BGCC: Kompetisi Masak yang Menyatukan Rasa, Tradisi, dan Energi
Kompetisi masak Bright Gas adalah ajang kuliner yang menggabungkan lomba memasak, promosi kuliner Nusantara tradisional, dan edukasi penggunaan LPG subsidi tepat sasaran dalam satu platform yang dekat dengan keseharian masyarakat. Bright Gas Cooking Competition (BGCC) yang digelar Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel di Palembang ini bukan sekadar lomba resep, tetapi strategi cerdas menjadikan dapur sebagai ruang dialog antara pelaku kuliner, UMKM, dan isu energi di rumah tangga. Sebanyak 40 peserta terpilih mengikuti babak semifinal di Palembang Trade Center (PTC) Mall pada Minggu, 13 September, setelah melewati seleksi ketat dari total 995 pendaftar yang datang dari 277 peserta online dan 718 peserta mini audisi offline. Angka ini menunjukkan satu hal: ketika edukasi publik dibungkus dalam aroma masakan, masyarakat datang tanpa perlu diajak dua kali.

Kuliner Nusantara Tradisional sebagai Bintang Utama, Bukan Sekadar Gimmick
Keunggulan utama kompetisi masak Bright Gas terletak pada keberpihakan jelas terhadap kuliner Nusantara tradisional. Panitia tidak terjebak pada menu modern kekinian, tetapi sengaja mengangkat ikan gabus—bahan pangan yang melekat dengan identitas kuliner Palembang—sebagai tantangan utama peserta. Pilihan ini bukan kebetulan; ini pernyataan sikap bahwa dapur lokal memiliki nilai yang pantas dibawa ke panggung nasional. Juri tamu, Chef Firhan Ashari, mengapresiasi penggunaan bahan lokal ini sebagai alat uji kreativitas dan menegaskan bahwa tujuan akhirnya adalah agar semakin banyak kuliner Indonesia yang dikenal. Ketika 40 semifinalis diminta mengolah ikan gabus dengan standar cita rasa, kebersihan, dan kreativitas, mereka sesungguhnya sedang memodernisasi resep tradisional tanpa memutus akar rasa yang sudah akrab di lidah warga.
LPG Subsidi Tepat Sasaran: Edukasi yang Turun ke Kompor Rumah
BGCC patut dibaca sebagai kritik halus terhadap masalah klasik LPG subsidi 3 kg yang sering salah sasaran. Alih-alih ceramah kaku, Pertamina memilih pendekatan edukasi interaktif: mengajak masyarakat merasakan langsung kenyamanan Bright Gas sembari menjelaskan bahwa LPG subsidi 3 kg seharusnya hanya digunakan oleh mereka yang berhak. Program trade-in tabung LPG 3 kg ke Bright Gas 5,5 kg serta promo diskon Rp25 ribu per pembelian refill Bright Gas 5,5 kg maupun 12 kg melalui aplikasi MyPertamina menjadi insentif agar pengguna mampu melepaskan hak yang sebenarnya ditujukan bagi kelompok rentan. Ini bukan sekadar kampanye produk; ini cara konkret menggeser perilaku konsumsi energi menuju penyaluran yang lebih efektif dan adil, langsung dari ruang dapur tempat keputusan penggunaan LPG diambil setiap hari.
Dari Kompetisi ke Pengembangan UMKM Kuliner Lokal
Di balik riuh kompetisi, BGCC diam-diam berfungsi sebagai inkubator mini bagi UMKM kuliner lokal. Pertamina menghadirkan UMKM binaan untuk memperkenalkan produk mereka dan berinteraksi langsung dengan pengunjung. Kehadiran mereka melengkapi rangkaian acara, menjadikan event ini bukan hanya tentang siapa juara, tetapi tentang siapa yang mendapat peluang baru. Tiga peserta terbaik—Jason Buntaram, Muhammad Azwar, dan Endri Supriatna—yang terpilih mewakili Palembang ke Grand Final di Jakarta masing-masing membawa pulang hadiah Rp15 juta, Rp10 juta, dan Rp7,5 juta, sementara tiga peserta terbaik lainnya memperoleh Rp5 juta. Hadiah uang tunai ini lebih dari sekadar simbol prestasi; ia bisa menjadi modal awal mengembangkan usaha kuliner, memperkuat posisi UMKM kuliner lokal yang selama ini bertahan di tengah kompetisi ketat.
Kesimpulan: Dapur sebagai Jalan Pintas Edukasi Publik
Bright Gas Cooking Competition menunjukkan bahwa edukasi publik tidak harus lahir di ruang seminar; dapur bisa menjadi kelas paling efektif. Dengan meramu kompetisi masak Bright Gas, promosi kuliner Nusantara tradisional, penguatan UMKM kuliner lokal, dan kampanye LPG subsidi tepat sasaran dalam satu acara, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menghidupkan konsep energi untuk rakyat dengan cara yang dekat, hangat, dan berorientasi pada aksi. Dukungan tokoh lokal seperti Ketua TP PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani, yang menekankan pentingnya makanan bergizi dan kreativitas memasak, menambah legitimasi moral bagi ajang ini. Pada akhirnya, kompetisi ini layak dipandang sebagai model bagaimana sebuah perusahaan energi bisa terlibat dalam pengembangan budaya kuliner dan UMKM, tanpa kehilangan fokus pada tanggung jawabnya memastikan energi digunakan secara bijak.








