Bukan Sekadar Rekor: Ketika Masakan Nusantara Menjadi Dapur Raksasa
Rekor MURI memasak 8.100 porsi masakan Nusantara skala besar adalah sebuah kegiatan memasak serentak yang digelar Pertamina Patra Niaga di delapan kota, melibatkan 100 chef dan ratusan peserta lain untuk menyiapkan ayam kecap tradisional dan membagikannya kepada masyarakat, pelanggan, serta panti asuhan sebagai bentuk perayaan Hari Pelanggan dan penghormatan terhadap kekayaan kuliner lokal. Di Lapangan Merdeka Medan, Minggu 6 September 2026, udara dipenuhi aroma tumisan bawang, kecap yang karamalis, dan rempah yang mengepul dari deretan wajan besar. Inilah momen ketika dapur bukan hanya urusan rumah tangga, melainkan ruang sosial. Memasak untuk komunitas menjadi bahasa kehangatan: setiap porsi bukan angka statistik, tetapi pesan bahwa warisan rasa bisa menyatukan orang-orang yang bahkan tak saling mengenal.
Logistik 8.100 Porsi: Orkestra Dapur di Delapan Kota
Mengkoordinasikan rekor MURI memasak di delapan kota berarti mengubah kegiatan memasak menjadi operasi logistik yang presisi. Di Medan, 100 chef profesional ditugaskan untuk menyiapkan sekitar 750 porsi ayam kecap Nusantara yang kemudian dibagikan kepada peserta Car Free Day dan panti asuhan sekitar kota. Kota lain seperti Balikpapan juga ikut menyumbang 750 paket dengan melibatkan sekitar 100 peserta di halaman kantor Patra Niaga setempat. Total 8.100 porsi disusun layaknya target produksi: berapa wajan, berapa kompor gas Bright Gas, berapa menit untuk tahap marinasi, tumis, dan penyelesaian. Kutipan yang paling menggambarkan skala ini adalah pernyataan Narotama Aulia Fazri: “pagi hari ini kita masak untuk memecahkan rekor MURI sebanyak 8.100 paket makanan bersama Bright Gas.” Di balik kalimat singkat itu ada jam-jam koordinasi jadwal, suplai bahan, dan pembagian tugas yang jika meleset sedikit saja, wajan-wajan akan saling menunggu dan ritme dapur raksasa berantakan.
Ayam Kecap Tradisional: Menyatukan Selera, Mengangkat Warisan
Yang menarik, masakan Nusantara skala besar ini tidak memilih menu yang rumit atau eksotis, melainkan ayam kecap tradisional yang akrab di meja makan sehari-hari. Pilihan itu terlihat sederhana, tetapi justru mengandung pesan kuat: warisan kuliner tidak harus berjudul asing untuk dibanggakan. Region Manager Retail Sales Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, I Gusti Bagus Suteja, menegaskan bahwa ayam dipilih karena menjadi favorit masyarakat sekaligus mampu mengangkat rempah khas kuliner lokal. Di Balikpapan, menu yang sama ditafsir sebagai gambaran keberagaman kuliner, karena setiap daerah membawa cara meracik kecap, jahe, dan bawang sesuai tradisi masing-masing. Ketika ribuan porsi ayam kecap dibagikan ke pelanggan, yayasan, dan pengguna jalan, yang berpindah bukan hanya protein hewani, tetapi memori kolektif tentang rasa rumahan yang disajikan dalam skala komunal.
Bright Gas di Jantung Koordinasi: Dapur, Komunitas, dan UMKM
Di tengah hiruk pikuk wajan dan panci, kompor gas Bright Gas menjadi simpul teknis yang menyatukan seluruh kota. Produk ini bukan tampil sebagai bintang iklan, melainkan sebagai alat kerja yang harus stabil di bawah tekanan ratusan masakan yang menyala bersamaan. Di Medan, kegiatan memasak terhubung dengan pembagian 100 tabung Bright Gas 5,5 kilogram kepada pelaku UMKM dan bantuan paket sembako untuk pengemudi ojek online. Itu menunjukkan bahwa memasak untuk komunitas tidak berhenti di acara satu hari; ada niat memperkuat dapur-dapur kecil yang bergerak sepanjang tahun. Selain booth kuliner dan produk, ruang acara menjadi pasar ide: bagaimana UMKM kuliner bisa memanfaatkan kompor gas Bright Gas sebagai tulang punggung produksi, bagaimana pemerintah kota diajak berkolaborasi untuk mengaitkan gastronomi dengan pariwisata. Energi gas, pada titik ini, menjadi energi sosial.
Dari Lapangan Merdeka ke Museum: Masak Bersama Sebagai Festival Rasa
Lapangan Merdeka Medan dan lokasi lain seperti Museum Mandala Bhakti Semarang bukan sekadar titik kordinat di peta; keduanya dipilih sebagai panggung publik tempat aroma masakan Nusantara bisa menyapa pejalan kaki sebelum menyapa lidah. Di Medan, CFD membuat lalu lintas manusia mengalir tepat di samping wajan-wajan besar, mengubah kegiatan memasak menjadi pertunjukan yang mengundang rasa penasaran. Di kota lain, konsep relay memasak menghubungkan tiap lokasi layaknya festival yang menjalar, dibuka dari Jakarta oleh jajaran direksi dan diteruskan oleh tim-tim lokal yang tak ingin sekadar mengulang instruksi, tetapi memberi sentuhan daerahnya masing-masing. Ketika 8.100 porsi tercatat sebagai angka rekor, manfaatnya meluas menjadi cerita pelanggan yang pulang dengan nasi kotak, anak panti asuhan yang merasakan menu istimewa, dan UMKM yang pulang membawa tabung gas baru. Kesimpulannya jelas: rekor MURI memasak ini layak dirayakan bukan karena besarnya angka, melainkan karena ia menunjukkan bahwa dapur bersama bisa menjadi cara konkret merayakan pelanggan, merawat warisan kuliner, dan menguatkan komunitas di banyak kota sekaligus.







