Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Festival Oullim Korea di Surabaya: Gerbang ke Jinju dan Wisata Halal

Festival Oullim Korea di Surabaya: Gerbang ke Jinju dan Wisata Halal
Minat|Jepang & Korea

Oullim: Dari Euforia K-pop ke Jembatan Budaya yang Serius

Festival Oullim Korea adalah sebuah festival budaya Korea yang untuk pertama kalinya digelar di Surabaya, menghadirkan kuliner, permainan tradisional, dan kompetisi K-pop dance cover sebagai cara mendekatkan masyarakat pada Korea di luar citra Seoul dan drama televisi. Di balik gemerlap panggung dan sorak penonton, pesan utamanya jelas: K-pop hanyalah pintu masuk, sementara tujuan besarnya adalah keharmonisan—makna yang terkandung dalam kata oullim—antara komunitas lokal dan Korea Selatan. Ketika Amphiteater Gedung Q Universitas Kristen Petra dipenuhi orang-orang berhanbok pada Sabtu, 17 Oktober 2026, terasa bahwa ini bukan sekadar festival musiman, melainkan latihan kecil bagaimana dua budaya bisa saling menyapa tanpa canggung.

Festival Oullim Korea yang baru pertama kali digelar di Surabaya pada Sabtu, 17 Oktober 2026, langsung diserbu penggemar K-pop dan budaya Korea yang memadati area kampus. K-pop dance cover menjadi magnet utama, tetapi deretan stan kuliner dan permainan tradisional membuat pengunjung tidak berhenti bergerak dari satu sudut ke sudut lain. Di sinilah terlihat kekuatan festival budaya Korea: menggabungkan hiburan populer dengan pengalaman budaya yang lebih dalam, tanpa menggurui. Menurut panitia, melalui Festival Oullim Korea, KCC Indonesia dan KSI Surabaya ingin “menyuguhkan kebudayaan kepada pengunjung”, dan pilihan formatnya terbukti tepat untuk generasi muda yang haus hiburan sekaligus informasi.

Festival Oullim Korea di Surabaya: Gerbang ke Jinju dan Wisata Halal

Kuliner, Permainan Tradisional, dan Makna Keharmonisan

Kekuatan utama festival budaya Korea seperti Oullim adalah kemampuannya mengubah rasa penasaran menjadi pengalaman langsung. Deretan stan di sekitar Amphiteater Gedung Q memamerkan kebudayaan Korea, dari kuliner hingga permainan tradisional yang mengundang tawa sekaligus kompetisi kecil di antara pengunjung. Di tengah hiruk pikuk, anak-anak dan orang dewasa bergantian mencoba Tuho, Ddakji, dan Jegichagi yang dibawa oleh Korean Cultural Center Indonesia dan King Sejong Institute Surabaya. Momen seorang bocah 11 tahun bernama Sung Joo yang bersorak setelah berhasil memasukkan tiga anak panah ke tabung kayu dalam permainan Tuho menunjukkan bagaimana permainan sederhana bisa menjadi bahasa universal yang menghapus jarak budaya.

Di balik keseruan itu, konsep oullim sebagai keharmonisan terasa konkret. Permainan tradisional tidak diposisikan sebagai pajangan museum, tetapi sebagai aktivitas yang mengundang interaksi, hadiah kecil, dan rasa bangga ketika berhasil menyelesaikan tantangan. Pendekatan ini penting: generasi muda Surabaya tidak hanya menonton budaya Korea, mereka ikut memainkannya. Festival seperti ini seharusnya menjadi model, karena ia menggeser relasi dari sekadar penonton dan objek budaya menjadi pertemuan dua arah. Ketika anak-anak lokal fasih berbahasa Indonesia bermain permainan tradisional Korea, kita melihat bentuk kecil dari pertukaran budaya yang sehat dan setara, bukan sekadar konsumsi budaya populer satu arah.

