Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dua Lipa Menjadikan Festival Sastra Panggung Gaya

Dua Lipa Menjadikan Festival Sastra Panggung Gaya
Minat|Pertunjukan Busana

Kurator sastra dengan gaya yang terarah

Gaya Dua Lipa di London Literature Festival adalah rangkaian pilihan busana yang menyatukan kemeriahan mode dengan perannya sebagai pemandu percakapan sastra. Sebagai kurator tamu melalui Service95 Book Club, ia tampil di panggung bukan hanya untuk membahas buku, tetapi juga membawa sentuhan personal lewat busana dari Chanel, Prada, dan Schiaparelli. Pendekatan ini terasa pas: penampilannya menarik perhatian tanpa mengalihkan sorotan dari para penulis dan seniman yang ia ajak berbincang. Festival berlangsung di Royal Festival Hall, dan Dua Lipa memandu percakapan bersama sejumlah nama besar dalam dunia sastra dan budaya. Bagi seorang pencinta buku yang membangun klub baca untuk mendorong pembaca melihat dunia dari sudut pandang berbeda, pilihan busana ini terasa seperti bagian dari kurasi—penuh karakter, tetapi tetap punya konteks.

Pada Sabtu, 24 Oktober, ia berbincang dengan novelis Zadie Smith dan seniman Sudan-Kanada Mustafa. Rangkaian itu berlanjut pada Minggu dengan percakapan bersama Patti Smith; London Literature Festival berlangsung hingga 1 November di Southbank Centre.

Merah Chanel dan detail Prada

Untuk sesi bersama Zadie Smith, Dua Lipa memilih setelan merah dari koleksi musim gugur 2026 Chanel rancangan Matthieu Blazy. Atasan lengan panjang dengan aksen bulu dan rok midi senada menghadirkan siluet yang tegas sekaligus hangat. Namun, detail yang paling kuat justru hadir di bagian bawah: sepatu bot kulit hitam setinggi lutut dari Le Silla, bertali dan berhak stiletto 12 sentimeter. Kontras merah dan hitam membuat penampilan ini terasa berani tanpa perlu tambahan berlebihan. Ini contoh gaya Prada Chanel yang berbeda dari tampilan karpet merah biasa: rapi, punya tekstur, dan tetap nyaman dibaca sebagai busana untuk sebuah acara percakapan.

Untuk berbincang dengan Mustafa, ia beralih ke Prada dari koleksi musim gugur 2026. Camisole dan rok pensil berbahan Re-Nylon membentuk dasar yang sederhana, lalu kaus kaki hitam setinggi lutut dengan bordir bunga putih memberi sentuhan tak terduga. Sepatu hak rendah putih beraksen bulu dan bertali menjadi pusat perhatian. Pergantian dari sepatu bot bertumit tinggi ke alas kaki yang lebih rendah menunjukkan bahwa sepatu Dua Lipa bukan pelengkap belaka: pilihan bentuk, tekstur, dan warna ikut menentukan suasana tiap tampilan.

Schiaparelli menutup rangkaian dengan kesan kuat

Untuk percakapan penutup bersama Patti Smith pada Minggu, Dua Lipa memilih busana Schiaparelli yang paling dramatis dalam rangkaian ini. Atasan transparan berhias manik dari koleksi siap pakai musim semi/panas 2027 dipadukan dengan bra hitam dan celana hitam berpotongan lebar yang jatuh ringan. Ikat pinggang kulit hitam dengan gesper emas bergaya patung menambahkan aksen artistik yang khas. Busana Schiaparelli ini menarik perhatian tanpa mengandalkan siluet yang rumit; permainan transparansi, kilau, dan volume sudah cukup memberi pernyataan.

Sepatu pumps kulit hitam mengilap dengan tali, dari koleksi siap pakai musim gugur/dingin 2026 Schiaparelli, menyempurnakan tampilan. Detail alas kaki itu menjaga kesinambungan dengan aksesori lain, tetapi tetap memberi kontras lewat permukaan yang licin dan berkilau. Sepanjang festival, sepatu bot, kaus kaki bermotif, sepatu hak rendah berbulu, dan pumps bertali membuktikan bahwa gaya Dua Lipa dibangun melalui detail, bukan label semata.

Mode sebagai bagian dari cerita

Pilihan Chanel, Prada, dan Schiaparelli berhasil memberi tiap sesi identitas visual tanpa membuat festival terasa seperti peragaan busana yang terpisah dari isinya. Warna merah Chanel cocok untuk percakapan yang bersemangat, Prada menghadirkan permainan tekstur yang lebih ringan, sementara Schiaparelli memberi penutup yang berani untuk pertemuan dengan Patti Smith. Yang menyatukan semuanya ialah perhatian pada alas kaki dan aksesori: sepatu Dua Lipa menjadi elemen yang menentukan ritme tiap penampilan. Ia menunjukkan bahwa busana untuk acara sastra tak harus menghilang di balik suasana formal. Dengan pilihan yang terukur, gaya dapat menyertai percakapan dan memperkuat kehadiran seseorang di panggung.

Kesimpulannya, rangkaian ini paling berhasil saat pakaian dan sepatu bekerja sebagai satu kesatuan. Dua Lipa menjadikan panggung festival ruang ekspresi personal, tetapi tetap menjaga fokus pada para tokoh dan gagasan yang dibicarakan. Itulah alasan penampilannya terasa lebih dari sekadar deretan busana desainer: setiap detail mendukung cerita akhir pekan sastra tersebut.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!