KuybeliKuybeli

20 Calon Pelatih Aceh Ditempa Fakhri Husaini: Dari Lapangan Cot Gapu Menuju Level Profesional

20 Calon Pelatih Aceh Ditempa Fakhri Husaini: Dari Lapangan Cot Gapu Menuju Level Profesional
Minat|Sepak Bola

Dari Bireuen, Langkah Pertama Menuju Kursi Pelatih Profesional

20 Calon Pelatih Aceh Ditempa Fakhri Husaini: Dari Lapangan Cot Gapu Menuju Level Profesional

Di Bireuen, semangat sepak bola tidak pernah benar-benar padam.

Kali ini, kota tersebut menjadi saksi lahirnya generasi baru calon pelatih, ketika kursus pelatih sepak bola Lisensi D PSSI resmi digelar dan menghadirkan sosok istimewa: Fakhri Husaini, pelatih Timnas Indonesia U-17 asal Lhokseumawe, sebagai pemateri utama.

Kursus ini berlangsung selama enam hari, 3–9 November 2025, dengan pembukaan yang digelar di Hotel Graha Buana Bireuen. Suasana pembukaan terasa hangat sekaligus penuh harapan.

Para Tokoh Sepak Bola Aceh Turun Gunung

Pada pembukaan kursus, hadir sejumlah figur penting yang selama ini ikut menggerakkan sepak bola di Bireuen dan sekitarnya.

Di antaranya:

  • Ketua Umum PSSB Bireuen, Mustafa A Glanggang

  • Perwakilan Askab PSSI Bireuen, Sardani

  • Penggiat sepak bola, Ajis Fandila (Azis Bengkel)

  • Perwakilan klub Peusangan Raya, Muhibuddin

  • Sejumlah tokoh sepak bola lokal lainnya

Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya serius membangun fondasi kepelatihan di daerah.

20 Peserta, Satu Mimpi yang Sama

Ketua Panitia Pelaksana, Saddam Fajar, menjelaskan bahwa kursus Lisensi D PSSI ini diikuti 20 peserta.

Mereka datang dari berbagai daerah di Aceh, dan yang menarik, ada satu peserta asal Yogyakarta yang rela menempuh perjalanan jauh demi menimba ilmu.

Menurut Saddam, antusiasme peserta sangat tinggi, apalagi mengingat ini adalah kali pertama kursus sejenis digelar di sana.

Kursus ini dilaksanakan di dua lokasi berbeda dengan pembagian fungsi yang jelas:

  • Lapangan Cot Gapu: Tempat sesi praktik berlangsung, mengasah implementasi langsung di lapangan.

  • Aula Hotel Graha Buana: Ruang untuk materi teori dan diskusi.

Perpaduan dua lokasi tersebut membuat suasana belajar terasa lebih hidup, bergantian antara pemahaman konsep dan penerapan teknis.

Lisensi D: Batu Loncatan Wajib Calon Pelatih

Fondasi Awal Menuju Profesional

Dalam sambutannya, Fakhri Husaini menegaskan bahwa Lisensi D adalah pondasi dasar bagi siapa pun yang ingin serius berkarier sebagai pelatih.

Menurutnya, lisensi ini merupakan syarat utama sebelum seseorang bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

  • Ingin naik ke Lisensi C? Wajib punya Lisensi D terlebih dahulu.

  • PSSI mewajibkan setiap pelatih memiliki lisensi resmi.

  • Tanpa lisensi, seorang pelatih tidak bisa melatih secara resmi dalam kompetisi yang diakui.

Dengan kata lain, Lisensi D bukan sekadar sertifikat, tetapi gerbang awal menuju dunia kepelatihan yang profesional dan terstruktur.

20 Calon Pelatih Aceh Ditempa Fakhri Husaini: Dari Lapangan Cot Gapu Menuju Level Profesional

Modul Baru, Cakupan Lebih Luas

Fakhri juga menjelaskan bahwa PSSI telah memperbarui modul pelatihan Lisensi D.

Jika sebelumnya lisensi ini hanya berlaku untuk melatih pemain usia 9 tahun ke bawah, kini cakupannya sudah diperluas.

Dengan modul yang baru, pemegang Lisensi D bisa melatih pemain hingga usia 14 tahun ke bawah.

