule hit, dengan menyaring jutaan molekul sebelum divalidasi dan dipilih sebagai kandidat obat. Tanpa AI, setiap tahap screening, validasi, dan penyusunan kandidat berjalan lambat dan rentan kekeliruan. Kini, AI digunakan dalam uji praklinis dan simulasi, sehingga pengujian dapat dilakukan lebih cepat melalui uji preklinis dan uji simulasi yang ditopang model komputasi. Dalam kata-kata Taruna, “ada proses pengujian obat yang lebih cepat dengan menggunakan AI, misalnya uji preklinis, uji simulasi, dan sebagainya… dengan demikian akan mempercepat penemuan obat”.

Registrasi Obat Otomatis dan Sertifikasi: AI Masuk ke Inti Birokrasi

Perubahan paling terasa bagi industri dan tenaga kesehatan muncul pada ranah registrasi obat otomatis dan sertifikasi. Taruna mengungkap bahwa AI kini diterapkan di berbagai unit BPOM, mulai dari sistem barcode dan proses registrasi hingga penelitian serta uji klinis yang dilakukan ilmuwan. Ini bukan sekadar digitalisasi formulir; AI dipakai untuk menata, menganalisis, dan menghubungkan data dalam volume jutaan hingga miliaran entri sehingga proses sertifikasi dan regulasi menjadi lebih efisien dan praktis. Hasilnya, antrean administrasi yang biasanya memakan waktu panjang berpotensi dipangkas, sementara konsistensi penilaian meningkat karena human error berkurang. Dengan demikian, pengembangan farmasi AI tidak berhenti di laboratorium, tetapi merembes ke jantung birokrasi pengawasan obat, menggeser kultur regulasi dari manual dan lambat menjadi berbasis data.

Dari Gudang ke Pasien: Pelacakan Peredaran Obat Berbasis AI

Bagi masyarakat, dampak paling nyata dari BPOM artificial intelligence adalah kemampuan melacak obat yang sudah beredar. AI dikombinasikan dengan sistem barcode sehingga perjalanan satu produk dapat diikuti: dari mana dikirim, sampai di mana, digunakan di mana, dan oleh siapa. Dengan pendekatan ini, pengawasan tidak berhenti saat izin edar terbit; siklus hidup obat di lapangan ikut terpantau. Taruna menjelaskan bahwa penggunaan AI membuat pekerjaan dalam skala jutaan sampai miliaran data menjadi lebih cepat dan aman, sekaligus mengurangi human error. Untuk publik, ini berarti dua hal: risiko obat ilegal atau bermasalah bisa terdeteksi lebih dini, dan jika terjadi kejadian tak diinginkan, penarikan produk dapat dilakukan secara lebih terarah berbasis data distribusi yang detail.

Belajar dari China dan Agenda Lanjut: AI Sebagai Infrastruktur Regulasi Baru

BPOM tidak bergerak sendiri; langkah ini lahir dari pembelajaran atas penerapan AI dalam pengaturan dan pengawasan obat di China, yang sudah lebih dulu memanfaatkan teknologi ini untuk menangani data besar dalam sistem regulasi mereka. Taruna Ikrar bertemu otoritas pengawas setempat serta pelaku industri medis, sekaligus memaparkan bagaimana AI mulai diterapkan dalam regulasi obat dan makanan di dalam negeri. Poin pentingnya: AI diperlakukan sebagai infrastruktur regulasi baru, bukan proyek sampingan. Setelah AI diterapkan, data yang dihasilkan setiap tahun dianalisis untuk menyusun standar yang lebih presisi, sehingga produk yang beredar bisa lebih terjamin keamanan dan kelayakannya. Taruna menyebut penerapan AI kini mencakup registrasi, sertifikasi, hingga distribusi, dan ini menandai pergeseran jangka panjang menuju ekosistem pengawasan obat yang lebih data-driven dan responsif.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!