Dari pesantren menuju kampus internasional
Program Santri Obah adalah inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang menyediakan beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren untuk memperluas akses pendidikan, termasuk kuliah di luar negeri. Program ini penting karena cita-cita akademik tidak semestinya berhenti pada keterbatasan biaya atau anggapan bahwa santri hanya cocok menekuni ilmu agama. Akhmad Khafidz Al Mubarok, santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Menawan di Kudus, kini menjadi mahasiswa tahun pertama jurusan Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, China. Perjalanannya menunjukkan bahwa beasiswa santri dapat menjembatani tekad pribadi dengan kesempatan pendidikan yang sebelumnya terasa jauh. Namun, dukungan dana saja bukan seluruh jawabannya: persiapan, ketekunan, keluarga, dan lingkungan pesantren ikut menentukan apakah kesempatan itu bisa dimanfaatkan.

Minat Mandarin yang tumbuh sejak MTs
Impian Khafidz bermula saat kelas IX MTs, ketika ayahnya menyarankan agar ia belajar bahasa Mandarin karena kemampuan itu dapat membuka peluang masa depan yang lebih luas. Ia mulai belajar menulis, membaca, memahami nada pengucapan, dan menghafal kosakata secara mandiri. Tantangannya nyata: di pesantren, bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa yang diwajibkan, sementara ia tidak memiliki guru Mandarin dan akses gawai terbatas. Seorang teman dengan minat serupa menjadi rekan belajar, lalu saat kelas XII Khafidz memperoleh kesempatan mengikuti persiapan studi ke China bersama pelajar lain dari Jawa Tengah. Bimbingan pengajar, termasuk penutur asli, membantunya meningkatkan kemampuan dan lulus ujian sertifikasi bahasa Mandarin. Kisah ini mengingatkan bahwa kuliah luar negeri bukan hasil satu pintu terbuka, melainkan rangkaian usaha dan dukungan yang perlu disambungkan.

Beasiswa yang terasa sampai ke keluarga
Setelah mengetahui beasiswa Jawa Tengah melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren, Khafidz mempelajari persyaratan, mengikuti seleksi, dan akhirnya dinyatakan lolos. Manfaatnya tidak abstrak: beasiswa membantu keluarga mengurangi beban pembiayaan studi di luar negeri. Khafidz mengatakan, “Beasiswa Santri Jawa Tengah memudahkan saya dan teman-teman penerima lainnya dalam mengurangi beban finansial yang harus ditanggung oleh diri sendiri dan orang tua.” Penerima lain, Happy Aisyi Madina, kini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo. Baginya, beasiswa adalah amanah sekaligus bantuan bagi keluarganya; setelah lulus, ia bertekad kembali mengabdi di Jawa Tengah. Ragam tujuan studi para penerima memperlihatkan bahwa dukungan ini bukan jalur tunggal, melainkan peluang untuk mengembangkan keahlian sekaligus menyiapkan kontribusi.

Skala peluang dan tanggung jawab berikutnya
Jawa Tengah memiliki sedikitnya 5.400 pondok pesantren dengan 555 ribu santri. Pada 2026, pemerintah provinsi menyiapkan anggaran Rp6,8 miliar untuk pendidikan di dalam dan luar negeri; peminat program mencapai 942 pendaftar, sementara 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok. Angka tersebut menegaskan besarnya minat, sekaligus mengingatkan bahwa kesempatan masih harus dijangkau lebih banyak santri. Beasiswa akan lebih bermakna bila disertai persiapan bahasa, pendampingan seleksi, dan dukungan adaptasi setelah penerima tiba di kampus. Khafidz kini belajar mandiri di lingkungan internasional dan berharap ilmunya kelak bermanfaat bagi masyarakat. Aisyi pun berniat pulang untuk mengabdi. Ukuran keberhasilan program semestinya bukan hanya keberangkatan, tetapi juga ilmu yang dibawa pulang dan manfaat yang tumbuh di masyarakat.






