55 Jam Membuat Kue Batik Raksasa 12 Meter: Di Balik Rekor MURI

55 Jam Membuat Kue Batik Raksasa 12 Meter: Di Balik Rekor MURI
Minat|Memasak

Dari Dapur Rumah ke Rekor MURI: Apa Itu Proyek Kue Batik 12 Meter?

Proyek kue batik raksasa 12 meter adalah sebuah tantangan memasak ekstrem yang memadukan teknik membuat bolu dan brownies dalam skala masif, dekorasi motif batik Nusantara yang detail, serta eksekusi maraton selama 55 jam untuk meraih rekor MURI masakan melalui karya kuliner yang sekaligus menjadi simbol perayaan kemerdekaan dan penghormatan terhadap budaya batik. Di balik layar, keputusan Tasyi Athasyia untuk membuat kue batik 12 meter bukan sekadar aksi sensasional. Ini adalah pernyataan bahwa dapur rumah bisa menjadi panggung prestasi publik. Dengan 12 loyang masing-masing satu meter yang disusun menjadi kue batik raksasa, ia sengaja melampaui batas ukuran normal kue dan menjadikannya monumen manis untuk merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia. Langkah ini berani, melelahkan, mahal, tetapi menegaskan satu hal: memasak bisa menjadi karya monumental, bukan aktivitas domestik belaka.

55 Jam Membuat Kue Batik Raksasa 12 Meter: Di Balik Rekor MURI

Arsitektur Kue: Brownies Fudgy sebagai Pondasi, Bolu Batik sebagai Kanvas

Keberhasilan kue batik raksasa ini bertumpu pada arsitektur kue yang dirancang seperti proyek konstruksi: kokoh dulu, cantik kemudian. Tasyi memulai dengan basis brownies kukus bertekstur fudgy dalam 12 loyang sepanjang satu meter yang kemudian dibekukan agar stabil saat disusun dan dilapisi. Pilihan brownies bukan soal selera saja, melainkan soal logika struktur—lebih padat, lebih tahan banting untuk menopang bolu dekoratif di atasnya. Di atas pondasi ini, ia menciptakan lapisan bolu warna-warni yang menjadi “kanvas” motif batik. Adonan bolu dibungkus plastic wrap agar bisa digambar, diarahkan, dan disusun mengikuti pola yang sudah ia rancang sebelumnya. Kue batik 12 meter ini pada dasarnya adalah kombinasi cerdas antara sains baking (tekstur, ketahanan, layering) dan seni menghias kue. Tanpa fondasi yang direncanakan sedetail ini, rekor MURI masakan itu hanya akan tinggal ide cantik di atas kertas.

Melukis Batik dengan Adonan: Teknik Dekorasi yang Menuntut Ketahanan

Bagian paling mengesankan dari kue batik raksasa ini bukan ukurannya, tetapi keberanian untuk melukis motif batik kompleks memakai adonan bolu. Motif yang dipilih Tasyi bukan motif “aman”, melainkan motif klasik seperti batik buketan asal Pekalongan, tumpal pucuk rebung Betawi, ulos Batak, parang Solo, Kawung dari Jogja, hingga megamendung Jawa Barat. Motif batik khas Nusantara tersebut dilukis langsung dengan tangan di atas adonan, loyang demi loyang, selama lebih dari 55 jam. Ini bukan dekorasi standar piping buttercream; ini mengharuskan kontrol warna, konsistensi adonan, dan presisi bentuk agar motif tetap terbaca walau ukurannya masif. Di titik ini, tantangan memasak ekstrem terasa: tubuh lelah, konsentrasi menurun, namun setiap garis dan lengkung motif menuntut ketelitian. Kue batik 12 meter itu pada akhirnya menjadi galeri batik yang bisa dimakan, hasil kompromi rumit antara estetika dan kepraktisan baking.

55 Jam Maraton: Biaya, Tim, dan Mentalitas ‘Megalodon’

Pembuatan kue batik raksasa ini adalah maraton kuliner: lebih dari 55 jam kerja, modal sekitar Rp35 juta, dan koordinasi tim untuk mengeksekusi ide satu orang. Menurut unggahan Tasyi, proyek ini menghabiskan 12 loyang brownies, 12 loyang bolu batik, plus tambahan tiramisu crunch dan selai cokelat sebelum semua potongan disusun di loyang empat meter dan dirangkai memanjang hingga sekitar 12 meter. Di sini tampak sisi gelap tantangan memasak ekstrem: kelelahan, risiko gagal tekstur atau motif di tengah jalan, dan fakta bahwa satu kesalahan besar bisa merusak keseluruhan komposisi. Namun sikap “Queen of Home Cooking” yang gemar membuat makanan berukuran ‘megalodon’ muncul lagi—ia seolah menolak batas skala dapur rumah. Rekor MURI masakan yang didapat bukan hadiah kebetulan, melainkan konsekuensi dari keberanian mengambil risiko dan kesiapan menanggung ongkos tenaga, waktu, dan dana.

Lebih dari Sekadar Kue: Makna Budaya dan Inspirasi untuk Ibu Rumah Tangga

Yang membuat proyek ini layak dibicarakan bukan hanya piagam MURI, tetapi pesan yang ia bawa. Kue batik raksasa ini dibuat sebagai persembahan yang mengingatkan banyak orang pada keindahan budaya batik dan momentum HUT ke-81 Republik Indonesia. Tulisan “Dirgahayu 81 Indonesia” di atas kue menjadikannya bukan sekadar dessert, melainkan simbol perayaan. Lebih jauh, Tasyi mendedikasikan pencapaian ini kepada para ibu rumah tangga sebagai bukti bahwa berkarya dari rumah tetap bisa melahirkan prestasi. Dengan dua rekor di tahun yang sama—kue batik terbesar dan lukisan cokelat putih terbesar yang sempat diverifikasi Guinness World Records—ia menunjukkan bahwa konten kuliner bisa berkembang menjadi proyek berskala besar yang memadukan kreativitas, budaya, dan ketekunan. Kesimpulannya, kue batik 12 meter ini adalah ajakan: jadikan dapur sebagai ruang ekspresi serius. Tantangan memasak ekstrem bukan monopoli chef restoran; dari rumah pun, rekor MURI masakan bisa tercapai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!