Model penyajian yang memberi pilihan kepada siswa
Prasmanan MBG adalah cara menyajikan makan bergizi gratis dengan menata hidangan agar siswa dapat mengambil sendiri lauk dan porsi sesuai kebutuhan, sambil menjaga makanan tetap hangat dan segar. Model ini layak diperluas karena manfaatnya terasa langsung di meja makan: siswa lebih leluasa memilih, dan makanan yang tidak disukai tidak harus berakhir sebagai sisa.
Di Kabupaten Malang, Badan Gizi Nasional (BGN) menguji model prasmanan di sejumlah sekolah, termasuk SMP Negeri 1 Kepanjen. Hana, siswa kelas VIII, mengatakan makanan terasa lebih hangat dan segar, sementara kebebasan mengambil secukupnya membantu mengurangi makanan terbuang. Pengalaman itu menunjukkan bahwa penerimaan siswa bukan sekadar soal kebaruan cara penyajian; pilihan porsi dan kondisi hidangan turut menentukan apakah program benar-benar dinikmati.

Pengalaman di Mataram memberi petunjuk praktis
Uji coba MBG tahap dua di SD Al Iqro Mataram menyasar 129 siswa kelas 5 dan 6, beserta enam guru. Tahap pertama sebelumnya berlangsung selama tiga hari, pada 19–21 Oktober 2026, dan evaluasi menunjukkan hampir tidak ada makanan tersisa. Siswa juga menyambut hidangan yang lebih hangat dan beragam dengan positif. Ini merupakan sinyal yang menggembirakan, tetapi keberhasilan di satu sekolah belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pola yang sama akan berjalan tanpa kendala di semua tempat.
Ada nilai pendidikan yang patut dipertahankan: mengambil makanan sendiri dapat melatih kebiasaan mengantre, mencuci tangan, dan menjaga kebersihan. Namun, pelaksanaannya menuntut kesiapan alat, prosedur, dan pengawasan. Uji coba di Mataram dijadwalkan berlangsung hingga 6 November 2026, dengan laporan pemantauan dan evaluasi harian kepada pimpinan pusat. Ketelitian ini penting agar pengalaman positif siswa tidak dibayar dengan kelalaian pada keamanan pangan.

Target besar harus disertai standar yang konsisten
BGN menargetkan 5.000–10.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), atau dapur MBG, menerapkan penyajian prasmanan hingga akhir 2026. Uji coba telah dilakukan di 66 dapur dan direncanakan diperluas ke sekitar 230 dapur tambahan. Skala ini menunjukkan bahwa prasmanan bukan lagi percobaan kecil. Karena itu, ekspansi seharusnya mengikuti bukti kesiapan tiap lokasi, bukan sekadar mengejar jumlah.
Alasan utama perubahan ini masuk akal: makanan diharapkan tetap hangat ketika disantap dan risiko gangguan keamanan pangan dapat ditekan. BGN menetapkan perhatian pada suhu dan waktu penyimpanan, serta mendorong label batas konsumsi, segel wadah, dan pengawasan CCTV. Dalam skema yang dijelaskan Kepala BGN Sudaryono, suhu makanan dijaga minimal 60 derajat Celsius. Rangkaian pengamanan tersebut harus diterapkan konsisten, sebab prasmanan yang menarik tetapi tidak aman akan menggagalkan tujuan makan bergizi gratis.
Perluasan perlu mengikuti pelajaran dari sekolah
Respons siswa di Malang dan Mataram memberi dasar yang menjanjikan untuk melanjutkan uji coba, bukan alasan untuk menganggap semua persoalan selesai. Evaluasi di Malang mencatat bahwa pengaturan waktu makan masih perlu diperbaiki dan peluang mengaitkan program dengan pembelajaran di sekolah perlu dikaji. Setiap sekolah memiliki jadwal, ruang, dan kapasitas pengelolaan berbeda; penyesuaian lokal akan lebih masuk akal daripada menerapkan satu pola secara kaku.
Kesimpulannya, prasmanan MBG pantas diperluas karena siswa merasakan hidangan lebih hangat, lebih segar, dan lebih sesuai dengan kebutuhan mereka, sementara risiko pemborosan dapat berkurang. Namun, target hingga akhir 2026 hanya layak dikejar jika hasil pemantauan dipakai untuk memperbaiki prosedur, menjaga keamanan pangan, dan mengatur waktu makan. Ukuran keberhasilan bukan banyaknya dapur yang mengadopsi model ini, melainkan makanan bergizi yang aman, disukai, dan benar-benar dikonsumsi.






