Angka besar belum menjawab soal manfaat
Investasi daerah adalah penanaman modal yang semestinya mendorong kegiatan usaha sekaligus memperluas kesempatan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya. Menjelang ulang tahun ke-55 BP Batam, pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa besar investasi masuk, melainkan apakah warga ikut merasakan hasilnya. Pada 23 Oktober 2026, Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis menulis refleksi dalam perjalanan pulang dari Seoul ke Batam, membawa pelajaran dari Korea Selatan dan pekerjaan yang menanti di kantor. Realisasi BP Batam investasi pada Semester I 2026 mencapai Rp38,97 triliun, atau 55,67 persen dari target tahunan Rp70 triliun. Itu sinyal kuat bagi daya tarik usaha Batam, tetapi bukan bukti bahwa manfaat sudah merata. Anak muda masih mencari pekerjaan, sementara sebagian warga masih menunggu air mengalir. Ukuran keberhasilan seharusnya mencakup kehidupan sehari-hari, bukan hanya besarnya modal.

Pertumbuhan mesti membuka pintu kerja
Pertumbuhan ekonomi Batam memang mengesankan: pada 2025 ekonomi tumbuh 6,76 persen dengan PDRB Rp253,64 triliun. Pada Triwulan II 2026, pertumbuhan tahunan mencapai 7,28 persen, lebih tinggi daripada Kepulauan Riau sebesar 6,99 persen dan nasional 5,29 persen. Namun, laju itu belum cukup menjadi alasan untuk berpuas diri. Tingkat pengangguran terbuka turun dari 8,14 persen pada 2023 menjadi 7,68 persen pada 2024 dan 7,57 persen pada 2025, tetapi pencari kerja tetap membutuhkan peluang yang dapat mereka akses. Lapangan kerja Batam perlu dinilai bukan hanya dari jumlahnya, melainkan juga dari kestabilan pendapatan, mutu pekerjaan, dan peluang warga setempat untuk mengisi posisi yang tersedia. Pertumbuhan harus berjalan seiring dengan pendapatan yang lebih baik dan perlindungan bagi keluarga rentan, bukan hanya aktivitas usaha yang meningkat.
Kesejahteraan juga berarti layanan dasar
Ada kemajuan yang patut diakui: IPM Batam naik dari 83,32 pada 2024 menjadi 83,80 pada 2025, sementara tingkat kemiskinan turun dari 4,85 persen menjadi 3,81 persen. Tetapi angka rata-rata tidak menghapus pengalaman keluarga dengan pendapatan tak menentu atau warga yang belum memperoleh layanan dasar dengan andal. Persoalan air di Batam telah berulang sejak lama; berkurangnya hujan dan menurunnya cadangan waduk perlu diantisipasi. Saat berkunjung ke fasilitas K-water di kawasan Danau Sihwa, Fary membawa pulang pelajaran tentang perencanaan kebutuhan air industri dan masyarakat secara terpadu. Pembangunan infrastruktur Batam, khususnya air, tidak boleh berhenti pada kapasitas yang direncanakan. Instalasi pengolahan, jaringan distribusi, pengurangan kebocoran, serta keandalan pompa dan pasokan listrik juga harus siap. Surplus dalam neraca harus sampai ke keran warga.
Ukur keberhasilan dari dampak yang dirasakan
Rencana pasokan air memberi gambaran tentang pentingnya menghubungkan proyek dengan kebutuhan nyata. Pada 2027, kapasitas diproyeksikan mencapai 6.186 liter per detik, sementara kebutuhan diperkirakan 5.681 liter per detik. Pada 2032, kapasitas diproyeksikan naik menjadi 9.876 liter per detik, dibanding kebutuhan 6.672 liter per detik. Proyeksi itu bukan jaminan: realisasinya bergantung pada pelaksanaan program yang konsisten, termasuk dukungan investasi swasta. Prinsip yang sama patut dipakai untuk proyek-proyek besar lainnya. Apakah warga bisa mengakses peluang usaha dan pekerjaan yang tercipta? Apakah manfaatnya bertahan setelah pembangunan selesai? Pertanyaan seperti ini membuat pertumbuhan lebih bermakna dan membantu memastikan warga bukan sekadar penonton. Investasi menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi; kehidupan warga menunjukkan sejauh mana hasilnya sampai kepada mereka. Pada usia ke-55, keberhasilan Batam semestinya tampak dalam perbaikan yang dirasakan dan kemajuan yang bisa diperiksa.






