Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Konflik Orang Tua di Media Sosial dan Luka Psikis Anak

Konflik Orang Tua di Media Sosial dan Luka Psikis Anak
Minat|Kesehatan Mental

Konflik Orang Tua di Ruang Publik: Bukan Drama, Tapi Ancaman Psikis

Konflik orang tua di media sosial adalah situasi ketika perselisihan, saling serang, dan perdebatan antar orang tua dipertontonkan secara terbuka di platform digital, sehingga anak ikut terpapar dan menanggung dampak psikologis berkepanjangan berupa tekanan psikis, kebingungan emosional, serta potensi trauma jangka panjang yang memengaruhi kesehatan mentalnya. Dalam kasus perseteruan yang melibatkan figur publik, Komisi Nasional Perlindungan Anak menegaskan bahwa konflik orang tua berdampak langsung pada kondisi psikis anak, bukan sekadar urusan dewasa yang berdiri sendiri. Konflik orang tua dampak anak menjadi nyata ketika anak melihat orang yang seharusnya menjadi sumber rasa aman berubah menjadi pihak yang saling menyerang. Aksi saling serang di media sosial dinilai sebagai contoh buruk sekaligus ancaman nyata bagi kondisi psikis anak-anak mereka.

Konflik Orang Tua di Media Sosial dan Luka Psikis Anak

Mekanisme Luka Batin: Dari Tekanan Psikis ke Trauma Jangka Panjang

Yang sering diabaikan orang tua adalah mekanisme halus bagaimana konflik berulang berubah menjadi luka batin. Ketika anak terus-menerus menyaksikan orang tuanya saling menyerang di ruang publik, sistem sarafnya belajar bahwa rumah dan keluarga bukan tempat yang aman. Komnas PA menyebut adanya dugaan anak yang sudah mengalami tekanan psikis akibat perseteruan orang tua yang berlarut-larut. Tekanan ini tidak berhenti ketika pertengkaran reda; ia menumpuk menjadi trauma psikis anak perceraian, rasa ditolak, dan keyakinan bahwa cinta selalu disertai konflik. Pernyataan tegas bahwa "kalau ini terus terjadi, dia akan bawa luka batinnya sampai mereka dewasa, menikah" menunjukkan bahwa luka tersebut bisa terbawa hingga fase dewasa dan memengaruhi hubungan mereka kelak. Anak belajar pola relasi yang rusak, lalu mengulangnya dalam kehidupan pernikahan dan pengasuhan mereka sendiri.

Konflik Orang Tua di Media Sosial dan Luka Psikis Anak

Kesehatan Mental Anak Bukan Kolateral Konflik Dewasa

Konflik orang tua yang dipublikasikan di media sosial bukan sekadar urusan citra atau reputasi; ia langsung menyentuh kesehatan mental anak keluarga. Komnas PA menaruh kekhawatiran mendalam terhadap kesehatan mental serta tumbuh kembang buah hati dalam konflik yang dipertontonkan ke publik. Menurut lembaga tersebut, konflik yang berlangsung secara terbuka berpotensi memengaruhi kondisi psikologis anak. Ketika orang tua sibuk membela diri di ruang publik, anak menyerap pesan bahwa kebutuhannya bisa dikorbankan demi ego dan pembenaran diri. Negara bahkan mengakui bahwa apabila konflik orang tua terbukti menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan mental, kondisi fisik, maupun proses tumbuh kembang anak, negara memiliki kewenangan hukum penuh untuk mengambil langkah perlindungan. Artinya, kesehatan mental anak bukan konsekuensi yang bisa ditoleransi; ia adalah batas yang tidak boleh dilanggar.

Peran Pemeriksaan Psikologis Independen: Mengukur Luka yang Tak Terlihat

Banyak orang tua menyangkal dampak konflik dengan alasan anak tampak "baik-baik saja". Di sinilah pemeriksaan psikologis independen oleh psikolog profesional menjadi penting. Komnas PA menyatakan telah melakukan asesmen terhadap anak yang terlibat dalam konflik, dengan membawa tenaga ahli psikolog dan menyimpan hasil asesmennya. Pemeriksaan semacam ini membantu mengukur dampak nyata pada kesejahteraan mental anak, termasuk gejala kecemasan, depresi, atau tanda trauma psikis yang belum tampak di permukaan. Penilaian profesional juga menjadi dasar bagi negara untuk menentukan apakah telah terjadi kekerasan psikis berulang yang membahayakan anak. Komnas PA menegaskan bahwa memungkinkan hak asuh dicabut bila negara melihat sering terjadi kekerasan psikis terhadap anak. Tanpa asesmen independen, luka batin anak berisiko dianggap remeh sampai konsekuensinya menjadi terlalu berat.

Prioritaskan Perlindungan Psikologis Anak, Bukan Kemenangan di Media Sosial

Pesan paling penting untuk orang tua: berhenti menjadikan anak korban samping konflik dewasa. Komnas PA mengecam keras kedua belah pihak yang terus-menerus saling menyerang di ruang publik dan menyebut perilaku itu tidak patut dicontoh. Menurut lembaga tersebut, konflik terbuka berpotensi memengaruhi kondisi psikologis anak, sehingga orang tua diharapkan lebih mengutamakan kepentingan anak dibanding memperpanjang perselisihan di hadapan publik. Perlindungan psikologis anak harus menjadi kompas utama, bahkan ketika konflik menyangkut hak asuh, harta, atau reputasi. Negara sudah menunjukkan bahwa hak asuh anak dapat dicabut apabila orang tua terbukti melakukan tindakan yang membahayakan anak. Jika orang tua terus mempertontonkan saling serang di ruang publik, mereka bukan hanya memberi contoh buruk, tetapi membuka pintu bagi intervensi hukum demi melindungi anak. Pilihannya jelas: merawat luka anak atau mempertahankan ego di media sosial.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!