Kue Batik Raksasa 12 Meter: Bukan Sekadar Rekor, Tapi Pernyataan
Kue batik raksasa sepanjang sekitar 12 meter yang dibuat food vlogger Indonesia Tasyi Athasyia adalah proyek kuliner berskala besar yang memadukan keahlian membuat kue besar, stamina 55 jam kerja tanpa henti, dan tekad meraih rekor MURI masakan sekaligus merayakan HUT RI dengan cara kreatif dan sarat pesan budaya.
Dari awal, proyek ini terasa seperti pernyataan lantang: dapur rumahan mampu melahirkan karya kelas dunia. Tasyi, yang dikenal sebagai Queen Of Home Cooking dan sering membuat makanan ‘megalodon’, memutuskan mengangkat batik sebagai motif utama kue bolunya. Ia bukan hanya mengejar sensasi kue batik raksasa, tetapi mengubahnya menjadi simbol kebanggaan atas ragam motif Nusantara. Di tengah perayaan HUT ke-81, kue sepanjang kurang lebih 12 meter itu resmi diakui sebagai rekor MURI, bahkan diklaim sebagai rekor dunia kue terbesar bermotif batik.
55 Jam, 12 Loyang, Rp 35 Juta: Logistik Sebuah Rekor
Rekor ini tidak lahir dari spontanitas; ia disusun rapi dari angka-angka konkret: 55 jam, 12 loyang, dan modal sekitar Rp 35 juta. Tasyi mengerjakan kue tersebut dalam rangka merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia, membentangkan kue bolu bermotif batik hingga sekitar 12 meter yang disusun dari 12 loyang, masing-masing sepanjang kurang lebih satu meter.
Basis kue batik raksasa ini adalah brownies kukus fudgy dalam 12 loyang berukuran 1 meter yang kemudian dimasukkan ke freezer untuk menjaga struktur sebelum proses dekorasi batik dimulai. Di hari kedua, ia berfokus pada adonan bolu batik, kembali menyiapkan 12 loyang, membaginya sesuai warna, lalu membungkusnya dengan plastik untuk membentuk motif. Secara logistik, ini bukan sekadar membuat kue besar; ini operasi skala kecil yang menuntut disiplin produksi dan koordinasi tim yang matang. Biaya Rp 35 juta menjadi bukti bahwa kreativitas kadang perlu dibayar mahal demi mencapai standar rekor dunia.
Teknik Motif Batik: Saat Dapur Menjadi Kanvas Budaya
Nilai paling penting dari proyek ini ada pada cara Tasyi memperlakukan bolu sebagai kanvas batik. Ia tidak sekadar menggambar pola acak; setiap motif punya asal-usul dan makna. Motif pertama yang ia buat adalah batik buketan atau floral asal Pekalongan, yang ia sebut sebagai salah satu motif favoritnya karena menghadirkan keindahan bunga di atas kue. Dari sini, terlihat jelas bahwa rekor MURI masakan ini berangkat dari rasa hormat pada tradisi, bukan sekadar obsesi angka.
Setelah menyelesaikan empat loyang, ia beralih ke batik tumpal pucuk rebung asal Betawi dengan motif segitiga runcing yang menyerupai tunas bambu. Lalu hadir motif ulos dari daerah Batak, disusul motif parang asal Solo yang ia sebut sebagai salah satu motif tertua, dan batik Kawung asal Jogjakarta. Di hari ketiga, ia menambah motif megamendung dari Jawa Barat. Semua motif ini dilukis langsung dengan tangan di atas adonan bolu, menunjukkan tingkat ketelitian dan kesabaran ekstrem yang jarang terlihat dalam karya food vlogger Indonesia pada umumnya.
Lapisan, Kukusan, dan Kekuatan Fisik: Stamina di Balik Dekorasi
Banyak orang mengira tantangan terbesar membuat kue batik raksasa ada pada dekorasi, padahal urutannya jauh lebih kompleks. Setelah pola batik selesai, Tasyi melapisi adonan batik dengan adonan brownies lalu mengukusnya kembali. Tahap ini memastikan motif batik menyatu dengan base cake, tidak sekadar menempel di permukaan. Terakhir, brownies kukus diolah lagi dengan tiramisu crunch dan selai cokelat sebelum adonan bolu batik diletakkan di atasnya.
Puncak proses ini adalah penyusunan di loyang empat meter, di mana potongan kue bolu batik ditata satu per satu sesuai motif. Hasilnya adalah kue batik berukuran 12 meter yang bukan hanya terbesar di Indonesia, tetapi juga di dunia. Menghabiskan lebih dari 55 jam untuk menyelesaikan dekorasi dan pengukusan berulang-ulang adalah bukti bahwa stamina fisik dan mental menjadi bagian tak terpisahkan dari kreativitas kuliner. Ini adalah demonstrasi ekstrem bahwa membuat kue besar memerlukan kombinasi antara ketahanan tubuh, fokus detail, dan kemampuan manajemen waktu.
Dari Rekor MURI ke 1.200 Potong Kue: Pesan untuk Ibu-Ibu di Rumah
Setelah tim MURI datang mengukur dan memverifikasi bahwa kue batik 12 meter itu melampaui rekor sebelumnya, piagam dan medali resmi pun diserahkan. Tasyi menyebut ini sebagai verifikasi kedua yang ia terima tahun ini, menegaskan bahwa rekor MURI masakan bisa lahir dari dapur personal, bukan hanya hotel atau restoran besar. Kalimatnya yang patut dikutip adalah, “Ini untuk semua ibu-ibu yang ada di rumah, untuk Indonesia, we can do it.”
Yang menarik, kue batik raksasa ini tidak berhenti sebagai pajangan rekor. Setelah diukur dan dinyatakan sah, kue itu dipotong menjadi lebih dari 1.200 potong dan dibagikan kepada sesama. Ini mengubah sebuah karya monumental menjadi pengalaman berbagi yang hangat. Kue batik raksasa ini bukan sekadar wujud perayaan; ia menjadi persembahan yang mengingatkan banyak orang akan keindahan budaya batik dan kekuatan dapur rumahan yang digerakkan cinta serta ketekunan. Pada akhirnya, pesan terbesar dari proyek 55 jam ini adalah: kreativitas kuliner bisa menjadi cara merayakan kemerdekaan, sekaligus mengukir sejarah.






