Siaran pertandingan yang berubah menjadi sarana taruhan
Judi bola virtual melalui siaran langsung TikTok adalah praktik taruhan yang memanfaatkan pertandingan sepak bola dalam gim sebagai tontonan sekaligus ajang bagi penonton untuk menebak skor dengan uang. Dugaan praktik ini diungkap Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah di Kudus setelah petugas menemukan akun TikTok DrogNovv Backup menayangkan pertandingan virtual. Seorang pria berinisial MR, 27 tahun, ditangkap pada Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 20.00 WIB di rumahnya di Kelurahan Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu. Permainan Winning Eleven 2010 dijalankan menggunakan konsol PlayStation, lalu disiarkan lewat live TikTok. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa siaran langsung yang tampak seperti hiburan gim dapat menjadi pintu masuk transaksi taruhan. Persoalannya bukan sekadar konten yang tayang, melainkan mekanisme uang dan taruhan yang diduga mengiringinya.

Uang taruhan, komisi, dan risiko bagi penonton
Menurut keterangan polisi, peserta yang ingin ikut harus mentransfer uang ke rekening yang digunakan MR. Ia diduga mengambil komisi 5 persen dari setiap taruhan yang masuk. Selama sekitar dua bulan, MR disebut memperoleh Rp25 juta. Angka itu menunjukkan bahwa siaran tersebut bukan hanya ruang menonton: ada aliran dana yang perlu ditelusuri dan peserta yang menanggung risiko kehilangan uang. Judi online TikTok dapat membuat ajakan bermain tampak dekat dan mudah diikuti, tetapi kemudahan itu tidak menghapus konsekuensi finansial maupun hukum. Polisi menyita telepon seluler, komputer, kamera, mikrofon, perangkat PlayStation, dan rekening bank untuk pemeriksaan. Penyidik masih mendalami aliran dana, cara kerja taruhan, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain. Karena itu, temuan awal perlu dipahami sebagai dugaan yang masih diproses, bukan putusan bersalah.

Penyelenggara taruhan berbeda dari promotor situs
Kasus lain di Medan memperlihatkan fungsi TikTok yang berbeda. Polres Tebing Tinggi menangkap DV, 22 tahun, yang diduga mempromosikan judi online lewat akun TikTok pada Oktober 2026. Polisi menyebut ia mengarahkan calon pemain ke situs melalui tautan referal dan memperoleh komisi 5 persen dari keuntungan situs yang berasal dari pemain rujukannya. Perbedaan perannya penting: dalam kasus Kudus, MR diduga menyelenggarakan taruhan tebak skor bola, menerima setoran peserta, dan mengambil bagian dari taruhan. Dalam kasus DV, dugaan utamanya ialah promosi dan pengalihan pengguna ke platform judi, bukan mengatur pertandingan atau menerima taruhan langsung. Polisi menyatakan penelusuran terhadap akun promosi bermula setelah Tim Siber menemukannya pada 3 Oktober 2026. Meski DV telah ditangkap, dugaan keterlibatannya tetap harus dibuktikan melalui proses hukum.

Penindakan perlu mengikuti aliran uang dan jangkauan konten
Dua perkara ini menegaskan bahwa penegakan hukum tidak cukup berhenti pada akun yang terlihat di layar. Penyidik perlu membedakan siapa yang mengatur taruhan, siapa yang menerima setoran, dan siapa yang mengarahkan calon pemain ke situs melalui referal. Perbedaan itu menentukan cara menelusuri bukti digital dan aliran dana, sementara pengguna perlu menyadari bahwa transfer untuk ikut taruhan dapat membawa kerugian finansial sekaligus konsekuensi hukum. Dalam perkara Kudus, pemeriksaan perangkat elektronik dan rekening masih berjalan untuk menjelaskan mekanisme serta kemungkinan pihak lain. Sementara itu, perkara promosi situs juga harus melalui pembuktian hukum. TikTok memang dapat dipakai untuk hiburan dan komunitas gim, tetapi siaran langsung tak semestinya menjadi kedok untuk memfasilitasi perjudian. Kesimpulannya, respons yang tepat harus menindak peran dan transaksi di balik konten, bukan hanya menghapus tayangannya.






