HPC ASEAN-Korea: Dari Mesin Kencang Menjadi Infrastruktur Riset Bersama
Fasilitas High Performance Computing (HPC) ASEAN-Korea adalah infrastruktur superkomputer penelitian dan pusat data yang disiapkan sebagai fasilitas komputasi bersama bagi peneliti di kawasan ASEAN untuk mengerjakan riset berbasis data besar, kecerdasan buatan, dan pemodelan ilmiah yang membutuhkan daya komputasi tinggi, dengan akses jarak jauh, mekanisme proposal terbuka, serta tata kelola data yang diatur oleh komite ilmiah lintas negara.
Langkah membuka fasilitas HPC ASEAN-Korea kepada seluruh negara anggota ASEAN menunjukkan pergeseran penting: dari kompetisi infrastruktur menuju kolaborasi pengetahuan. Badan riset tuan rumah memperkenalkan kemampuan strategis, kerangka operasional, dan program pemanfaatan fasilitas ini kepada perwakilan negara anggota dalam sebuah acara diseminasi resmi di Gedung B.J. Habibie. Ini bukan sekadar seremoni; ini pernyataan bahwa superkomputer tidak lagi boleh menjadi “menara gading” teknologi yang hanya dinikmati segelintir institusi. Dengan menempatkan fasilitas HPC sebagai infrastruktur riset regional, kawasan punya peluang untuk mengurangi kesenjangan kapasitas komputasi dan mulai berbagi risiko, biaya, dan manfaat riset berbasis data besar secara lebih adil.

Superkomputer Penelitian sebagai Tulang Punggung Kolaborasi Riset Regional
Fasilitas komputasi berperforma tinggi ini dirancang sebagai penggerak riset kolaboratif dan inovasi digital di kawasan, bukan sebagai proyek teknologi yang berdiri sendiri. Di atas kertas, mandatnya jelas: mendukung penelitian modern yang membutuhkan kemampuan komputasi tinggi, mulai dari kecerdasan buatan (AI), analisis data, pemodelan iklim, hingga genomik dan bioinformatika, termasuk isu perubahan iklim, kesehatan, dan ketahanan pangan. Artinya, superkomputer penelitian ini diposisikan untuk menjawab persoalan lintas disiplin yang relevan langsung dengan kebijakan publik dan kesejahteraan masyarakat.
Secara politis, fasilitas ini adalah sinyal bahwa kawasan memilih strategi “kolaborasi atau tertinggal”. Perwakilan mitra Korea menegaskan bahwa fasilitas regional pertama yang dibangun untuk seluruh negara anggota ASEAN diharapkan mampu menjembatani kesenjangan teknologi, meningkatkan kolaborasi riset, dan mempercepat transformasi digital di kawasan. Jika narasi ini konsisten diwujudkan, kita akan melihat pergeseran dari riset parsial di masing-masing negara menuju program bersama yang memanfaatkan data lintas batas—sesuatu yang mustahil tanpa kapasitas komputasi kelas dunia dan jaringan penelitian berkecepatan tinggi hingga 10 Gbps.
BRIN sebagai Pengelola Infrastruktur Teknologi: Dari Besi ke Ekosistem
Peran lembaga pengelola di sini jauh melampaui pengadaan mesin. Fasilitas HPC ASEAN-Korea diperkenalkan sebagai infrastruktur komputasi kelas dunia yang dibangun untuk mendukung penelitian berbasis data dan AI di kawasan ASEAN. Pengelola berkomitmen mengembangkan, mengoperasikan, dan memelihara superkomputer beserta pusat data agar tetap relevan dan berkelanjutan dalam mendukung riset. Ini pendekatan yang tepat: superkomputer penelitian tidak berguna tanpa pemeliharaan, pembaruan, dan kebijakan penggunaan yang jelas.
