Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Santri Obah Membuka Jalan Kuliah ke Luar Negeri

Program Santri Obah Membuka Jalan Kuliah ke Luar Negeri
Minat|Destinasi Luar Negeri

Beasiswa yang mengubah cita-cita menjadi kesempatan

Program Santri Obah adalah inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang membuka kesempatan bagi santri untuk melanjutkan pendidikan tinggi, termasuk ke luar negeri, dengan dukungan beasiswa melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren. Bagi penerimanya, bantuan ini bukan sekadar tiket menuju kampus internasional: ia dapat mengurangi tekanan biaya keluarga dan membuat cita-cita yang terasa jauh menjadi pilihan nyata. Pada 2026, pemerintah menyiapkan anggaran Rp6,8 miliar untuk pendidikan di dalam dan luar negeri; dari 942 pendaftar, 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan studi ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok. Angka itu menunjukkan besarnya minat sekaligus terbatasnya jumlah penerima dibanding peminat. Karena itu, kisah mereka penting bukan sebagai janji bahwa jalan akan mudah, melainkan bukti bahwa kesempatan yang tepat dapat membuka pintu bagi santri Jawa Tengah.

Program Santri Obah Membuka Jalan Kuliah ke Luar Negeri

Dari rasa ingin tahu Mandarin ke kampus di Tiongkok

Perjalanan Akhmad Khafidz Al Mubarok dimulai pada kelas IX MTs, lewat percakapan telepon dengan ayahnya. Sang ayah menyarankan agar ia belajar bahasa Mandarin karena kemampuan itu bisa membuka peluang masa depan. Khafidz menanggapi saran tersebut dengan belajar menulis, membaca, memahami nada, dan menghafal kosakata secara mandiri. Tantangannya nyata: di pesantren, bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa yang diwajibkan, sementara ia belajar Mandarin tanpa guru pendamping dan dengan akses gawai yang terbatas. Ia bertahan dengan bantuan seorang teman yang juga tertarik mempelajarinya. Ketika duduk di kelas XII, kesempatan mengikuti program persiapan kuliah ke China memberinya bimbingan bahasa, termasuk dari penutur asli. Ia kemudian lulus ujian sertifikasi Mandarin dan mengikuti tahapan seleksi beasiswa. Kini, santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Menawan, Kudus, itu menjadi mahasiswa tahun pertama Computer Science and Technology di Dalian University of Technology.

Bagi Khafidz, beasiswa santri luar negeri ini membantu keluarganya mengurangi beban finansial agar ia dapat meneruskan kuliah tanpa menambah tanggungan orang tua. Dampaknya tidak berhenti pada biaya: ia juga beradaptasi dengan kehidupan yang jauh berbeda dari rutinitas pesantren. Jika dahulu ia bangun dan beribadah berjamaah bersama teman-teman, kini ia harus mengatur keseharian secara mandiri. Di kampus, pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai negara dan keterlibatan dalam kegiatan seperti klub robotika memperluas pengalaman belajarnya. Kisahnya menegaskan bahwa kuliah luar negeri bukan hanya urusan gelar, tetapi juga latihan kemandirian dan kesempatan mengenal cara pandang baru.

Program Santri Obah Membuka Jalan Kuliah ke Luar Negeri

Kesempatan belajar yang diarahkan kembali untuk mengabdi

Penerima lain, Happy Aisyi Madina, menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia memandang beasiswa tersebut sebagai amanah sekaligus peluang untuk melanjutkan pendidikan dan meringankan beban keluarganya. Aisyi juga menyatakan tekad untuk kembali mengabdikan diri di Jawa Tengah setelah lulus. Sikap itu memberi makna lebih luas pada dukungan pendidikan: manfaatnya tidak semestinya berhenti pada keberhasilan pribadi, tetapi dapat mengalir kembali kepada masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menginisiasi Pesantren Obah, dan pesan yang tercermin dari kisah para penerima patut diperhatikan: santri tidak perlu membatasi cita-cita pada satu bidang. Bekal agama dapat berjalan berdampingan dengan ilmu kedokteran, sains, teknologi, dan kepedulian sosial.

Program beasiswa ini tidak menghapus semua tantangan. Khafidz harus berjuang mempelajari bahasa baru dengan sarana terbatas, lalu menyesuaikan diri dengan hidup mandiri di negeri orang. Namun, dukungan keluarga, pesantren, dan kesempatan pendidikan membantunya melewati tahapan tersebut. Bagi santri yang memiliki cita-cita serupa, kisah Khafidz dan Aisyi menawarkan alasan untuk berani menyiapkan diri dan mengambil peluang yang tersedia—tanpa menganggap hasilnya pasti atau jalurnya seragam bagi setiap orang.

Program Santri Obah Membuka Jalan Kuliah ke Luar Negeri

Jalan terbuka, cita-cita perlu diteruskan

Program Santri Obah menunjukkan bahwa dukungan pemerintah dapat menjadi penghubung antara usaha santri dan kesempatan kuliah di luar negeri. Bagi Khafidz, titik berangkatnya adalah minat kecil pada bahasa Mandarin; bagi Aisyi, beasiswa menjadi amanah yang ingin ia bawa pulang dalam bentuk pengabdian. Dampak paling berarti terlihat pada dua hal: keluarga memperoleh keringanan, sementara penerima mendapat ruang untuk mengembangkan diri dan memperluas wawasan. Kisah-kisah ini bukan alasan untuk menganggap perjalanan internasional mudah, tetapi pengingat bahwa santri berhak memiliki cita-cita besar dan membutuhkan akses untuk memperjuangkannya. Kesimpulannya, beasiswa santri luar negeri akan paling bermakna ketika kesempatan belajar tumbuh menjadi ilmu, kemandirian, dan manfaat bagi masyarakat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!