Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Literasi Al-Qur'an Merambah SMA/SMK: Ambisi 99,99 Persen

Program Literasi Al-Qur'an Merambah SMA/SMK: Ambisi 99,99 Persen
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Serang Mengaji: Dari Pemetaan ke Ambisi 99,99 Persen

Program literasi Al-Qur'an Serang Mengaji adalah inisiatif pendidikan keagamaan di sekolah formal yang memetakan kemampuan membaca Al-Qur'an siswa, lalu memberi pembinaan terstruktur untuk memastikan hampir seluruh peserta didik mampu membaca, memahami dasar-dasar bacaan, dan membiasakan interaksi harian dengan Al-Qur'an sebagai bagian dari budaya sekolah.

Kuncinya: pemerintah kota tidak puas dengan capaian tinggi di jenjang SMP, tetapi memilih menaikkan standar dengan target literasi Al-Qur'an mendekati 99,99 persen pada akhir 2026. Ini bukan sekadar program tambahan, melainkan pernyataan politik pendidikan bahwa kemampuan membaca Al-Qur'an dan pembinaan akhlak harus menjadi arus utama di sekolah menengah. Wali kota menegaskan, tanpa program dan Satgas Serang Mengaji, pemerintah tidak akan mampu mendeteksi siapa saja siswa yang belum bisa mengaji, sehingga pendekatan berbasis data menjadi tulang punggung kebijakan ini.

Program Literasi Al-Qur'an Merambah SMA/SMK: Ambisi 99,99 Persen

Capaian 92,6 Persen di SMP: Sukses, Tapi Belum Selesai

Di tingkat SMP, program literasi Al-Qur'an Serang Mengaji diklaim telah mencapai 92,6 persen, menunjukkan mayoritas siswa sudah memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an yang terpetakan dengan baik. Contoh konkret tampak di salah satu SMP negeri, di mana dari sekitar 540 siswa, jumlah yang belum bisa mengaji turun dari 36 menjadi hanya delapan orang. Ini menunjukkan bahwa intervensi terarah mampu mengubah peta kemampuan dalam waktu relatif singkat.

Namun angka-angka ini juga mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai. Kepala dinas pendidikan menyebut, siswa kelas IX yang sudah melek Al-Qur'an baru mencapai 90,22 persen atau 7.451 dari 8.259 siswa, menyisakan 808 siswa yang masih tertinggal. Kutipan yang layak digarisbawahi: “Dengan sisa waktu menuju penutupan tahun 2026, Satgas Serang Mengaji terus mendampingi 808 siswa tersisa guna mengejar target akhir mendekati 99,99 persen.” Artinya, fokus harus bergeser dari kebanggaan capaian ke strategi menyelamatkan kelompok yang tertinggal.

Mengapa SMA/SMK Tidak Boleh Tertinggal

Ekspansi ke sekolah menengah atas bukan tambahan kosmetik, melainkan kebutuhan logis dari sebuah program literasi Al-Qur'an yang mengklaim diri sebagai strategi pemerataan pendidikan keagamaan di seluruh jenjang pendidikan formal. Jika SMP dipaksa serius membina kemampuan membaca Al-Qur'an, membiarkan SMA dan SMK berjalan tanpa pola yang sama akan menciptakan celah baru: siswa yang lulus SMP dengan kemampuan memadai, lalu kehilangan pembiasaan ketika memasuki jenjang berikutnya.

Dorongan ekspansi ini lahir dari dua faktor: arahan gubernur yang meminta program menyasar kelas SMA dan SMK, serta respons positif di SMP yang menunjukkan bahwa pemetaan kemampuan membaca Al-Qur'an memberi data berharga bagi kebijakan. Pemerintah kota menyatakan siap bersinergi dengan pemerintah provinsi untuk memperluas program pembinaan Al-Qur'an di sekolah menengah atas dan kejuruan, dengan harapan jangkauan literasi Al-Qur'an meluas dan pembelajaran di sekolah semakin kuat.

Strategi Implementasi: Dari Salat Duha ke Budaya Sekolah

Program literasi Al-Qur'an ini tidak berhenti pada tes kemampuan membaca Al-Qur'an; ia dirancang sebagai paket lengkap pendidikan keagamaan yang menanamkan akhlak dan adab. Pemerintah meminta sekolah menggelar kegiatan keagamaan rutin sebelum kegiatan belajar mengajar, termasuk salat Duha dan tadarus Al-Qur'an pada hari Rabu. Pendekatan ini menggeser literasi dari sekadar kemampuan teknis menjadi kebiasaan yang tertanam dalam ritme harian sekolah.

Secara konseptual, ini langkah berani: menjadikan kemampuan membaca Al-Qur'an sebagai indikator wajib kelulusan moral, bukan hanya akademik. Wali kota menekankan bahwa pendidikan agama penting agar anak memahami dan menerapkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari, dan bahwa pembinaan akhlak membutuhkan keterlibatan pemerintah serta orang tua. Jika SMA dan SMK mengadopsi pola yang sama, sekolah menengah atas berpotensi menjadi ruang di mana literasi Al-Qur'an, karakter, dan doa untuk kemajuan kota menyatu dalam satu ekosistem.

Tantangan Nyata Menuju 99,99 Persen

Target 99,99 persen tampak heroik, tetapi juga mengandung risiko: angka ini mudah berubah menjadi slogan jika strategi tidak menyentuh akar masalah. Masih ada 808 siswa SMP yang belum melek Al-Qur'an, sementara SMA dan SMK baru akan mulai tersentuh program. Tanpa penguatan guru pembina, pelatihan satgas, dan keterlibatan orang tua, ekspansi ke sekolah menengah atas bisa mengencerkan kualitas pembinaan.

Di sisi lain, jika pemerintah konsisten memantau pelaksanaan, memetakan kemampuan membaca Al-Qur'an di setiap jenjang, dan menjadikan kegiatan seperti salat Duha serta tadarus sebagai budaya sekolah, target 99,99 persen bukan mustahil. Program ini layak didukung, tetapi juga perlu dikritisi: keberhasilan sejati bukan pada angka di laporan, melainkan pada generasi yang menjadikan Al-Qur'an sebagai bacaan hidup, bukan sekadar kewajiban administratif.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!