KuybeliKuybeli

Bang Ken, Pejabat Otaku yang Siap Bawa Semangat Hashira ke Dunia Nyata

Bang Ken, Pejabat Otaku yang Siap Bawa Semangat Hashira ke Dunia Nyata
Minat|Demon Slayer

Dari Goku Kecil sampai Wayang Golek: Evolusi Hobi Seorang Pejabat

Hobi mengoleksi figur bagi Bang Ken bukan tren musiman, tapi perjalanan panjang yang sudah dimulai sejak lama.

Figur pertamanya adalah Son Goku kecil dan Master Roshi (Kame Sennin) dari serial Dragon Ball. Dari sana, koleksinya tumbuh pelan tapi pasti, dengan satu prinsip: ia tetap selektif dan tidak asal membeli.

Masa sekolahnya diwarnai oleh berbagai fase hobi. Ia sempat tenggelam dalam dunia Tamiya, dengan mobil andalan Cannonball milik Punkuro dari Dash! Yonkuro yang kala itu sangat meledak popularitasnya.

Setelah itu, ia masuk ke dunia perakitan Gundam atau Gunpla. Namun seiring tanggung jawab dan kesibukan yang makin padat, ia menyadari ada batas waktu dan energi yang harus dijaga.

Bang Ken, Pejabat Otaku yang Siap Bawa Semangat Hashira ke Dunia Nyata

Merakit Gundam menuntut fokus dan waktu yang tidak sedikit, sesuatu yang kini sulit ia curahkan. Karena itu, ia beralih ke figur karakter siap pajang.

Peralihan ini tidak mengurangi rasa cintanya pada budaya pop, justru menunjukkan bahwa cara menikmati hobi bisa berubah, tapi passion-nya tetap utuh.

Ia menegaskan bahwa koleksinya bukan sekadar menumpuk barang.

Ia menghindari figur yang terlalu vulgar atau karakter komedi seperti Crayon Shinchan. Karakter favoritnya adalah sosok action, superhero, atau robot yang memancarkan kekuatan dan perjuangan.

Menurutnya, sekadar melihat koleksi itu saja bisa menjadi terapi. Di tengah jadwal yang padat dan melelahkan, menyempatkan diri ke toko mainan di akhir pekan dan menikmati deretan figur menjadi cara mengisi ulang energi.

Menariknya, kecintaannya tidak berhenti pada budaya pop luar negeri. Ia juga merangkul budaya lokal lewat koleksi wayang golek.

Ia memiliki figur Gatotkaca dan Kresna yang dibuat secara khusus (custom order), menegaskan bahwa pahlawan lokal pun punya tempat istimewa di hatinya.

Ia mengingat tokoh-tokoh seperti Gundala, Panji Manusia Millenium, hingga karakter pewayangan seperti Gatotkaca dan Bima, yang menurutnya memiliki nilai kepahlawanan yang tidak kalah dengan karakter luar.

Dulu ia juga sempat mengoleksi komik dengan karakter Tumaritis seperti Cepot dan Petruk, meski kini komik sejenis sudah semakin sulit ditemukan.

Djakarta Ennichi: Negara Turun ke Arena Komunitas

Pembicaraan kemudian bergerak ke peran barunya sebagai Ketua Umum Djakarta Ennichi.

Bang Ken menegaskan bahwa keterlibatannya bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan upaya nyata menghadirkan ruang bagi komunitas kreatif yang kerap terpinggirkan.

Bang Ken, Pejabat Otaku yang Siap Bawa Semangat Hashira ke Dunia Nyata

Salah satu hal yang ia soroti adalah persoalan biaya. Banyak acara budaya pop Jepang di Indonesia dikelola murni oleh pihak swasta.

Akibatnya, harga tiket sering kali melambung dan menjadi beban bagi anak muda yang ingin ikut meramaikan.

Di saat yang sama, ia melihat bahwa anak muda adalah demografi mayoritas saat ini. Tanpa ruang ekspresi yang positif, energi mereka berisiko tersalurkan ke hal-hal destruktif seperti narkoba atau tawuran.

Di titik inilah ia menekankan bahwa negara harus hadir.

Visinya untuk Djakarta Ennichi adalah pola kolaborasi.

  • Pemerintah menyediakan dukungan regulasi

  • Menyediakan fasilitas tempat

  • Bahkan membuka peluang dukungan anggaran

Dengan begitu, acara bisa digelar dengan biaya murah, atau kalau bisa, gratis untuk publik.

Ia ingin membangun ekosistem tempat supply dan demand di ekonomi kreatif bisa bertemu.

Yang suka menggambar manga diberi ruang agar karyanya bisa dijual.

Yang senang cosplay difasilitasi dengan panggung untuk tampil.

Dalam skema ini, pemerintah berfungsi sebagai jembatan yang mempertemukan kreativitas komunitas dengan publik yang siap mengapresiasi.

Tampil Apa Adanya: Dari Haori ke Gedung Dewan

Sosok Bang Ken juga menarik karena keberaniannya untuk tampil autentik di ranah publik.

Ia tidak ragu memakai jaket bermotif haori ala karakter anime atau membawa atribut hobinya dalam aktivitas resmi.

Ia sadar gaya seperti ini bisa mengundang komentar miring, tetapi ia memilih untuk tidak menjadikannya beban.

Ia ingin menunjukkan secara terbuka bahwa dirinya adalah penggemar budaya pop, dan itu bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.

Kalimat seperti, “Anggota dewan kok gayanya seperti anak kecil?” tidak membuatnya gentar.

Ia lebih memilih jujur pada diri sendiri daripada berpura-pura menyesuaikan ekspektasi orang lain.

