KuybeliKuybeli

Strategi BRIN Wujudkan Kemandirian Semikonduktor dari Hulu ke Hilir

Strategi BRIN Wujudkan Kemandirian Semikonduktor dari Hulu ke Hilir
Minat|Asia Tenggara

Semikonduktor Bukan Lagi Opsi, Melainkan Soal Kedaulatan

Semikonduktor Indonesia adalah upaya sistematis membangun kapasitas riset, desain, dan produksi chip dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor, memperkuat industri elektronik lokal, serta mengamankan posisi negara dalam rantai pasok teknologi global selama beberapa dekade mendatang. Di Istana Negara pada 6 Agustus 2026, Kepala BRIN Arief Satria menegaskan lembaganya tengah mengembangkan teknologi semikonduktor dan menempatkannya sebagai prioritas pertama dalam riset teknologi maju. Penguasaan teknologi chip disebut sebagai kebutuhan strategis agar negara tidak terus bergantung pada produk semikonduktor dari luar negeri. Pernyataan ini menunjukkan perubahan cara pandang: semikonduktor bukan sekadar komponen ponsel atau laptop, melainkan instrumen kedaulatan teknologi nasional yang menyentuh pertahanan, ekonomi, hingga layanan publik.

Strategi BRIN Wujudkan Kemandirian Semikonduktor dari Hulu ke Hilir

Mengapa BRIN Mengunci Fokus pada Semikonduktor dan AI

Keputusan BRIN menjadikan semikonduktor sebagai fokus riset bukan tindakan simbolik, tetapi respons atas peta daya saing global. Arief Satria mengingatkan bahwa negara dengan kapasitas inovasi tinggi biasanya memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi, dan posisi teratas Global Innovation Index 2025 masih dikuasai Swiss, Swedia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Selama ketergantungan chip asing dibiarkan, kemandirian teknologi chip akan sulit tercapai. Karena itu BRIN memperkuat pengembangan semikonduktor Indonesia berdampingan dengan kecerdasan artifisial, genomik, teknologi kuantum, nuklir, dan antariksa sebagai mesin daya saing dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Strategi ini jelas: jangan menunggu krisis pasokan global berikutnya; bangun kapasitas domestik sebelum pintu teknologi terkunci oleh standar, paten, dan geopolitik.

Dari Peta Jalan Riset hingga Kemandirian Industri Elektronik

Ambisi kemandirian teknologi chip membutuhkan arah jangka panjang, bukan proyek sporadis. BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyusun Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional 2026–2045 sebagai acuan pembangunan ilmu pengetahuan agar riset lebih terarah, selaras RPJMN, mendukung Asta Cita, dan terintegrasi dengan program prioritas nasional. Di sinilah semikonduktor Indonesia harus ditempatkan: sebagai fondasi kedaulatan teknologi nasional, bukan sekadar program litbang. Tujuan akhirnya jelas, mengurangi ketergantungan pada pasokan chip luar negeri dan meningkatkan daya saing industri elektronik melalui penguasaan teknologi dari desain hingga fabrikasi. Tanpa arah seperti ini, industri hanya akan menjadi perakit perangkat impor, bukan pemilik nilai tambah utama.

Riset yang Turun ke Lapangan: Pelajaran dari Food Guard

Skeptisisme bahwa BRIN riset semikonduktor akan berhenti di laboratorium terbantah oleh contoh konkret di bidang AI. Arif Satria menjelaskan bahwa pengembangan AI tidak berhenti di tataran riset, tetapi sudah diterapkan dalam Program Makan Bergizi Gratis melalui perangkat pintar Food Guard yang dipasang pada wadah makanan untuk menjaga kualitas selama distribusi. Ini bukti bahwa teknologi strategis dapat menyentuh kehidupan sehari-hari, dari rantai pasok pangan hingga sistem monitoring berbasis AI di seluruh ekosistem program tersebut. Pertanyaannya: kapan pola yang sama terjadi di semikonduktor? Jika chip lokal menjadi otak perangkat seperti Food Guard, kemandirian teknologi chip akan langsung terasa pada layanan sosial, bukan hanya di statistik industri.

Kedaulatan Teknologi: Dari Chip hingga Nuklir dan Antariksa

BRIN menempatkan semikonduktor dalam satu paket besar kedaulatan teknologi nasional. Selain chip, mereka memperkuat pengembangan nuklir dan antariksa untuk mendukung kedaulatan energi, kesehatan, pangan, dan pengawasan wilayah. Di bidang nuklir, BRIN menyiapkan penguasaan seluruh rantai teknologi—dari penambangan dan pemurnian uranium serta torium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, keselamatan, metrologi radiasi hingga pengolahan limbah radioaktif—agar negara tidak hanya menjadi pembeli teknologi ketika memasuki era PLTN. Logika yang sama harus diterapkan pada semikonduktor Indonesia: menguasai rantai nilai dari riset material hingga produksi chip. Arief Satria mengingatkan, penguasaan teknologi strategis akan menentukan apakah negara hanya menjadi pengguna atau pemilik teknologi di masa depan. Itulah garis pembatas kedaulatan digital abad ini.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!