Jinju: Dari Lentera Apung hingga Kota Kreatif UNESCO

Jika hari pertama Oullim menekankan euforia K-pop, hari kedua mengarahkan sorotan ke sesuatu yang lebih strategis: mengenal Kota Jinju dan Provinsi Gyeongsangnam-do sebagai tujuan studi dan wisata. Mardiana dari Gyeongnam Jakarta Office berbicara di hadapan anak-anak muda yang memadati amphiteater pada Minggu, 18 Oktober 2026, menjelaskan bahwa Gyeongnam adalah sister province Jawa Timur, dengan Changwon dan Jinju sebagai dua kota kunci. Changwon dekat di hati penggemar SEVENTEEN karena menjadi kampung halaman Wonwoo, sementara Jinju diperkenalkan sebagai kota yang sarat kultur dan tradisi, berpredikat UNESCO Creative Crafts and Folk Art City.

Melalui foto-foto di booth Gyeongnam, pengunjung diajak menyusuri Festival Lentera Apung yang identik dengan Jinju, dikenal sebagai Jinju Namgang Yudeung Festival. Tradisi ini berakar pada Perang Imjin 1950-an, ketika lentera di sungai digunakan untuk mengirim strategi perang, sementara rakyat melarung lentera berisi doa seperti “Semoga anakku cepat pulang”. Cerita ini mengubah Jinju dari sekadar nama kota menjadi ruang sejarah hidup di benak pengunjung. Ditambah statusnya sebagai rumah bagi Gyeongsang National University, salah satu dari 10 universitas nasional terbaik di Korea, Jinju tampil bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga kota masa depan bagi pelajar yang ingin melangkah ke luar Seoul.

Festival Oullim Korea di Surabaya: Gerbang ke Jinju dan Wisata Halal

Wisata Halal dan Studi: Jinju sebagai Alternatif di Luar Seoul

Salah satu pesan paling menarik dari sesi tentang Gyeongsangnam-do adalah penegasan bahwa peluang beasiswa dan kehidupan pelajar tidak terpusat di Seoul. Pemerintah Korea Selatan membuka banyak peluang studi di provinsi ini, dan Jinju menjadi contoh kota yang menggabungkan kualitas pendidikan, kekayaan budaya, serta kesiapan menyambut wisatawan dan pelajar Muslim. Melalui tema sutra, stroberi, dan makanan halal yang diangkat dalam pengenalan Jinju, pengunjung festival diajak membayangkan bentuk wisata halal Korea yang lebih menyeluruh: menikmati produk lokal, mengikuti festival budaya, sekaligus merasa aman dalam pilihan konsumsi sehari-hari.

Di sinilah Festival Oullim Korea menunjukkan peran strategisnya. Ia mempertemukan penggemar K-pop lokal dengan informasi mendalam tentang Korea Selatan di luar Seoul, termasuk peluang studi di Gyeongsangnam-do dan daya tarik Kota Jinju. Antusiasme sorak-sorai anak muda ketika mendengar nama Wonwoo SEVENTEEN dimanfaatkan dengan cerdas untuk mengalihkan perhatian mereka ke topik beasiswa, kota kreatif UNESCO, dan festival lentera apung. Ini bukan sekadar promosi destinasi, melainkan ajakan halus untuk melihat bahwa wisata halal dan pendidikan di Korea bisa berakar pada kota-kota yang selama ini jarang muncul di layar drama.

Festival Oullim Korea di Surabaya: Gerbang ke Jinju dan Wisata Halal

Oullim sebagai Model Pertukaran Budaya dan Wisata Halal Masa Depan

Melihat dua hari rangkaian acara, Festival Oullim Korea di Surabaya layak dibaca sebagai prototipe pertukaran budaya yang lebih dewasa. Di satu sisi, ia tidak menolak kekuatan K-pop dance cover dan figur idola sebagai magnet massa. Di sisi lain, ia berani mengarahkan perhatian ke topik yang lebih berjangka panjang: sister province antara Gyeongnam dan Jawa Timur, kota kreatif UNESCO seperti Jinju, serta peluang studi dan wisata di luar pusat-pusat yang sudah mapan.

Kesimpulannya, Oullim membuktikan bahwa festival budaya Korea bisa lebih dari sekadar pesta fandom. Ketika stan permainan tradisional berdampingan dengan booth informasi studi, dan cerita lentera apung Jinju mengalun di tengah kerumunan penggemar K-pop, kita melihat bentuk baru diplomasi budaya yang konkret. Jika model ini diteruskan, wisata halal dan jalur studi ke kota-kota seperti Jinju berpeluang tumbuh bukan lewat brosur dingin, tetapi lewat pengalaman hangat yang menyentuh rasa, tawa, dan imajinasi generasi muda.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!