Apa Itu Skin Booster hADM dan Mengapa Viral?
Skin booster ilegal berbasis human acellular dermal matrix (hADM) adalah produk injeksi wajah yang menggunakan matriks jaringan kulit manusia donor yang telah diolah, diklaim memberi efek kulit lebih halus dan awet muda, namun beredar tanpa izin resmi dan bertentangan dengan aturan penggunaan bahan manusia dalam kosmetik sehingga memunculkan ancaman kesehatan dan masalah hukum bagi pasien maupun tenaga kesehatan yang nekat memakainya. Fenomena skin booster Korea risiko yang disebut-sebut sebagai “suntik kulit mayat” menjadi viral karena narasi ekstrem dan janji hasil tahan lama. Di media sosial, produk ini dipromosikan sebagai terobosan estetika yang “lebih kuat” dibandingkan skin booster biasa. Padahal, menurut PERDOSKI, istilah tersebut tidak akurat secara ilmiah dan berpotensi menyesatkan pasien tentang proses dan sifat bahan hADM. Di balik popularitasnya, publik cenderung melihat hasil sebelum–sesudah, bukan memikirkan keamanan jangka panjang.
Status Legal, Investigasi BPOM, dan Sanksi yang Mengintai
Peringatan BPOM soal skin booster ilegal berbahan hADM sangat tegas: produk ini belum memperoleh persetujuan, belum terdaftar, dan belum beredar secara legal. Aturan teknis bahan kosmetik melarang penggunaan sel, jaringan, atau produk yang berasal dari manusia dalam kosmetik yang beredar di pasaran. Artinya, produsen dan klinik tidak bisa menyamarkan injeksi hADM sebagai sekadar perawatan kecantikan biasa. Jika ingin digunakan sebagai obat atau produk biologi dalam pelayanan kesehatan, hADM wajib melalui registrasi, evaluasi Komite Nasional, serta pembuktian keamanan, khasiat, dan mutu yang ketat. Saat ini, BPOM sedang melakukan investigasi lewat dua kedeputian yang mengurus pengawasan obat dan penindakan untuk menelusuri rantai peredaran skin booster “mayat” tersebut. Kepala BPOM menegaskan, lembaganya siap melakukan tindakan hukum bila terbukti ada pelanggaran atau peredaran produk secara ilegal. Mengabaikan regulasi bukan hanya urusan etika; ini adalah risiko pidana yang nyata.
Risiko Medis: Dari Infeksi hingga Kerusakan Kulit Jangka Panjang
Di balik tampilan mulus yang dijanjikan, skin booster Korea risiko berbasis hADM membawa daftar ancaman kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. PERDOSKI mengingatkan, penggunaan produk biologis tanpa izin edar resmi berpotensi menimbulkan risiko kesehatan fatal. Dokter Hanny Nilasari menyebut efek samping yang mungkin muncul: nyeri, bengkak, infeksi, peradangan, benjolan, hingga komplikasi penyumbatan pembuluh darah. Berbeda dengan skin booster konvensional berbahan asam hialuronat, hADM tidak dapat dilarutkan dengan enzim hialuronidase saat terjadi komplikasi. Artinya, ketika sesuatu berjalan salah, penanganannya jauh lebih rumit dan hasilnya tidak selalu bisa dikembalikan. Di sisi lain, produk skincare berbahaya yang masuk secara ilegal cenderung memiliki rantai penyimpanan yang tidak jelas. Gangguan rantai dingin membuat sterilisasi diragukan dan membuka peluang kontaminasi bakteri. BPOM bahkan pernah menemukan ribuan tautan kosmetik ilegal yang berisiko menimbulkan iritasi hingga gangguan jangka panjang pada kulit. Mengejar kulit glowing dengan cara seperti ini sama saja mempertaruhkan kesehatan wajah sebagai kelinci percobaan.
Peran PERDOSKI: Meluruskan Mitos ‘Suntik Kulit Mayat’
Istilah “suntik kulit mayat” yang melekat pada skin booster hADM mungkin efektif memancing perhatian, tetapi tidak mencerminkan proses ilmiah yang terjadi. PERDOSKI menegaskan, hADM adalah matriks jaringan kulit donor yang sudah melalui penghilangan sel, pemurnian, sterilisasi, pengolahan menjadi partikel, hingga rekonstitusi sebelum digunakan. Jadi, bukan jaringan hidup utuh ataupun sekadar “kulit murni” seperti klaim promosi yang sering beredar. Menurut PERDOSKI, perkembangan teknologi dermatologi harus menempatkan keamanan pasien, legalitas, transparansi sumber bahan, dan bukti klinis sebagai fondasi utama. Di Korea Selatan, penggunaan hADM sebagai skin booster dilakukan di bawah pengawasan ketat dan hanya boleh disuntikkan oleh dokter spesialis kulit atau bedah plastik. Sayangnya, ketika tren ini diimpor secara informal, yang sampai ke publik adalah sensasi dan klaim tahan lama, bukan prosedur ketat dan regulasi yang menyertainya. Di sinilah peran dokter spesialis menjadi penyeimbang: meluruskan mitos, menjelaskan risiko, dan menolak tindakan yang tidak etis.
Langkah Bijak Konsumen: Utamakan Izin, Dokter, dan Akal Sehat
Saat tren kecantikan bergerak lebih cepat daripada regulasi, konsumen perlu menahan diri. BPOM meminta masyarakat tidak mudah tergiur produk yang viral dan tidak menggunakan produk yang belum terdaftar atau belum memperoleh persetujuan. Pesan PERDOSKI sejalan: praktisi maupun konsumen diingatkan untuk tidak nekat menggunakan produk ilegal, meski digembar-gemborkan memiliki efek tahan lama. Kalimat yang patut dikutip di sini adalah peringatan dr Hanny, “Masyarakat tidak boleh hanya tergiur klaim tahan lama tanpa memastikan keamanan dan izin resminya.” Secara praktis, beberapa langkah sederhana bisa menyelamatkan kulit: selalu cek nomor izin BPOM sebelum injeksi maupun membeli produk skincare berbahaya potensial; konsultasi dengan dokter spesialis kulit sebelum mencoba skin booster baru; hindari klinik yang menawarkan prosedur “rahasia” tanpa menjelaskan bahan dan status legal; dan waspadai promosi yang mengandalkan ketakutan menua tanpa memberikan informasi ilmiah. Kecantikan yang sehat adalah hasil keputusan rasional, bukan keberanian mengambil risiko yang tidak perlu.






