Dari Jalan Raya ke Ruang Publik: Makna ITB Ultra Marathon
ITB Ultra Marathon 2026 adalah event lari ultra marathon dengan rute 180 kilometer yang mengubah koridor Jakarta–Bogor–Puncak–Cimahi–Bandung menjadi laboratorium hidup, di mana ribuan pelari, panitia, dan warga bersama-sama menguji ketahanan fisik, kesiapan infrastruktur, serta kemungkinan baru pemanfaatan jalan raya sebagai ruang publik berkelanjutan yang lebih ramah manusia dan tidak hanya didominasi kendaraan bermotor. Inti penting dari penyelenggaraan ITB Ultra Marathon 2026 bukan sekadar angka peserta atau catatan waktu, melainkan pesan politis tentang siapa yang berhak atas kota. Ketika 5.216 pelari mengambil alih aspal yang biasanya penuh kendaraan, kita melihat gambaran jelas: ruang kota bisa diatur ulang agar mengutamakan manusia, bukan mesin. Ajang ini dimulai pada Jumat, 16 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Senayan, dan sejak start pertama, narasi kota yang berorientasi kendaraan mulai digugat secara nyata.

Rute 180 Kilometer: Tantangan Fisik dan Eksperimen Tata Kota
Rute 180 kilometer Jakarta–Bogor–Puncak–Cimahi–Bandung dengan batas waktu 38 jam bukan hanya ujian daya tahan tubuh, tetapi juga ujian bagi kota sebagai sistem ruang dan infrastruktur. Menurut Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, ajang lari jarak jauh seperti ITB Ultra Marathon 2026 adalah eksperimen tata ruang sekaligus laboratorium nyata untuk menguji ketahanan dan fleksibilitas infrastruktur perkotaan. Ini pandangan yang tegas: kota tidak boleh dinilai hanya dari kelancaran kendaraan, tetapi dari kemampuannya mengakomodasi pergerakan massal manusia. Pemilihan rute yang melintasi kawasan bersejarah, pusat ekonomi, landmark, hingga permukiman menjadikan lomba ini alat city branding yang efektif. Kota diperkenalkan bukan lewat brosur, melainkan lewat langkah pelari dan sorak warga di sepanjang lintasan. Di sini, olahraga lari mengubah dinamika urban: trotoar, bahu jalan, dan simpang sibuk diuji sebagai bagian dari jaringan ruang publik, bukan sekadar pelengkap jalur kendaraan.

Temporary Urbanism: Jalan Raya yang Sesekali Harus Mengalah
Penyelenggaraan ITB Ultra Marathon 2026 memperlihatkan dengan gamblang bagaimana jalan raya yang biasanya dipadati kendaraan bermotor dimanfaatkan sementara sebagai ruang terbuka bagi manusia. Inilah praktik nyata konsep temporary urbanism: kota diatur ulang untuk fungsi berbeda dalam jangka waktu tertentu. Bagi saya, ini bukan gangguan, melainkan koreksi sesaat terhadap bias jangka panjang yang terlalu memanjakan kendaraan. Prof. Ridwan mengingatkan bahwa manfaat ruang publik berkelanjutan dari event seperti ini hanya muncul jika perencanaan matang dan melibatkan banyak pihak. Rekayasa lalu lintas, jalur alternatif, akses ke rumah sakit dan layanan darurat, hingga pemisahan jalur pelari, kendaraan, dan penonton adalah syarat etis agar hak warga nonpeserta tetap terjaga. Tantangannya jelas: menjaga aktivitas harian masyarakat sambil mengizinkan kota "bernafas" sebagai ruang olahraga, interaksi sosial, dan perayaan hak warga atas ruang kota yang inklusif dan manusiawi.

Running for Impact: Kolaborasi, UMKM, dan Pesan Keberlanjutan
Mengusung tema Running for Impact, ITB Ultra Marathon 2026 secara sadar diarahkan untuk memberi manfaat bagi kampus dan masyarakat di sepanjang rute. Ketua pelaksana menegaskan bahwa peningkatan jumlah peserta dan hadirnya kategori baru bukan sekadar angka, melainkan wujud kolaborasi besar antara pemerintah, dunia usaha, dan mitra agar setiap pelari pulang dengan selamat. Di sini, keselamatan bukan aksesori, tetapi bagian dari etika ruang publik. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dalam penyelenggaraan, menghadirkan bazar UMKM di area finis, dan menggunakan produk lokal untuk medali, tas lipat, dan jersey. Pakar tata kota ITB memandang pendekatan seperti ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama kota berkelanjutan, kehidupan sehat, pekerjaan layak, dan konsumsi yang bertanggung jawab. Ajang lari ultra marathon ini relevan bagi pemerintah, perencana kota, pelaku usaha, komunitas lari, hingga warga biasa yang menginginkan kota lebih sehat, aman, dan inklusif.
Kesimpulan: Kota yang Sehat Butuh Jalan Raya yang Sesekali Kosong
Keberhasilan ITB Ultra Marathon 2026 dengan 5.216 peserta yang menaklukkan rute 180 kilometer menegaskan satu hal: kota yang sehat tidak bisa terus-menerus tunduk pada logika kendaraan bermotor. Ketika jalan raya dibuka bagi pelari dan warga, kita melihat potensi ruang publik berkelanjutan yang selama ini tertutup oleh deru mesin. Prof. Ridwan mengingatkan bahwa melalui integrasi ilmu perencanaan wilayah dan kota, event seperti ini tidak pantas dicap sebagai pengganggu ketertiban, melainkan perayaan hak warga atas ruang kota yang berkelanjutan, inklusif, dan manusiawi. Tentu, tantangan tetap ada: rekayasa lalu lintas, keselamatan, dan mobilitas warga harus diurus serius. Namun jika kota hanya diukur dari lancarnya kendaraan, kita kehilangan kesempatan menjadikannya panggung aktivitas sosial, ekonomi, dan kesehatan. ITB Ultra Marathon 2026 menunjukkan arah berbeda: olahraga lari bisa menjadi alat kritik sekaligus solusi, mengingatkan bahwa aspal kota pada akhirnya milik manusia.