Perubahan ini menunjukkan adanya langkah pembaruan dalam sistem kepelatihan nasional, sekaligus menuntut pelatih untuk lebih siap secara ilmu dan pendekatan.

Nostalgia Fakhri Husaini di Bireuen

Di hadapan para peserta, Fakhri tidak hanya berbicara soal teori dan regulasi.

Ia juga berbagi sisi personal yang membuat suasana semakin hangat.

Fakhri mengaku merasa bangga sekaligus bernostalgia karena bisa kembali lagi ke Bireuen, sebuah daerah yang menyimpan banyak kenangan dalam hidupnya.

Ia pernah tinggal di Bireuen, dan sempat berandai-andai, jika rumahnya di dekat Wisma Bireuen Jaya belum dijual, mungkin ia akan lebih sering pulang ke kota ini.

Ucapan itu disambut tepuk tangan peserta, memperlihatkan betapa kuatnya kedekatan emosional antara Fakhri dan Bireuen.

Harapan untuk Kebangkitan PSSB Bireuen

Di kesempatan yang sama, Fakhri menyelipkan harapan besar untuk PSSB Bireuen.

Ia percaya bahwa klub kebanggaan masyarakat setempat tersebut bisa kembali bangkit dan meraih masa kejayaannya seperti dulu.

Dengan nada optimistis, ia menyatakan keyakinannya bahwa PSSB Bireuen suatu saat akan jaya kembali, selama ekosistem sepak bola di daerah terus dibangun, termasuk melalui pelatihan pelatih seperti ini.

Dukungan Penuh dari Askab dan Tokoh Sepak Bola

Perwakilan Askab PSSI Bireuen, Sardani, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kursus ini.

Meski bukan Askab yang menjadi penyelenggara langsung, mereka justru memberikan dukungan penuh.

Menurut Sardani:

  • Semakin banyak pelatih berlisensi di Bireuen, semakin baik bagi masa depan sepak bola daerah.

  • Kegiatan seperti ini perlu terus digalakkan agar pembinaan usia dini lebih terarah.

Ia juga menilai, kehadiran Fakhri Husaini sebagai instruktur adalah kesempatan emas.

Bagi para peserta, ini momen langka untuk belajar langsung dari pelatih yang berpengalaman di level nasional.

20 Calon Pelatih Aceh Ditempa Fakhri Husaini: Dari Lapangan Cot Gapu Menuju Level Profesional

Lisensi Pro AFC dan Pesan Penting untuk Peserta

Ketua Umum PSSB Bireuen, Mustafa A Glanggang, memberikan apresiasi khusus kepada Fakhri.

Ia mengungkapkan rasa terima kasih atas kesediaan Fakhri hadir sebagai pemateri dalam kursus ini.

Mustafa menegaskan bahwa tidak mudah menghadirkan sosok pelatih berlisensi Pro AFC, level tertinggi kepelatihan di Asia.

Menurutnya, kehadiran Fakhri bukan semata karena urusan resmi, tetapi juga karena adanya hubungan persahabatan dan kedekatan personal.

Jangan Sekadar Mengejar Sertifikat

Di akhir sambutannya, Mustafa berpesan kepada para peserta agar tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini.

Ia mendorong para calon pelatih untuk:

  • Belajar dengan sungguh-sungguh.

  • Tidak hanya mengejar selembar lisensi.

  • Menggali ilmu sedalam mungkin agar apa yang dipelajari benar-benar bermanfaat saat melatih nantinya.

Lisensi hanya awal, kualitas pelatih ditentukan oleh kemauan terus belajar dan komitmen membina pemain.

Penutup: Bireuen, Titik Kecil untuk Mimpi yang Besar

Kursus Lisensi D PSSI di Bireuen ini mungkin tampak seperti satu agenda lokal biasa.

Namun di baliknya, tersimpan harapan besar: lahirnya pelatih-pelatih baru yang kelak memoles bakat-bakat muda Aceh dan Indonesia.

Dengan 20 peserta yang datang penuh antusias, dukungan tokoh sepak bola daerah, serta bimbingan langsung dari Fakhri Husaini, Bireuen kembali mengirim pesan jelas ke peta sepak bola nasional:

mereka tidak hanya ingin melahirkan pemain hebat, tapi juga pelatih berkualitas yang siap bersaing di level lebih tinggi.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!