AC Bukan Musuh Kesehatan, Asal Dipakai dengan Benar
Masih banyak yang percaya kalau pemakaian air conditioner (AC) itu bikin gampang sakit, memicu masalah jantung, sampai membuat tubuh lebih rentan penyakit.
Faktanya, yang sering jadi masalah bukan AC-nya, tapi cara dan durasi pemakaiannya.
Kalau diatur dengan bijak – mulai dari suhu, lama pemakaian, sampai kualitas kebersihan udaranya – AC justru bisa menunjang kenyamanan sekaligus kesehatan.
Dalam sebuah acara di Jakarta, dokter spesialis jantung intervensi, Bobby Arfhan Anwar, membagikan beberapa panduan praktis agar pemakaian AC tetap aman untuk tubuh.
1. Atur Suhu AC Sesuai Kondisi Tubuh
Gunakan suhu yang ramah untuk fisiologi tubuh, bukan sekadar yang terasa paling dingin.
AC yang diatur dengan tepat justru membantu tubuh menjaga suhu tetap stabil, terutama jika aktivitas harian banyak dilakukan di dalam ruangan.
Bobby menjelaskan bahwa AC bisa menjadi alat bantu untuk meregulasi suhu tubuh agar tetap optimal.
Termasuk saat melakukan aktivitas berat, AC bisa membantu menciptakan suasana ruangan yang sejuk dan nyaman.
Ia mengingatkan, jika berolahraga di ruangan panas, jantung harus bekerja lebih keras. Dampaknya, tubuh bisa merasa pusing atau pandangan menggelap karena suhu ruangan yang terlalu tinggi.
Untuk pemakaian harian, terutama saat tidur, disarankan menggunakan AC dengan fitur sleep mode.
Fitur ini akan menaikkan suhu secara bertahap selama kurang lebih delapan jam, lalu AC mati otomatis.
Dengan begitu, ruangan tidak menjadi terlalu dingin saat tubuh beristirahat, sehingga mengurangi risiko masuk angin dan reaksi alergi akibat udara dingin berlebihan.
2. Batasi Durasi dan Jaga Sirkulasi Udara
Pemakaian AC terus-menerus di ruangan tertutup bisa membuat udara terlalu kering dan suhu terlalu dingin.
Dampaknya:
Kulit mudah kering
Muncul reaksi alergi
Tubuh terasa tidak nyaman walau ruangan dingin
Karena itu, disarankan untuk tidak menyalakan AC seharian penuh tanpa jeda.
Beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan:
Beri jeda pemakaian AC, terutama di siang atau malam hari.
Pastikan asupan cairan cukup agar kelembapan kulit dan tubuh tetap terjaga.
Saat AC dimatikan, buka jendela atau ventilasi supaya sirkulasi udara alami tetap berjalan dan kualitas udara di dalam ruangan membaik.
Di musim hujan, ketika ruangan terasa lembap, AC dengan fitur dry mode bisa dimanfaatkan.
Dry mode membantu menyerap kelembapan berlebih di udara.
Hasilnya, ruangan terasa lebih nyaman, tidak pengap, dan kualitas udara menjadi lebih sehat.
3. Jaga Kebersihan Udara & Stop Merokok di Ruangan Ber-AC
Kunci pemakaian AC yang sehat bukan cuma soal suhu, tapi juga kebersihan udara di dalam ruangan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Bersihkan filter AC secara berkala agar tidak menumpuk debu dan jamur.
Udara yang lewat filter kotor bisa membawa partikel pemicu alergi dan gangguan pernapasan.
Bobby juga menegaskan bahaya merokok di dalam ruangan ber-AC.
Walau bau asap rokok lama-lama menghilang, partikel asapnya bisa menempel di AC dan furnitur hingga tiga minggu.
Ini berbahaya bagi:
Anak-anak
Orang yang tidak merokok tapi terpapar residu asap (perokok tangan ketiga)
Menurutnya, kondisi ini bisa memicu gangguan serius, termasuk pneumonia pada balita.
Penutup: Pakai AC dengan Cerdas, Bukan Takut Berlebihan
AC tidak otomatis bikin sakit, justru bisa membantu menjaga kenyamanan tubuh kalau dipakai dengan bijak.
Ringkasnya:
Atur suhu sesuai kebutuhan tubuh, bukan sekadar “ingin dingin”.
Batasi durasi pemakaian dan beri kesempatan udara segar masuk.
Rawat AC dan jaga kebersihan udara, termasuk dengan tidak merokok di ruangan ber-AC.
Dengan tiga langkah sederhana ini, AC bisa jadi sahabat kesehatan, bukan sumber penyakit di rumah atau kantor.






