Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

ISI Yogyakarta Perluas Pendidikan Musik lewat Seni dan Komunikasi

ISI Yogyakarta Perluas Pendidikan Musik lewat Seni dan Komunikasi
Minat|Maestro Klasik

Pendidikan Musik Inovatif: Bukan Sekadar Latihan Teknik

Pendidikan musik inovatif adalah pendekatan pengajaran yang menggabungkan tradisi musikal lokal, teori pedagogi kontemporer, dan keterampilan komunikasi, sehingga musisi tidak hanya mahir bermain dan mencipta, tetapi juga mampu menjelaskan gagasan, mengelola proses belajar, dan berinteraksi dengan beragam audiens secara efektif dalam konteks sosial budaya yang terus berubah. Pendekatan seperti ini menuntut kampus seni untuk keluar dari zona nyaman kurikulum teknis dan mulai melihat musisi sebagai pendidik, fasilitator, sekaligus komunikator. Di titik ini, ISI Yogyakarta tampak memilih jalur yang lebih berani: menyeimbangkan akar seni nusantara dengan tuntutan profesional dunia modern. Alih-alih terjebak pada retorika pelestarian, institusi ini mendorong tradisi menjadi sumber pengetahuan hidup yang dibawa ke ruang kelas dan panggung publik.

Inovasi Jathilan: Tradisi sebagai Laboratorium Pedagogi Musik Kontemporer

Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026, tim ISI Yogyakarta mengimplementasikan inovasi Jathilan Turonggo Kos-Kosan berbasis tetabuhan etnis Nusantara di Bakulan Wetan, Patalan, Jetis, Bantul. Di sini, jathilan tidak diperlakukan sebagai artefak beku, melainkan sebagai laboratorium pedagogi musik kontemporer. Kekayaan tetabuhan etnis Nusantara dikembangkan menjadi sumber penciptaan musikal bagi kelompok Jathilan Turonggo Kos-Kosan, dengan komposisi baru seperti Musik Pambuko Turonggo Kos-Kosan yang disusun melalui pendekatan ansambel dan pendampingan tata teknik pentas. "Program ini mencatat peningkatan pengetahuan dan keterampilan sebesar 80 persen, kenaikan partisipasi remaja 50 persen, serta tingkat kepuasan mitra 95 persen". Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa ketika tradisi dijadikan ruang belajar kreatif, seni nusantara tidak kehilangan karakter, melainkan memperoleh relevansi baru di mata generasi muda.

ISI Yogyakarta Perluas Pendidikan Musik lewat Seni dan Komunikasi

Mendekatkan Generasi Muda ke Seni Nusantara

Pilihan ISI Yogyakarta untuk menjadikan jathilan sebagai pusat eksperimen pembelajaran jelas berpihak pada generasi muda. Metode pembelajaran dikembangkan agar jathilan semakin dekat dengan remaja melalui eksplorasi musikal yang kontekstual, tanpa memutus hubungan dengan nilai, identitas, dan praktik budaya yang telah berkembang di masyarakat. Secara kualitatif, program ini mendorong perubahan cara generasi muda memandang musik tradisional: bukan seni kuno yang jauh dari keseharian, melainkan ruang ekspresi dan pertemuan antargenerasi. Di sinilah tampak wajah pedagogi musik kontemporer—tradisi dipakai sebagai titik awal dialog, bukan sekadar materi hafalan. Model ini menghubungkan pendidikan tinggi, penciptaan artistik, inovasi, dan pemberdayaan komunitas, sehingga pendidikan musik inovatif tidak berhenti di kampus, tetapi menetes ke ekosistem kebudayaan yang lebih luas.

The Art of Speaking: Seni Komunikasi Musisi sebagai Kompetensi Inti

Jika inovasi jathilan memperkuat akar seni nusantara, forum "The Art of Speaking" memperjelas arah lain yang sama penting: seni komunikasi musisi. Program Studi S-1 Pendidikan Musik ISI Yogyakarta menyelenggarakan forum bertema "Membangun Karir, Relasi, dan Kompetensi Mengajar melalui Komunikasi yang Kuat" di Concert Hall kampus, menghadirkan Evi Putrianti dan Septirini Sekar Nusantari sebagai MC, moderator, dan fasilitator public speaking. Penyelenggaraan The Art of Speaking menempatkan komunikasi sebagai kompetensi kunci bagi mahasiswa seni, terutama calon pendidik musik. Mahasiswa didorong memahami bahwa public speaking bukan hanya berani bicara di depan umum, tetapi kemampuan menyusun pesan, menerjemahkan pengetahuan, membangun hubungan, dan memastikan gagasan dapat diterima audiens. "Melalui kegiatan ini, ruang pembelajaran diperluas dari kompetensi musikal menuju keterampilan profesional yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan dan kerja".

Musisi sebagai Pendidik dan Komunikator di Era Audiens Modern

PISN dan The Art of Speaking sama-sama mengungkap satu sikap: ISI Yogyakarta menolak melahirkan musisi yang hanya kuat di teknik, tetapi lemah dalam membaca konteks audiens modern. Tradisi Nusantara dijadikan sumber pengetahuan dan penciptaan yang terus dikembangkan melalui riset, pendidikan, inovasi, dan kolaborasi bersama masyarakat. Di saat yang sama, tema The Art of Speaking menyiapkan lulusan yang mampu berhadapan dengan beragam kelompok masyarakat dan mengomunikasikan kreativitasnya dengan jelas serta membangun kepercayaan. Pendekatan ini menunjukkan pendidikan musik inovatif yang multidimensional: mengintegrasikan keahlian artistik, pedagogi musik kontemporer, seni komunikasi musisi, dan kapasitas profesional. Kesimpulannya, jika kampus seni ingin relevan, tidak cukup mengajar cara bermain musik; ia harus mengajarkan cara berbicara tentang musik, mengajar dengan musik, dan hidup bersama musik dalam masyarakat yang terus berubah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!