Sikap ini juga ia gunakan sebagai strategi komunikasi untuk mendekatkan diri ke generasi muda.

Dengan menjadi sosok yang “satu frekuensi”, ia berharap jarak antara pejabat publik dan konstituen milenial maupun Gen Z bisa mengecil.

Bang Ken, Pejabat Otaku yang Siap Bawa Semangat Hashira ke Dunia Nyata

Ia percaya bahwa ketika anak muda melihat ada perwakilan di pemerintahan yang memahami dunia mereka, komunikasi akan jauh lebih cair.

Baginya, ini bukan sekadar pencitraan, tetapi cara agar aspirasi komunitas kreatif ikut masuk ke meja perumusan kebijakan.

Ia bahkan berseloroh soal keinginannya memakai jaket Tanjiro saat bertugas.

Bukan untuk sekadar gaya, melainkan sebagai sinyal bahwa komunitas punya teman ngobrol di dalam sistem.

Ia membayangkan suasana yang lebih santai, tidak kaku, tapi tetap serius dalam bekerja.

Cosplay, Rengoku, dan Sisi Lain Dunia Hobi

Masuk ke obrolan tentang cosplay, Bang Ken mengakui bahwa ia masih terus belajar memahami luasnya spektrum hobi ini.

Awalnya, ia mengira cosplay hanya soal mengenakan kostum karakter favorit.

Namun satu pengalaman unik mengubah cara pandangnya.

Ia pernah melihat sosok karakter yang tampil sangat cantik dan meyakinkan sebagai perempuan.

Ketika berbicara, ternyata suara yang terdengar adalah suara laki-laki.

Reaksi terkejut itu kemudian berganti dengan rasa hormat.

Ia menyadari bahwa totalitas para cosplayer bukan hanya soal kostum, tetapi juga seni peran dan transformasi.

Ia sendiri tertarik mencoba cosplay sebagai Kyojuro Rengoku dan Guan Yu, dua karakter yang ia sukai.

Menurutnya, kostum Rengoku punya desain yang luar biasa keren.

Keinginan untuk belajar bagaimana rasanya menjalani aktivitas sebagai cosplayer masih ia simpan, meski belum sempat terwujud.

Dalam konteks Djakarta Ennichi, ketika ditanya karakter dari anime atau komik Amerika yang ingin ia lihat di panggung acara, ia menyebut Deadpool dari Marvel.

Bang Ken, Pejabat Otaku yang Siap Bawa Semangat Hashira ke Dunia NyataBang Ken, Pejabat Otaku yang Siap Bawa Semangat Hashira ke Dunia Nyata

Ia menyukai karakter ini karena sifatnya yang unik.

Deadpool lucu, “nakal”, penuh aksi, tapi juga menyimpan sisi tragis.

Bagi Bang Ken, Deadpool memotret kompleksitas emosi manusia secara lengkap: ada sedih, ada tawa, ada serius.

Berbeda dengan Batman yang dinilainya terlalu serius, Deadpool terasa lebih cair dan dekat.

Ia juga membuka lebar pintu bagi komunitas lain, seperti wotagei (seni menari dengan lightstick), untuk ikut tampil di acara besar di Jakarta.

Ia mencontoh keberhasilan acara serupa di kota lain seperti Bandung dan menegaskan bahwa ruang diskusi tetap terbuka.

Baginya, semua spektrum hobi layak diberi tempat selama bisa diekspresikan secara positif.

Wibu, Otaku, dan Pesan Persatuan Komunitas

Di tengah obrolan, muncul juga bahasan soal istilah yang akrab di telinga komunitas: “Wibu” dan “Otaku”.

Bang Ken mengakui bahwa ia baru saja memahami perbedaan istilah itu dari penjelasan lawan bicaranya.

Ia tidak keberatan mengakui ketidaktahuannya.

Menurutnya, yang terpenting bukan label yang disematkan, melainkan representasi.

Ia ingin menampilkan bahwa penggemar budaya pop punya tempat di dalam struktur pemerintahan.

Menutup obrolan, ia menyampaikan pesan untuk seluruh penggemar anime, manga, dan game di Indonesia.

Ia mengajak komunitas untuk meninggalkan ego sektoral, rivalitas tidak perlu, dan perdebatan yang justru memecah belah.

Pesannya jelas: ekspresikan diri tanpa rasa malu.

Ia menegaskan bahwa komunitas bukan minoritas yang harus bersembunyi, melainkan kekuatan kreatif besar yang mulai dilirik dan didukung.

Dengan adanya wadah dan perhatian dari pemerintah, ia ingin semua pihak saling menggandeng tangan.

  • Tunjukkan eksistensi dengan karya, bukan dengan balasan kasar

  • Buktikan bahwa komunitas bisa berkarya, sopan, dan berprestasi

  • Jadikan kreativitas sebagai jawaban terhadap pandangan miring

Dua Dunia yang Disatukan

Dari perbincangan panjang ini, tergambar sosok Hardiyanto Kenneth sebagai figur yang berdiri di dua dunia.

Di satu sisi, ia adalah pejabat publik yang bergelut dengan kebijakan dan anggaran.

Di sisi lain, ia tetap menjadi penggemar budaya pop yang menemukan inspirasi dan kenyamanan dari dunia fiksi.

Melalui Djakarta Ennichi, ia berusaha menjembatani dunia kepahlawanan fiksi dengan realitas pelayanan publik.

Semangat yang biasanya kita lihat pada karakter anime dan tokoh pahlawan ia coba bawa ke dunia nyata, demi membuka jalan bagi kreativitas generasi muda Jakarta agar tidak hanya terlihat, tapi juga diakui dan didukung.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!