Keselamatan anak adalah ujian utama program
Beban emosional pemimpin dalam program pangan publik muncul ketika penerima yang semestinya dilindungi justru jatuh sakit akibat layanan yang mereka terima. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengatakan melihat anak-anak keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi beban terberat selama 100 hari pertamanya memimpin lembaga tersebut. Dalam evaluasi MBG di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026, ia berkata, “Hancur hatiku.” Pengakuan itu terasa penting bukan karena kesedihan seorang pejabat semata, melainkan karena menunjukkan ukuran paling mendasar bagi keberhasilan program: anak-anak harus aman. Niat memperbaiki gizi tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab mencegah bahaya pangan. Ketika anak keracunan MBG, keluarga menanggung kecemasan dan anak-anak mengalami gangguan kesehatan—dampak langsung yang tak boleh tenggelam di balik besarnya cakupan program.
Sudaryono menegaskan keamanan pangan harus menjadi perhatian utama. Ia juga menyampaikan bahwa rasio insiden sakit per satu juta porsi, yang disebutnya sebagai IPMS, turun dari 5,3 pada Januari 2025 menjadi 3,9 pada periode Januari–Juli dan 3,6 pada Juli–Oktober. Penurunan itu patut dicatat, tetapi angka yang membaik bukan alasan untuk menganggap persoalan selesai. Setiap insiden tetap menyangkut anak yang sakit dan menunjukkan bahwa prosedur pencegahan belum bekerja sempurna. Perbandingan yang dipaparkan Sudaryono—0,1 kasus per satu juta porsi di Amerika Serikat, sekitar satu di Jepang, dan 1,3 di Uni Eropa—juga menegaskan masih ada jarak yang perlu diperhatikan. Angka-angka tersebut harus menjadi alat untuk memperketat perlindungan, bukan sekadar pembelaan atas capaian.
Skala layanan menuntut pengawasan yang nyata
BGN menutup permanen 2.000 dapur MBG yang dinilai tidak memenuhi syarat, sebuah langkah yang menunjukkan pelanggaran standar tidak bisa dibiarkan tanpa konsekuensi. Namun, penutupan saja bukan sistem keselamatan. Ukuran keberhasilannya adalah apakah pengawasan dapur MBG mampu menemukan risiko sebelum makanan sampai kepada anak-anak, serta memastikan dapur yang beroperasi mematuhi persyaratan sanitasi. Di sinilah tanggung jawab lembaga menjadi lebih besar daripada mengumumkan tindakan setelah masalah muncul. Pengawasan yang konsisten perlu menjadi bagian dari cara kerja sehari-hari, sebab program dengan jangkauan luas tidak bisa bergantung pada reaksi ketika insiden sudah terjadi. Bagi keluarga, kepercayaan terhadap MBG dibangun bukan oleh janji, melainkan oleh bukti bahwa setiap hidangan melewati kendali keamanan yang layak.
Dalam evaluasi 100 hari, Sudaryono mengakui pelaksanaan MBG masih menghadapi berbagai persoalan dan menyatakan pemerintah tidak boleh menutup mata maupun telinga terhadap keluhan di lapangan. Ia menggambarkan program itu sebagai upaya dengan tujuan meningkatkan kualitas gizi, tetapi menekankan perlunya evaluasi dan perbaikan tata kelola. Pengakuan terbuka merupakan awal yang lebih sehat daripada menyangkal masalah, tetapi nilainya bergantung pada tindak lanjut yang dapat dirasakan penerima manfaat. Sudaryono juga menyoroti kecenderungan kendali terpusat di tingkat pimpinan BGN dan menyiratkan bahwa organisasi berskala besar perlu melibatkan lebih banyak pihak. Jika keputusan dan pengawasan bertumpu pada pusat, jarak antara kebijakan dan kondisi dapur berisiko melebar. Akuntabilitas harus menjangkau tempat makanan disiapkan, bukan berhenti pada ruang evaluasi.

Empati harus diterjemahkan menjadi perlindungan
Ucapan Sudaryono memperlihatkan sisi personal dari memimpin program publik: laporan tentang anak-anak yang jatuh sakit tidak berhenti sebagai angka bagi orang yang bertanggung jawab. Namun, empati pemimpin saja tidak cukup untuk mencegah insiden berikutnya. Kualitas kepemimpinan akan dinilai dari kemampuan mengubah rasa terpukul menjadi disiplin pengawasan, keterbukaan terhadap keluhan, dan tata kelola yang memastikan standar berlaku di lapangan. Sudaryono BGN menghadapi tantangan yang tak selesai dengan menyebut program itu mulia atau mengakui bahwa masalah ada. Keduanya harus diikuti kerja yang membuat dapur aman dan mengurangi kemungkinan anak-anak menjadi korban. Karena itu, pengakuan emosional ini semestinya dibaca sebagai tuntutan tanggung jawab, bukan pengganti pertanggungjawaban.
Kesimpulannya, keberhasilan MBG tidak semestinya diukur hanya dari niat baik atau jumlah penerima, tetapi juga dari kemampuannya menjaga mereka tetap sehat. Penutupan dapur yang melanggar syarat dan pengakuan atas persoalan menunjukkan bahwa risiko telah terlihat; tugas berikutnya adalah memastikan pengawasan berjalan sebelum bahaya berulang. Rasa “hancur hati” Sudaryono memberi wajah manusiawi pada kegagalan keselamatan pangan, tetapi keluarga membutuhkan lebih dari simpati. Mereka membutuhkan jaminan bahwa keamanan menjadi syarat dasar setiap hidangan. Program gizi baru layak disebut berhasil ketika anak-anak memperoleh manfaat tanpa harus menanggung risiko yang seharusnya dapat dicegah.