Yang menarik, strategi pengelolaan menempatkan infrastruktur teknologi sebagai pintu masuk membangun ekosistem. Selain menyediakan fasilitas fisik, disiapkan pula pelatihan, lokakarya, dan pertukaran tenaga ahli untuk membangun jejaring insinyur HPC dan peneliti AI di Asia Tenggara. Pendekatan ini diimbangi dengan platform yang terbuka dan inklusif, termasuk antarmuka yang ramah pengguna dan mekanisme berbagi data untuk mempercepat kolaborasi ilmuwan ASEAN dan Korea. Jika ekosistem ini konsisten dibina, infrastruktur keras (hardware) berubah menjadi kapasitas pengetahuan yang melekat di komunitas peneliti, bukan hanya di ruang server.
Skema Akses: Open Call, Akses Daring, dan Konsekuensi bagi Peneliti
Fasilitas HPC ini tidak dibuka secara bebas tanpa seleksi. Ketua Komite Ilmiah menegaskan bahwa fasilitas hanya diperuntukkan bagi kegiatan penelitian, dengan pemanfaatan melalui mekanisme open call di mana ketua tim pengusul wajib merupakan warga negara ASEAN dari institusi di negara anggota. Peneliti yang ingin memanfaatkan fasilitas HPC harus mengajukan proposal yang akan dievaluasi berdasarkan kualitas ilmiah, kebutuhan komputasi, tingkat kolaborasi antarnegara ASEAN, dan aspek inklusivitas. Pendekatan ini memberikan sinyal tegas: prioritas diberikan pada riset yang menggabungkan kapasitas ilmiah dengan semangat kolaborasi regional.
Dari sisi praktis, dampaknya jelas terasa bagi peneliti. Peneliti yang lolos seleksi akan memperoleh akun untuk mengakses sistem secara daring dari negara masing-masing, tanpa perlu datang ke lokasi fisik. Ini mengurangi hambatan biaya perjalanan dan logistik, sekaligus memaksa peneliti membangun kompetensi kerja jarak jauh di lingkungan komputasi canggih. BRIN telah menyiapkan tahapan awal melalui pengujian sistem, lokakarya administrasi, dan pelatihan calon pengguna, serta mengundang peneliti dari negara-negara ASEAN untuk uji coba pemanfaatan fasilitas pada 10–28 Agustus sebelum pendaftaran resmi dibuka. Rencananya, pendaftaran penggunaan akan dibuka pada 31 Agustus.
KADIF dan Visi Jangka Panjang Kolaborasi Digital ASEAN-Korea
Fasilitas HPC ASEAN-Korea bukan proyek tunggal; ia berada di bawah payung Korea-ASEAN Digital Innovation Flagship Project (KADIF) yang mencakup pengembangan ekosistem data, infrastruktur HPC, pengembangan AI, dan pendirian Akademi Digital ASEAN-Korea. Salah satu proyek utama KADIF adalah pembangunan infrastruktur HPC berkapasitas 3,5 petaflops yang disahkan pada September 2024, dengan alokasi anggaran khusus. Kembali, angka ini penting bukan karena ukuran saja, melainkan karena menunjukkan keseriusan investasi jangka panjang pada kapasitas komputasi regional.
Menurut pemaparan KADIF, proyek ini bertujuan meningkatkan kompetensi digital negara-negara ASEAN melalui penyediaan infrastruktur komputasi, pengembangan platform berbagi pengetahuan sains dan teknologi, serta pelatihan HPC dan AI bagi 160 peserta dari kawasan. Perwakilan negara koordinator menempatkan fasilitas HPC sebagai proyek unggulan dalam kemitraan strategis ASEAN–Republik Korea dan tonggak penting kerja sama digital kawasan, yang diharapkan bersinergi dengan berbagai inisiatif AI ASEAN-Korea untuk mendukung pencapaian Visi Komunitas ASEAN 2045. Jika konsistensi kebijakan terjaga, kolaborasi riset regional di atas fasilitas HPC ASEAN akan menjadi salah satu penggerak utama transformasi digital kawasan, bukan hanya simbol diplomasi teknologi.






