Delapan Tahun yang Mengubah Peta Sekolah Memasak
Perayaan delapan tahun kehadiran ABC Cooking Studio adalah tonggak yang menandai transformasi sekolah memasak Indonesia dari sekadar tempat belajar resep menjadi ekosistem pembelajaran kuliner yang berfokus pada komunitas, kreativitas, dan perkembangan teknik memasak lintas budaya. Dalam satu dekade terakhir, sedikit sekali lembaga yang berani merombak cara belajar memasak sedinamis ini. Pertumbuhan member dari sekitar 500 orang pada 2018 menjadi lebih dari 18.000 orang menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak sekadar laku secara komersial, tetapi menjawab kebutuhan gaya hidup urban yang menjadikan dapur sebagai ruang ekspresi diri, bukan hanya ruang kerja rumah tangga. Perayaan sepanjang Agustus bertema “ABC Infinity – Timeless Flavors, Endless Joy” mempertegas ambisi: memasak harus menjadi pengalaman berkelanjutan, bukan kursus satu kali lalu selesai.

Kelas Cooking Variation: Jawaban atas Tren Kuliner yang Cair
Peluncuran Cooking Variation sebagai kelas memasak baru adalah sinyal jelas bahwa sekolah memasak Indonesia sedang meninggalkan pola kurikulum statis. Alih-alih paket menu yang sama sepanjang tahun, kategori ini menghadirkan koleksi menu berbeda setiap bulan mengikuti tren kuliner dunia, dibuka dengan seri Ultimate Korean Flavor Journey yang mengajarkan hidangan autentik Korea seperti Homemade Kimchi Mandu dari nol. Ini bukan sekadar variasi tema; ini pengakuan bahwa selera murid berubah cepat, dan lembaga yang lambat menyesuaikan akan tertinggal. Program yang terus diperbarui memberi member kesempatan berkelanjutan untuk mengeksplorasi teknik, cita rasa, dan inspirasi baru, sehingga pengalaman di studio terasa seperti majalah kuliner hidup, bukan buku resep yang membeku. Di tengah maraknya kursus daring, format interaktif semacam ini menjadi pembeda yang sulit disaingi.
Cake Basic Baru: Menjembatani Tradisi dan Presentasi Modern
Rencana pembaruan kurikulum Cake Basic pada kuartal IV dengan penambahan 18 menu baru menunjukkan bahwa ABC tidak puas menjadi sekolah kue yang mengulang resep klasik tanpa pembaruan. Menu-menu tersebut dirancang memadukan fondasi dan teknik pastry klasik dengan cita rasa, teknik pengolahan, dan gaya penyajian yang lebih modern. Di sini terlihat ambisi yang lebih besar dari sekadar hobi: murid dibiasakan berpikir layaknya profesional yang harus menguasai dasar, namun tetap relevan dengan tren plating kontemporer. Meski belum dikemas sebagai sertifikasi memasak profesional, orientasi kurikulumnya sudah bergerak ke arah kompetensi yang bisa dibawa ke dunia kerja atau usaha rumahan. Ini menjadikan kelas kue bukan cuma sesi rekreasi akhir pekan, tetapi investasi keterampilan yang bisa berbuah karier.
Masterplate 2026: Kompetisi Kuliner yang Menguji Kematangan Talent
Kehadiran ABC Masterplate 2026 sebagai kompetisi kuliner 2026 tahunan khusus member menjadi bukti bahwa studio ini serius membina talent, bukan sekadar menjual kelas sekali datang. Mengusung tema “Zen of Growth”, peserta diminta memberi interpretasi baru pada hidangan khas Jepang, dengan kreativitas, teknik memasak, dan cerita personal sebagai elemen penilaian. Rangkaian kompetisi yang dimulai sejak 4 Juni, berlanjut ke submission 15–23 Juni, semifinal 18 Juli, hingga Grand Final 8 Agustus menunjukkan proses seleksi bertahap yang mendorong peserta mengasah konsistensi, bukan hanya satu piring keberuntungan. Format seperti ini mendekati pola liga kreatif, di mana ruang belajar dan ruang kompetisi saling menguatkan. Di lanskap sekolah memasak Indonesia, sedikit sekali program yang berani menempatkan murid di panggung kompetitif terkurasi seperti ini.
Akses, Komunitas, dan Masa Depan Sekolah Memasak
Di luar program unggulan, strategi membuka Trial Lesson sebagai pintu masuk memperluas akses belajar memasak dari tingkat dasar. Masyarakat bisa merasakan proses belajar dengan instruktur, mengenal teknik dasar, dan melihat suasana kelas sebelum berkomitmen menjadi member. Dengan empat studio di pusat perbelanjaan besar, ABC memosisikan diri sebagai sekolah memasak Indonesia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan lembaga elitis yang jauh dari jangkauan. Menurut Country General Manager Sally Sebrina, memasak di sini dipandang sebagai cara membangun kepercayaan diri, kenangan, dan kebersamaan, bukan sekadar menyiapkan makanan. Pernyataan itu konsisten dengan visi mereka untuk terus mengikuti perkembangan tren kuliner dan memberi ruang eksplorasi bagi setiap orang. Dalam ekosistem yang kian ramai, model yang menggabungkan komunitas, kelas memasak baru, dan kompetisi terkurasi seperti ini berpotensi menjadi cetak biru sekolah kuliner masa depan.






