Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bukan Sekadar Menanam, Warga Diajak Merawat Mangrove

Bukan Sekadar Menanam, Warga Diajak Merawat Mangrove
Minat|Asia Tenggara

Ukuran keberhasilan ada setelah bibit ditanam

Rehabilitasi mangrove adalah upaya memulihkan ekosistem pesisir dengan menanam dan merawat pohon hingga mampu tumbuh, menopang habitat, serta melindungi kawasan pantai. Karena itu, jumlah bibit yang ditanam seharusnya menjadi awal penilaian, bukan ukuran akhir keberhasilan. Sejak 2024, Medco E&P menanam 22.000 pohon mangrove di lahan seluas 2,2 hektare di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Program ini melibatkan Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD), yang berwenang mengelola Hutan Desa Sungsang IV. Perusahaan juga memperhatikan perkembangan dan keberlangsungan hidup tanaman, bukan berhenti pada seremoni penanaman. Pada Kamis, 29 Oktober 2026, Medco E&P bersama para pemangku kepentingan melakukan pemantauan dan evaluasi untuk memeriksa kondisi tanaman serta menentukan kebutuhan pemeliharaan. Arah ini patut didukung: mangrove Banyuasin akan dinilai dari tegaknya ekosistem, bukan semata angka bibit.

Perawatan membuat keterlibatan warga berarti

Melibatkan lembaga desa memberi rehabilitasi mangrove peluang lebih besar untuk bertahan karena warga dan pengelola setempat dapat ikut mengetahui kondisi lapangan. Pemantauan yang dilakukan bersama juga membantu mengidentifikasi kebutuhan perawatan dan langkah lanjutan, alih-alih menganggap pekerjaan selesai ketika bibit masuk tanah. Inilah bagian yang sering luput dalam program penghijauan: tanpa perhatian setelah penanaman, angka awal tidak menjelaskan apakah tanaman tumbuh atau ekosistem pulih. Bagi warga pesisir, keterlibatan bukan sekadar menjadi tenaga dalam kegiatan, melainkan ikut berada dalam proses pengelolaan yang berkelanjutan. Namun, pemantauan sesekali belum otomatis menjamin keberhasilan. Program perlu menjaga kesinambungan perawatan dan memperjelas pembagian peran agar kondisi mangrove tetap diperiksa dan tindak lanjut tidak terputus. Dengan demikian, perhatian pada perawatan mangrove mengubah ukuran keberhasilan dari banyaknya bibit yang ditanam menjadi kemampuan menjaga tanaman tetap hidup.

Pelajaran Banyuwangi: konservasi perlu memberi manfaat

Pendekatan Banyuasin menekankan pengelolaan dan pemeliharaan, sementara dorongan di Banyuwangi mengingatkan bahwa kelestarian juga perlu berjalan bersama kesejahteraan warga. Dalam sosialisasi Perencanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Mangrove di Genteng pada 27 Oktober 2026, anggota DPR RI Sonny T. Danaparamita mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan serta pengembangan produk olahan mangrove. Gagasannya bukan memberi kebebasan mengambil hasil tanpa batas: pemanfaatan harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan ketentuan yang berlaku. Usaha berbahan mangrove juga memerlukan pendampingan, pengolahan yang aman, dan strategi pemasaran supaya memberi nilai tambah kepada warga. Perbandingan ini menunjukkan dua kebutuhan yang saling melengkapi. Banyuasin menggarisbawahi bahwa tanaman harus dirawat; Banyuwangi menekankan bahwa warga lebih terdorong menjaga kawasan ketika memperoleh manfaat nyata. Konservasi yang mengabaikan penghidupan berisiko kehilangan dukungan, sedangkan kegiatan ekonomi tanpa batas dapat merusak ekosistem yang menopangnya.

Kepedulian warga terhadap kelestarian lebih mudah tumbuh ketika mereka merasakan dampak positif dari upaya pelestarian.

Bukan Sekadar Menanam, Warga Diajak Merawat Mangrove

Keberlanjutan harus menjadi hasil bersama

Pelajaran dari dua daerah ini jelas: rehabilitasi mangrove tidak akan bertahan lama jika masyarakat hanya hadir saat penanaman. Peran LDPHD dalam program di Banyuasin menyediakan dasar bagi pengelolaan lokal, sementara gagasan Banyuwangi menambahkan bahwa manfaat ekonomi yang bertanggung jawab dapat memperkuat kemauan warga untuk menjaga kawasan. Keduanya menuntut kerja bersama, pengawasan, dan rencana yang tidak berhenti pada kegiatan awal. Untuk program Banyuasin, tindak lanjut yang disebutkan adalah memantau pertumbuhan, mencatat kondisi tanaman, lalu mengenali kebutuhan pemeliharaan dan langkah berikutnya. Di Banyuwangi, perencanaan dan pengawasan bersama diharapkan menyeimbangkan kepentingan ekologis dengan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kesimpulannya, keberhasilan bukan soal siapa yang menanam paling banyak, melainkan apakah warga ikut merawat, memahami manfaatnya, dan dapat menjaga mangrove tanpa mengorbankan fungsi alamnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!